|
Polisi takut melanggar HAM? Bagus berarti sudah ada kemajuan, tapi jangan juga segitunya donk. Melihat ada rusuh masa, gak bertindak karena takut melanggar HAM. Saya ada videonya, dimana seorang anggota polisi bersenjata lengkap mendiamkan saja sekelompok masa yang membawa-bawa senjata samurai mengejar-ngejar seorang laki-laki, sampai akhirnya laki-laki tersebut luka parah dibacok kepalanya. Kenapa tidak ditembak? Karena takut melanggar HAM?
Dilain pihak, melihat penangkapan orang yang dituduh
teroris, yang sudah tidak bersenjata, mobilnya dibelokan ke kantor
polisi, sekelompok Densus bersenjata lengkap menyerbu, memecahkan kaca
mobil, dan menangkap orang-orang besertanya. Saya
setuju dengan tindakan tembak ditempat, tapi yang bagaimana dulu yang
harus ditembak, dan yang bagaimana pula yang tidak boleh ditembak.
Apalagi masyarakat kita sudah mulai anarkis, berani melawan dan membunuh
orang dengan terang-terangan di depan aparat. Seperti
kejadian di Ampera, jelas-jelas masa telah membawa senjata tajam bahkan
senjata api, itu sudah kriminal, harusnya kasih peringatan, peringatan
diabaikan, tembak kakinya. Simpelnya gini aja,
kalau ada orang yang bersenjata, kemudian mengancam keselamatan orang
lain atau aparat, agresif menyerang dan tidak menghiraukan peringatan
aparat, itu sudah pantas ditembak. Tapi kalau hanya mahasiswa demo,
tertib tanpa senjata, ya jangan pakai senjata api juga. Atau mungkin
ditemui di lapangan sekelompok masa bersenjata, namun untuk menjaga diri
atau daerahnya dari penyerang, dan mau berkoordinasi dengan aparat, ini
juga jangan ditembak. Karena menjaga keselamatan diri itu kan tidak
melanggar HAM, ini juga mudah terlihat, orang atau masa yang menggunakan
senjata untuk berjaga biasanya juga tidak agresif dan open terhadap
aparat. Memang disini sangat dibutuhkan polisi
yang cerdas, matang secara emosional dan tujuan tugasnya mengayomi
masyarakat.
|