Puting beliung melanda partai Demokrat, partai yang kalau diibaratkan seperti anak kecil bertubuh bongsor ini ternyata begitu rapuhnya tatkala puting beliung yang tak kunjung berakhir memporakporandakan kader partainya.Hampir seluruh kader elitnya seperti berlomba-lomba untuk berbicara dimedia. Bahkan tak jarang bicaranya saling kontradiktif, yang ini bilang A, yang itu bilang B sampai-sampai ujung-ujungnya sesama kader elit saling serang sendiri, seperti ketika di acara Jakarta Lawyer Club. Partai ini memang terlalu hijau untuk menjadi partai yang terbesar, selain memang usia yang baru 2 periode pemilu ditambah para elitnya yang seperti anak-anak, menambah buruknya keadaan partai ini. Diawali dengan kasus Century yang diduga ada keterlibatan petinggi Demokrat, lalu berturut-turut kasus suap sesmenpora pada proyek wisma atlet, kasus di Mendiknas, kasus mafia pemilu Andi Nurpati, lalu larinya sang bendahara umum Nazaruddin ke luar negeri yang seperti sudah di rekayasa, dan terakhir kasus pribadinya Ketua Divisi Kominfo Ruhut Sitompul dengan masalah keluarga yang setidaknya turut menambah beban partai ini.
Disinilah terlihat bagaimana partai Demokrat ternyata bukanlah partai
yang kokoh, wajarlah, kader-kader Demokrat itu sepertinya memang tidak
memiliki tujuan yang sama dalam berpolitik. Paling-paling tujuan yang
samanya kebanyakan adalah sama-sama cari muka di depan dewan pembina
sekaligus pendiri partai Demokrat, SBY. Ketika sudah terdesak
dengan kicauan burung Nazar, mulailah mereka menuduh ada seorang
politisi senior berinisial Mr. A. Lalu dalam berbagai kesempatan, sering
para elit Demokrat menyama-nyamakan bahwa partai lain juga memiliki
masalah. Terakhir, mediapun terkena tuduhan sebagai "tukang kompor".
Ibarat buruk rupa, cermin dibelah, itulah ulah elit partai Demokrat. Teringat
dengan beberapa kasus yang juga menimpa partai koalisi "kritis"
pemerintah, PKS. Dimana PKS pun sempat terkena kasus beruntun. Diawali
LC bodong Misbhakun, serangan Yusuf Supendi yang juga mantan kader PKS
dan kasus sidang pariporno Arifinto. Namun, PKS begitu profesional
menghadapi kasus-kasus ini. Kader PKS gak sampai berlomba untuk bicara
di media apalagi sampai berantem sendiri. Tidak menyalahkan partai lain,
tidak menyerang media dan tetap bersikap tenang sampai kasusnya
terselesaikan secara baik. Saya ingin mengatakan bahwa partai
Demokrat saat ini adalah partai yang banyak bicara seperti tong kosong
yang nyaring bunyinya. Saya kok yakin, apa yang dikatakan Nazarudin
banyak benarnya. Namun memang sulit bagi Nazaruddin mengungkapkan
semuanya didepan penegak hukum Indonesia, yang ada tentu dia akan di
bungkam seperti halnya Antasari dan Susno Duadji. Memang, hanya rakyat yang bisa menghakimi partai durhaka ini !
|