Sudah lama gak posting dan menyapa anda semua, dan selama berlalu itu ada banyak kejadian yang kayaknya perlu dituliskan disini.Pertama mengenai sewa hosting blog ini yang akan habis tanggal 24 September dan belum saya bayar. Kalau sampai telat, hilanglah blog ini dari peredaran di dunia maya :) <sekarang tapi udah !>
Kenapa sih kok gak pake yang gratisan kaya blogspot atau wordpress? Iya juga ya, tapi saya lebih suka pakai yang berbayar, lagian juga gak mahal-malah amat. Selain lebih custom, tentu saja ada support yang selalu bisa saya salahkan ketika web ini gak tampil . Ngomongin masalah tawuran antara pelajar dan wartawan, emang susah ya yang namanya tawuran dipisahkan dari pelajar. Mulai dari SD, SMP, SMA bahkan sampai mahasiswa juga pada tawuran. Anak SD baru belajar tawuran, anak SMP mulai hobby tawuran, anak SMA jadi maniak tawuran. Nah kalau mahasiswa karena sudah lebih pinter mungkin tawuran merupakan ideologi bagi mereka. Sepertinya memang sulit untuk memisahkan budaya tawuran dengan para pelajar kita. Kok cuma pelajar saja yang dibahas? Kan ada juga warga atau masyarakat adat yang memang mereka tidak terpelajar tawuran? Justru itu, kalau orang tidak terpelajar tawuran, masih wajar. Tapi kalau orang terpelajar tawuran, ini yang sangat tidak wajar. Perlu sanksi tegas bagi para pelajar yang tawuran, misalnya pecat dari sekolah. Kalau sekolahnya gak mampu, pecat tenaga pendidiknya, ganti dengan yang mampu tegas terhadap anak didik, toh ini semua demi kebaikan mereka juga. Satu lagi mengenai maraknya kasus pemerkosaan diangkot, gubernur Jakarta mengatakan yang intinya "jangan pake rok mini kalau naik angkutan umum." Pernyataan yang lugas namun menurut saya tepat langsung disambut demo ibu-ibu dengan rok mini bahkan ada anak 8 tahun dipakaikan rok mini juga ikut berdemo bersama mama nya. Mau diapain tuh bu anaknya? Mau dikobanin ke pedofil? Ibu mah kemana-mana naik mobil pribadi, mau telanjang didalam mobil juga aman. Nah wanita-wanita lainnya bagaimana? Meskipun dia tidak memakai rok mini, tapi gara-gara penjahat horny lihat ibu demo, akhirnya yang kena yang berpakaian sopan juga. Begitu juga tayangan TV, bikin laki-laki "puyenk", anak tetangga mau ngaji pake jilbab yang malah jadi sasaran. Untuk kali ini saya setuju dengan Bang Foke, pemimpin itu harus punya pemikiran simpel dan lugas, jangan normatif melulu seperti papa SBY. Capek kita dengerin pemimpin yang normatif. Harus to the point ! Kalau negara ini tidak bisa maksimal melindungi kita, maka kita yang harus bisa setidaknya mengurangi resiko terhadap diri kita. Coba bu Ratna Sarumpaet naik angkot jam 1 malam pake rok mini, dikawal polisi pula, salah-salah oknum polisinya yang malah memperkosa ibu. Ingatkan kasus pemerkosaan yang dilakukan oknum polisi terhadap gadis abg pacar pengedar narkoba yang katanya mau diantar pulang setelah pemeriksaan malah dibawa ke hotel. Jadi bu Ratna, jangan memperkeruh keadaan. Wanita harus jaga dirinya sendiri, caranya berbusana yang tidak menggoda, minta diantar saudara laki-laki atau ortunya, nah dilain pihak pemerintah terus memperbaiki tingkat keamanan juga. Nah kan nanti ketemu ditengah bu. Sekali lagi biarpun katanya bang Foke ngomongnya sambil cengengesan, tapi apa yang dikatakannya benar, setidaknya menurut saya yang seorang guru. Kalau anda tidak mau kemalingan, kunci pintu rapat-rapat, pasang alat keamanan dan selalu waspada. Jangan rumah diablakin, gak dikasih pintu pas kemalingan nyalahin polisi. Sebagai orang tua, apalagi ibu-ibu harusnya lebih mawas diri, demo pake rok mini apakah pantas bersama anaknya lagi. Nanti ada pemerkosaan masal nyalahin pemerintah lagi... Capek dech ! Makasih ya sudah mau nemenin ngobrol malam ini :)
|