Sebagai guru les matematika yang telah beroperasi selama lebih dari 5 tahun, saya sering menemukan kesulitan anak dalam memahami soal-soal cerita.Sebenarnya sih lebih banyak dikarenakan mereka malas saja untuk membaca, apalagi sampai menelaah dan memahami maksud soal tersebut. Ada juga yang membaca soal tidak tuntas dan langsung mengambil keputusan untuk menjawab, jadi salah presepsi. Dan yang paling parah ada yang sudah membaca berulang-ulang, tapi gak paham-paham maksud soal tersebut. Saya pernah bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka "takut" dengan soal cerita? Jawabnya: Malas menulis dan malas membaca soalnya. Ya kalau sudah malas, mau apa lagi? Malas menulis dan malas membaca yang terjadi pada anak-anak sekarang mungkin disebabkan banyaknya kemudahan yang mereka dapatkan sekarang dalam belajar. Materi pelajaran, tinggal lihat dibuku, foto copy atau di copy-paste aja pakai flashdisk terus buka di laptop. Jadi mengurangi menulis. Memang bagus sih, modern dan praktis, tapi perlu diingat, belajar hanya dengan membaca lebih mudah lupa, kita tetap harus menyalin (menulis), lalu mempraktekannya. Meskipun punya buku paket, saya rasa tetap murid harus menulis, khususnya pelajaran matematika.
Selain itu, memang kemampuan bahasa sangat dibutuhkan dalam
menghadapi soal-soal cerita. Dahulu, jaman saya sekolah, setiap ujian
caturwulan pelajaran bahasa Indonesia, selalu ada pelajaran mengarang.
Kalau sekarang tidak ada. Saya pernah meminta anak SD mengarang 4
paragraf saja, ternyata tidak ada yang jadi. Banyak bertanya, tentang
ini boleh gak? Tentang itu boleh gak? Tapi ketika saya sudah bolehkan,
mayoritas dari mereka karangannya tidak jadi. Apalagi jika mereka
dibebankan dengan karangan bertema. Saya rasa ada korelasinya
antara masalah kesulitan anak dalam mengerjakan soal cerita dengan
kemampuan mereka menulis (mengarang). Berkaitan dengan pemahaman
penggunaan kalimat, ejaan, alur cerita, yang semuanya penting buat
memahami sebuah soal cerita. Karena memang tujuan dari soal cerita
adalah membuat anak dapat menuliskan sebuah kejadian dalam kehidupan
sehari-hari kedalam notasi matematika dan mencarikan solusinya. Ini
butuh kerja yang seimbang antara otak kanan dan kiri. Ketika saya
mencoba membuat soal dengan 3 variasi. Yang pertama saya mengambar
sebuah bangun, kemudian meminta anak mencari kelilingnya. Dengan cepat
dapat diselesaikan. Ketika soal saya ubah menjadi bentuk tertulis tanpa
gambar, mereka masih mampu. Dan ketika soal dibuat dengan narasi (soal
cerita), disini sering saya temukan kesulitan anak. Bentuk soalnya seperti berikut: Variasi 1: Saya menggambar bangun persegi panjang dengan panjang 10m dan lebar 8m. Variasi
2: Saya menulis soal sebagai berikut: Sebuah persegi panjang dengan
panjang 10m dan lebar 8m, tentukan kelilingnya! Ini masih dapat dijawab
dengan cukup baik. Variasi 3: Saya membuat soal berbentuk narasi.
Anton berlari mengelilingi lapangan yang berbentuk persegi panjang.
Panjang lapngan tersebut 10m dan lebarnya 8m. Berapa jarak yang ditempuh
anton dalam satu kali ia mengelilingi lapangan tersebut? Ini agak sulit
mereka memahaminya. Mereka berpikir jarak tempuh itu apa? Padahal sama
saja dengan keliling. Ini hanya contoh sederhana. Ada juga soal
yang lebih rumit lagi. Misalnya, sebuah roda dengan diameter 100cm,
digelindingkan pada sebuah bidang. Jika roda berputar 8 kali, berapa
jarak yang ditempuh roda tersebut? Meskipun anak tahu rumus
keliling lingkaran, namun masih banyak yang bingung menyelesaikannya.
Apalagi nanti di kelas yang lebih tinggi, dimana matematika menjadi
semakin abstrak. Harapan saya, hendaknya pelajaran mengarang
digiatkan lagi disekolah-sekolah, agar kemampuan anak dalam memahami
sebuah kalimat menjadi lebih baik dan diharapkan bisa berimbas kepada
peningkatan kemampuan mereka dalam memecahkan soal cerita, dengan
catatan kemampuan eksak mereka baik tentunya.
|