10 April 2021

Saham Bagger Pertama Saya

Yuk Nabung Saham
Dalam dunia saham dikenal istilah saham bagger atau juga saham multibagger. Maksud dari bagger itu sendiri adalah saham yang memberikan return 100%. Tenbagger adalah saham yang memberikan return 10x lipat alias 1000%. Two bagger berarti 2x lipat, multibagger artinya berlipat-lipat, bisa 2x, 3x, 5x, 20x,  dan seterusnya.

Orang-orang yang senang memburu saham-saham bagger ini sering di sebut bagger hunter. Saya sendiri sih bukan termasuk bagger hunter, dan kalaupun saya bisa mendapatkan return sampai 100% di salah satu saham koleksi saya, ya itu karena memang rejeki yang dianugerahkan kepada saya, jadi saya harus syukuri "ketidak sengajaan" ini. 😁

Berkut ini screen shoot portfolio saya:

Portfolio Saham
Portfolio Saham

07 April 2021

Kota Depok Sejahterakan Tenaga Honornya

Gedung Baleka
Gedung Baleka
(Gambar: RadarDepok.com)
Saat ini saya bekerja di sebuah Sekolah Dasar Negeri dibawah Dinas Pendidikan Kota Depok sebagai Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) non ASN. Saya bekerja sudah lebih dari 16 tahun tanpa terputus dan telah mengalami 5 kali pergantian Kepala Sekolah. Pekerjaan saya lebih tepatnya sebagai Operator Sekolah, meskipun waktu pertama kali diangkat sebagai guru bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi yang sekarang sudah tidak diajarkan lagi di sekolah.

Beberapa hari yang lalu, ada pertemuan antara Tenaga Pendidik dan Kependidikan (TPK) non ASN Kota Depok dengan Dinas Pendidikan Kota Depok yang diwakili oleh Bpk. Wawang dan Bpk. Bahrun, dimana dalam pertemuan tersebut Dinas Pendidikan Kota Depok mensosialisasikan tentang program kesejahteraan untuk para TPK non ASN di lingkungan kerjanya. Dalam hal ini diantaranya adalah penyesuaian honor, yang mana dalam beberapa tahun terakhir, honor TPK non ASN telah langsung dibayarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Depok ke rekening masing-masing TPK dengan menggunakan dana APBD. Besar honornya pun lebih manusiawi. Mengapa saya katakan demikian? Karena kita sering mendengan TPK honorer di daerah lain yang kesejahterannya jauh dari kata manusiawi. Misalnya saja, masih ada TPK honorer yang dibayar dengan hanya berapa ratus ribu dan  membayarnya pun di saat dana Bantuan Operasional Sekolan (BOS) sudah cair, alias tiap 4 bulan sekali. Padahal TPK tersebut sudah bekerja belasan tahun dengan tingkat pendidikan sarjana pula.

18 November 2020

Tanaman Hias Booming: Dari Hobi, Rekreasi, Ke Investasi

Janda Bolong
Janda Bolong
(Sumber: Lazada)
Sedang viral tanaman hias Janda Bolong yang harganya kadang bikin geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak bikin geleng-geleng kepala, jandanya aja, dan udah bolong pula harganya selangit, apalagi perawan rapet nya? Hehe #JustKidding 😂

Ada yang bilang, hobi tanaman hias bisa dijadikan investasi. Karena tadi ada yang cerita di televisi nasional bahwa dia membeli tanaman hias seharga 150 ribu rupiah pada tahun 2017. Sekarang di tahun 2020 harganya konon sudah mencapai 1,5 juta alias cuan 10 kali lipat. Apa iya bisa disebut investasi? Ya mungkin tergantung kondisi dan keadaannya. Namun bagi saya pribadi jikapun ingin disebut investasi, lebih ke investasi yang sangat beresiko. Karena apa? Karena kita tidak bisa menganalisis pergerakan harga tanaman hias secara teknikal. Secara fundamental pun tidak bisa kita ukur. Semua subjektif atas penilaian dari penjual dan pembeli itu sendiri. 

Namun kalau dilihat dari sisi lain, hobi tanaman hias ini sebenarnya bukanlah sekedar “investasi,” namun lebih kepada rekreasi. Mengapa demikian? Saat pendemi Covid19 sedang terjadi di Indonesia, banyak tempat wisata untuk berekreasi ditutup. Bahkan kegiatan masyarakat pun dibatasi. Tapi keinginan manusia untuk berekreasi tidak bisa dibatasi, sehingga manusia mencari cara untuk menciptakan rekreasinya sendiri dengan kondisi yang serba terbatas itu.

06 Oktober 2020

Obat Sakit Kepala Alami

Sakit Kepala
Ilustrasi: hot.liputan6.com
Saya termasuk orang yang dulu sering sakit kepala. Salah dikit aja, kepala langsung cenat-cenut sampai sering tak tertahankan. Kemana-mana saya selalu membawa obat Bodrex Migra, karena hanya obat tersebut yang bisa segera menghilangkan rasa sakit kepala saya. Boleh dibilang saya menjadi ketergantungan dengannya.

Di saat bulan Ramadhan misalnya, setelah sahur saya selalu takut jika ditengah-tengah berpuasa kepala saya tiba-tiba sakit. Pasti rasanya tersiksa jika tidak segera diminumkan obat tadi. Makanya, kadang saya suka nekat, minum obat tersebut saat sahur meskipun tidak sedang merasakan sakit kepala, harapannya biar sepanjang siang dalam kondisi berpuasa saya tidak terserang sakit kepala. Ini tentu kebiasaan yang sangat bodoh dan berbahaya.

Tapi mau bagaimana lagi, daripada aktivitas terganggu karena tersiksa dengan sakit kepala, ya mau tidak mau harus segera di cut. Saya kemudian membaca beberapa artikel yang memaparkan bahwa jika sering sakit kepala, artinya adayang salah dengan tubuh kita. Sakit kepala hanya salah satu warning dari tubuh untuk meminta perhatian. Ya memang kebiasaan saya tidur larut malam membuat tekanan darah saya tinggi, namun tekanan darah yang tinggi tersebut kadang justru tidak menyebabkan saya sakit kepala.

25 Januari 2020

Katanya Ini Biang Kerok Munculnya Tenaga Honorer

ilustrasi
Pemerintah melalui Menpan RB dan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) sepakat dengan Komisi II DPR untuk menghapus tenaga honorer dari seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah. Kesepakatan itu sebagai mandat dari UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Jadi kedepannya pegawai pemerintah itu hanya ada 2 yaitu ASN Pegawai Negri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Kabiro Humas BKN mengungkapkan penyebab banyak tenaga honorer di instansi pemerintah pusat dan daerah karena Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) tidak melaksanakan aturan larangan yang sudah terbit. Banyak PPK yang melanggar dengan berasumsi kekurangan SDM. Apakah benar kekurangan SDM atau ini hanya alasan pemerintah pusat saja dalam hal ini Menpan RB dan BKN untuk “berlepas” tangan dari permasalahan honorer ini? Apalagi ada yang mengatakan pengangkatan honorer sering kali terjadi karena kedekatan dengan pejabat PPK (nepotisme). Memang ada yang demikian, namun tidak semua seperti itu. Saya termasuk yang tidak nepotisme.