|
Gelar Pahlawan, Hal Yang Absurd |
|
|
Ditulis Oleh Kakbayu
|
|
Rabu, 10 November 2010 |
 Hari ini kita merayakan hari pahlawan. Tanpa tahu apa sih sebenarnya pahlawan itu? Kenapa orang dapat dianggap pahlawan?
Pahlawan bukanlah sebuah ukuran pasti. Ketika seorang mendapatkan gelar pahlawan, bukan berarti seluruh manusia menganggapnya pahlawan. Coba saja tanya pada orang Belanda, siapa sih Sultan Agung? Pangeran Diponegoro? Teuku Umar? Cut Nyak Dien? Bagi orang Belanda mereka adalah pemberontak. Namun bagi bangsa Indonesia mereka adalah manusia-manusia yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara ini hingga pantas diberi gelar pahlawan nasional.
Seorang bapak yang mati dibakar masa karena tertangkap mencuri untuk memberi makan anak istrinya, adalah pahlawan bagi anak istrinya. Karena dia tewas demi mereka, meskipun caranya salah karena mencuri dalam himpitan ekonomi. Tapi bagi yang mengeroyoknya, dia tidak lebih dari maling.
Ketika terjadi perdebatan tentang pantaskah Soeharto diberi gelar pahlawan nasional, bagi orang-orang yang pernah merasakan nikmatnya hidup dari Soeharto, mungkin setuju jika beliau diberi gelar pahlawan. Namun bagi tapol/napol, sangat tidak adil jika sampai beliau diberi gelar pahlawan.
Jadi pahlawan adalah bagaimana cara kita memandang jasa seseorang terhadap kita, saya rasa begitu dan tidak lebih.
|