Di hari jadinya yang ke-66, guru Indonesia tetap konsisten memperjuangkan profesinya agar dapat dianggap setara dengan profesi-profesi lainnya. Sedikit hiburan yang selalu diceritakan para pembicara pada acara-acara HUT guru adalah kisah dari negara yang notabene pernah menjajah kita, yaitu Jepang pasca kedua kotanya Nagasaki dan Hiroshima di bom atom, saat itu hal yang paling pertama ditanyakan kaisar adalah "berapa jumlah guru yang masih hidup?."Mengapa ketika kisah itu diceritakan disetiap acara HUT guru, hati ini merasa bangga, padahal yang bertanya tentang guru dalam kisah itu bukanlah pemimpin kita, melainkan kaisar, pemimpin Jepang. Memang di Jepang, profesi guru sangat berhasil menjadi sebuah profesi yang sangat dihargai dan bisa mensejahterakan manusianya. Saya pernah temui seorang guru honor yang beralih profesi menjadi satpam dan meninggalkan pekerjaan mengajarnya. Setelah saya tanya, dia mengatakan sangat tidak cukup penghasilannya sebagai seorang guru untuk menghidupi anak istrinya. Dan setelah menjadi satpam, dia merasa lebih tercukupi kebutuhan rumah tangganya. Kejadiannya sekitar tahun 2003, dimana gaji satpam saat itu sudah mencapai 1 - 1,5 jutaan, sedangkan sebagai guru honor dia hanya dibayar 150 ribuan. Miris memang, sebuah pekerjaan mulia berharga murah yang dipaksakan menjadi sebuah profesi, begitukah kira-kira?! Seorang guru bisa merasa lega ketika dia berhasil diangkat menjadi PNS, setidaknya ketika itu, gaji kecil namun punya pensiun setelah mengabdi puluhan tahun, hidup sederhana dengan gaji sehari untuk hidup sebulan, cuma berharap pensiun dimasa tua. Mungkin itulah yang dikejar, PNS bukan gurunya. Jadi profesinya apa? PNS atau guru? Saat saya sudah menjadi guru selama 6 tahun lebih, setiap bertemu orang, mereka selalu bertanya, kerja dimana? Saya jawab, saya mengajar. Oh, sudah diangkat PNS belum? Secara tidak langsung orang-orang yang bertanya seperti itu menganggap PNS lah profesi, bukan guru nya. Karena apa? Karena kesejahteraan didapat bukan dari pekerjaan sebagai guru, melainkan sebagai PNS, atau setidaknya kalau di swasta guru tetap yayasan, yang gajinya melimpah, dapat tunjangan kesehatan, tunjangan hari tua dan tunjangan lainnya untuk kesejahteraan. Bagaimana dengan guru honor pada sekolah pemerintah? Jangan terlalu banyak berharaplah. Seorang teman yang menjadi guru di sebuah sekolah negeri mengatakan, kita bekerja kan seperti diujung tanduk, mending kita diam ajalah, gak usah ribut ini-itu, yang penting kerja yang baik. Oke saya setuju, memang mau bagaimana lagi, bersiap saja tertulis di batu nisan:
Di sini berbaring seorang guru
Semampu membaca buku usang
Sambil belajar menahan lapar
Hidup sebulan dengan gaji sehari
Bagaimana dengan peranan organisasi guru terbesar, PGRI? Sepertinya organisasi ini lebih sibuk menarik iuran saja sehingga kiprahnya kurang dirasakan langsung oleh guru. Ini yang saya dapat simpulkan ketika berdiskusi dikampus saat kuliah Sejarah Perjuangan dan Jati Diri PGRI. Oke hal itu tidak perlu diperdebatkan, karena itu diskusi bersifat ilmiah untuk menuntaskan mata kuliah tersebut yang pesertanya guru-guru juga, semoga pendapat itu salah.
|