06 August 2019

Mati Lampu dan Bapak Gendut

ilustrasi
Ilustrasi
Waktu masih kecil, saya suka membayangkan di PLN itu ada seorang bapak gendut berkacamata kuning. Dia duduk di mejanya yang berwarna putih sambil membaca koran. Ketika hujan dan petir melanda, bapak gendut ini bangkit dari kursinya. Dia berjalan ke arah saklar listrik berwarna hitam. Warna yang kontras dengan panel-panel kontrol listrik yang berwarna biru telur asin dan dihiasi lampu berkelap-kelip. Lalu dia menurunkan saklar itu dan matilah listrik di semua rumah.

Bapak gendut ini kemudian kembali ke mejanya. Dia kembali membaca koran karena ditempatnya cahaya tetap terang. Ruangan kerjanya diterangi banyak lampu neon, dan tidak pernah sekalipun lampu-lampu itu mati.

Bapak gendut tak peduli dengan kesedihan anak-anak yang rumahnya menjadi gelap, yang tidak bisa menonton televisi karena listriknya dipadamkan. Bapak gendut tetap sibuk membaca koran dengan serius. Sementara, dirumah-rumah anak-anak kecil bersedih.

Ketika hujan mulai mereda dan petir tidak menyambar lagi, anak-anak berharap listrik dirumah mereka bisa segera hidup kembali. Namun, bapak gendut itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia hanya sibuk membaca koran.

Setelah lama waktu berlalu, barulah bapak gendut itu berdiri dari kursinya. Sambil terus memegang koran, dia berjalan ke arah saklar listrik.

Dia bergerak sangat lamban dan beberapa kali berhenti untuk membaca korannya. Dia tidak pernah merasakan didalam rumah-rumah banyak anak bersedih. Berharap lampu bisa segera menyala. Berharap acara film kartun yang sejak lama ditungu tidak keburu habis.

Bapak gendut itu kini telah sampai di depan saklar, matanya tetap menatap koran yang dipegangnya. Tangannya bergerak lamban menyentuh tuas saklar. Setelah tangannya menyentuh saklar, bapak gendut tidak segera menaikannya agar listrik segera menyala. Dia membiarkan tangannya memegang saklar tanpa bergerak. Seolah berat hatinya untuk menghidupkan kembali listrik dirumah-rumah. Dia tidak peduli dengan kesedihan anak-anak. Dia hanya sibuk dengan korannya. Sesekali matanya melihat ke sekitar, namun selalu kembali menatap korannya.

Setelah lama berdiri dan memegang saklar, bapak gendut kemudian menaikan saklar, lalu berjalan cepat tergesa menuju meja putihnya. Dia kembali sibuk dengan korannya, di meja kerjanya yang berwarna putih dan diterangi lampu neon.

Listrik kembali menyala, anak-anak menjadi senang dan semua melupakan kekesalannya kepada bapak gendut.

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik. (Isi komentar diluar tanggung jawab kami).