 Murid saya, sebut saja L. Orangnya pendiam, dan saya melihatnya seperti tidak memiliki masalah, melainkan mungkin hanya nilai matematikanya saja yang agak kurang. Sehingga orang tuanya meminta saya untuk memberikannya les khusus pelajaran matematika.
Seperti yang sudah-sudah dengan murid-murid saya sebelumnya, ketika saya bertemu dengannya, saya mencoba untuk menyelami masalah dia. Berusaha mencairkan suasana, dan berusaha lebih dekat lagi dengannya. Mulailah ia bercerita tentang ketatnya aturan dirumahnya. Dua bulan menjelang UASBN ketika SD, dia dilarang keluar rumah, kerjanya hanya belajar dan belajar.
Namun bukan itu sebenarnya masalah yang saya tangkap, ada ketidak harmonisan antara dia dengan orang tuanya. Sampai suatu ketika dalam pertemuan les kami yang ke-12, saya hanya sempat memberikannya 2 buah soal matematika yang dikerjakannya dengan cukup baik. Setelah itu, saya hanya menjadi pendengar setianya saja. Segala masalah dia ungkapkan, sambil sekali-sekali wajahnya marah, bersungut-sungut, gemas dan ekspresi-ekspresi lainnya yang menunjukan kegundahan hatinya selama ini.
Mendengar adalah cara termudah bagi kta untuk memberikan bantuan kepada siapapun, termasuk kepada murid-murid kita. Hampir semua murid seperti itu jika sudah bersama saya, hanya karena saya mau sedikit meluangkan waktu untuk mendengar. Keadaan belajar terbalik, mereka yang bercerita, dan saya yang diam mendengarkan. Tentu saja, saya hanya sebagai guru les privat tidak memiliki power untuk bisa menyelesaikan semua problem-problem yang ada pada murid-murid saya. Problem tentang lelahnya mereka menghadapai sekolah dan bangun pagi pulang sore, problem dengan orang tua yang tidak mau tahu dan tidak menghargai mereka. Problem dengan sifat orang tua yang tidak pernah mau memuji setitik saja dari keberhasilan anaknya. "Aku tidak nakal-nakal banget kak, tapi aku selalu dibilang nakal. Menurut kakak aku nakal gak?." "Aku suka dipukul ayah, boleh gak sih kak orang Jawa memukul anaknya?." Itulah bebeberapa keluhan yang saya dengar dari murid saya.
Apa yang anda lakukan sebagai orang tua ketika anak anda berkata "Aku bosan sekolah tiap hari, gini-gini terus!" ? Apakah anda akan bilang "Papa juga bosan cari uang tiap hari !" atau memarahinya? Apakah anda mengeluarkannya dari sekolah? Atau anda malah menamparnya? Sebenarnya, itu semua tidak perlu dilakukan oleh orang tua yang bijak. Cukup panggil anak itu, ajak duduk bersama, dan jadilah pendengar yang baik. Biarkan anak mengeluarkan semua isi hati dan kepalanya. Toh pada dasarnya mereka mengatakan itu bukan minta dikeluarkan dari sekolah, namun ada yang tidak seimbang pada diri mereka sehingga mereka berkata demikian. Mereka butuh didengar sebagaimana orang tua selalu meminta anak-anaknya mendengarkannya.
Menjadi pendengar itu mudah, hanya tinggal duduk, mainkan ekpresi wajah, anggukan kepala dan tunjukan kalau kita respek dengan masalahnya. Hanya itu sebenarnya yang dibutuhkan seorang anak, didengarkan ! Jangan sampai anak mencari pendengar dari kalangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Karena ketika orang tersbut mau mendengarkan keluh kesah anak, maka anak akan mau mendengarkan kembali masukan-masukan dari dia. Apa jadinya ketika masukan yang diberikannya malah bersifat negatif, seperti kabur dari rumah, datang ke klub malam ataupun menyuruh menjadi seorang anak yang pembangkang. Siap-siap orang tua kehilangan senyum, pujian , kehangatan dan perhatian tulus dari anaknya.
Mulai sekarang, belajarlah menjadi seorang pendengar yang baik, jangan hanya mau didengarkan terus. Jangan pula merusak konsep diri anak, dengan selalu mengatakan "kamu tidak bisa !." Karena membangun konsep diri itu lebih sulit ketimbang merusaknya.
Thanks To L, semoga kakak bisa terus mendengarkan kamu.
|