|
Salah satu hal yang saya selalu coba hindari ketika masih muda (sekarang udah merasa tua-red) adalah berkemah di gunung. Karena beberapa kali saya naik gunung, beberapa kali itu juga saya merasa tidak berada digunung.
Awal naik gunung, ketika kelas 1 SMP. Saya penasaran, kayak apa sih gunung itu, apakah berwarna biru dan licin. Sesampainya disana ternyata hutan, inilah awal saya merasakan keganjilan setiap naik gunung.
Pada saat hiking (jalan-jalan digunung - red), yang saya rasakan hampir sepanjang perjalanan adalah saya merasa berada di sebuah perkampungan penduduk, lengkap dengan rumah-rumah yang lantainya terbuat dari marmer, orang yang sedang duduk-duduk di beranda dan terkadang seolah menatap saya.
Namun ketika saya berusaha menyadarkan diri, rasanya agak sempoyongan, saya baru sadar kalau saya berada dihutan. Tapi ketika mulai bergerak lagi, kembali saya masuki "dunia lain" yang terlihat begitu nyata. Lengkap dengan suara-suara sungai atau kali, kandang ayam, rerumputan hijau, tembok di kanan atau kiri saya. Padahal semua itu tidak ada.
Kata teman sih pengaruh lelah dan ketinggian ketika saya ceritakan pada saat sudah kembali. Karena sewaktu disana saya tidak menceritakan sedikitpun apa yang saya rasakan.
Ketika kali kedua dan seterusnya saya kembali nail gunung, rasanya sama saja. Atmosfernya sudah saya rasakan pada saat menginjakan kaki di lereng. Pada saat mendaki, halusinasi seperti itu terulang lagi, bahkan pada saat jalan malam. Saya tidak pernah merasa dihutan.
Mudah-mudahan gak pernah naik gunung lagi.
|