 Ketika hamba ingin kembali ke jalan Allah (bertaubat), tentu saja syetan tidak akan tinggal diam. Untuk meruntuhkan tekad seorang hamba tadi, syetan membisikan dan memberikan gambaran bahwa taubat itu tidak enak. Kalau kamu taubat, kamu tidak bisa bersenang-senang lagi, kamu akan kehilangan kenikmatan-kenikmatan yang sekarang ini bisa kamu nikmati. Tundalah taubatmu satu atau dua tahun lagi atau sehari dua hari lagi. Mumpung kamu masih muda, ingatlah bahwa Allah akan mengampuni dosa seberapapun besarnya, jadi tanggung kan kalau kamu taubat sekarang. Kamu akan kehilangan segala-galanya. Ini yang menyebabkan hamba menjadi berat untuk bertaubat.
Jika hamba tersebut dapat bertahan dari godaan yang pertama dan ia tetap bertaubat. Maka syetan akan mengganggunya lagi. Syetan akan selalu mengajaknya untuk kembali berbuat maksiat. Mengganggunya dengan hal-hal yang berbau duniawi, sehingga hamba tersebut jika tidak kuat tekadnya akan terjerumus untuk yang kedua kalinya.
Namun jika hamba masih dapat bertahan dengan pendiriannya, maka syetan tetap akan terus menggoda. Syetan akan selalu mengingatkan dosa-dosa hamba tersebut. Seolah-olah dosa itu menjadi amat sangat besar, bahkan seolah lebih besar dari rahmatNya. Pada awalnya hamba itu merasa bahwa proses taubatnya sedang berjalan, ia menangis karena terus terbayang dosa-dosanya dimasa lalu. Memang amat sangat halus syetan menggodanya, proses perjalanan taubat tersebut lama kelamaan akan berubah menjadi keputus asaan. Syetan terus menggambarkan bahwa amatlah sulit untuk diampuni dosa seorang hamba, meskipun hari-harinya diisi dengan amal ibadah yang tanpa henti sekalipun. Terlihat wajah hamba ini malah menjadi murung, bermuram durja, tidaklah cerah seperti seorang yang seharusnya sudah diterima taubatnya. Bisikan-bisikan syetan tadi membuat hamba menjadi merasa amat sangat bersalah dan merasa tidak akan mungkin diterima taubat olehNya. Ibadahnya malah menjadi hampa, amal-amalnya akan menjadi kosong, hidupnyapun menjadi sebuah kekosongan, tanpa kreatifitas dan semangat lagi. Yang ada hanya penyesalan dan selalu berpikiran akan tempat kembalinya diakhirat tanpa mau berusaha dan berkreatifitas di dunia lagi. Dengan kata lain ia berputus asa. Disaat itulah seorang hamba butuh pertolongan dari saudara-saudaranya yang lain, dari seorang alim yang dipercaya ataupun kitab-kitab yang menjelaskan kepadanya bahwa "Rahmat Allah lebih besar ketimbang murkanya".
Jika sampai godaan ini seorang hamba masih dapat lolos, syetan masih berusaha menggoda lagi. Ia menghembuskan kebohongan-kebohongan dihati seorang hamba. Apakah kamu yakin bahwa akan ada hari akhir? Apakah kamu yakin bahwa tuhan yang kamu sembah ini yang benar? Apakah kamu yakin agama ini yang akan menyelamatkanmu? Bagaimana jika yang benar adalah agama itu bukan agama ini? Sia-sialah semua taubatmu jika saat tercabut nyawamu ternyata agama yang benar bukan agama ini. Keraguan akan datang dihati seorang hamba. Disaat seperti ini ia memerlukan ilmu yang dapat membuatnya yakin dengan dien yang sedang dipegangnya.
Pernah diriwayatkan bahwa Allah amat senang jika ada hambaNya yang telah jauh dariNya kemudian kembali kepadaNya. Bahkan rasa senangnya digambarkan melebihi seorang yang kehilangan unta beserta perbekalannya sampai-sampai ia hampir putus asa mencarinya. Lalu tiba-tiba untanya ada dihadapannya, dan orang itu sangat senang sekali. Sebaliknya, syetan amat sangat sedih melihat seorang hamba yang telah jatuh dalam tipu dayanya namun mendapatkan rizky untuk kembali kepada Rabb nya. Ia akan mengerahkan ribuan tipu daya untuk menjerumuskan kembali hamba itu. Jika gagal, ia akan terus menunggu sampai disaat ajal seorang hamba tiba. Syetan akan berusaha sekuat tenaga untuk yang terakhir kalinya agar hamba itu menjadi kufur sesaat sebelum ajalnya tiba.
Sesungguhnya Allah lah sebaik-baiknya penolong, namun jangan pernah merasa aman dari siksaNya dan jangan pula seorang hamba berputus asa dari rahmatNya.
|