|
Ortu ku lagi marahan lagi, benar-benar menyebalkan ! Bukan salah mama, tapi memang kelakuan bapak yang benar-benar sangat menyebalkan dan keterlaluan. Suasana rumah udah gak nyaman banget, aku sendiri jadi sering jarang dirumah. Gimana mau enak, rumah kan harusnya tempat istirahat, tapi ini jadi seperti neraka. Bagaimana mau nyaman dirumah? Help me ! 
Permasalahan biasa, mama ku sudah melihat usia ku yang bentar lagi kepala 3, dan selalu bilang ke bapak untuk siap-siap nikahin anaknya. Tapi dengan seenaknya bapak ngejawab "Emang uang tinggal ngerauk !" Mama ku orang yang selalu lembut seketika itu juga berubah, langsung menyerang bapak. Gak mikir-mikir dosa lagi. Tadi pagi ketika aku mengantarnya ke puskesmas, mama cerita, aku jadi baru tahu. Mama ku cuma mau membela aku, anak laki satu-satunya. Bapak memang pernah menjanjikan untuk memberikan uang Rp. 10 juta untuk aku nikah nanti. Janji itu sudah diucapkan beberapa tahun yang lalu. Kalau dipikir-pikir, uang aku sendiri yang dipakai bapak secara zalim sudah Rp.7 juta lebih. Maka itu aku berpikir, uang yang dijanjikan itu ya itung-itung mulangin uang ku. Flashback kebelakang Dulu, aku memang bercita-cita menikah di usia 25 tahun maksimal, jadi kalaupun telat ya paling 28 tahunan lah. Ketika itu, aku masih aktif diorganisasi dakwah sebuah partai. Ketika usia 28 tahun, aku sempat meminta untuk menikah. Tapi bapak dengan seenaknya bilang "28 tahun masih terlalu muda !". Ya sudah, sabar aja. Sampai semua teman-teman 1 grup ku menikah semua, dan 2 orang yang belum menikah keluar dari grup. Tinggal sendiri aku yang belum nikah, sering jadi bahan bercandaan, lama-lama bete juga dan jadi resistan terhadap orang-orang yang sebenarnya baik padaku. Aku bilang lagi sama ortu khusunya mama. Kemudian disampaikan lagi ke bapak, supaya uang aku yang dipinjam ketika itu berjumlah 6 jutaan dikembalikan. Tapi lagi-lagi bapak bilang "ceweknya aja belum ada!." Mama berusaha jelasin, bahwa menikah dalam oragnisasi ini tuh gak pake bawa cewek. Yang penting niat, modal dan nanti juga dicariin. Tapi itu memang alasan bapak saja yang memang kayaknya gak punya niat baik ! Aku anak yang penurut Aku dan adik-adik ku adalah anak yang penurut. Gimana enggak nurut, semenjak aku lulus sekolah aku nggak pernah minta apa-apa sama orang tua sampai sekarang. Tidak seperti anak-anak lainnya yang mungkin minta dibelikan motor, minta dikuliahin, minta dimodalin untuk kerja. Semuanya tidak !. Tidak pernah menuntut ini itu seperti umumnya anak kepada orang tuanya. Bahkan ketika ibu menjual rumah warisanya dan aku ditawari motor, aku menolak, karena ku berpikir belum kerja jauh dari tempat tinggal ku, cukup jalan kaki atau naik sepeda titipan teman saja. Aku mencoba pengertian, itu uang rumah mama, jadi lebih baik buat mama dan ditabung untuk membangun rumah lagi. Bapak Sang Penipu Ulung Mama memiliki 2 rumah sederhana di Jakarta, tepatnya satu rumah milik mama dan satunya lagi berdua dengan adiknya. Kedua rumah itu telah dijual ! Namun dengan akal bulusnya bapak berusaha menguasai semuanya, dan berhasil. Uang berpuluh-puluh juta dibawa bapak ke Jawa, digunakan untuk bermain judi disana. Dan aku mendengar ini dari saudara-saudara bapak. Ada uang sekitar 30 jutaan yang berusaha mama selamatkan, aku disuruhnya untuk menyimpan di bank. Tapi, selama bapak tahu, segala daya upaya dia usahain untuk membujuk dan mengelabui kami. Bahkan ketika itu sampai mengancam segala, kalau uang itu nggak mau diberikan, jangan salahin bapak, kalau ada apa-apa bapak nggak mau tanggung jawab. Akhirnya mama melunak, aku diminta untuk mencairkan uang itu meskipun belum jatuh tempo. Apalagi bapak berjanji akan menggantinya dengan uang-uang yang katanya belum terbayar ketika dinas menjadi tentara. Akhirnya uang itu habis semua. Itulah akhir dari warisan mama. Mama sudah enggak punya apa-apa lagi. Mau pulang ke saudara, mama sudah malu, karena teralu percaya dengan suami dan enggak mau dengerin saudara. Tapi menurut ku mama tidak salah ! Aku juga pernah ditipu bapak. Awalnya ketika aku mulai kerja, aku disuruh mengambil kredit TV dikoperasi. Dengan alasan kasihan adik, enggak ada hiburan. Akhirnya aku menyetujuinya. Aku ambil kredit TV disana. Dengan angsuran Rp. 512.000 selama 10 bulan, karena TV yang ku ambil termasuk TV baru ketika itu. Angsuran Tidak Dibayarkan Kala itu, aku masih sedikit percaya dengan bapak, jadi aku enggak berpikir yang bukan-bukan. Aku memberikan uang angsuran tiap bulan ke bapak. Dan setiap aku berikan angsuran, beberapa hari kemudian bapak pergi ke Jawa, dengan alasan inilah-itulah, ada bisnislah, ngantar baranglah. Padahal tidak demikian, bapak pergi kesana hanya untuk membawa uang-uang ku ke meja judi. Ketika aku menanyakan kwitansi pembayaran, bapak selalu membodoh-bodohkan aku. Katanya mana ada seorang bapak yang mau jahat sama anaknya. Tapi kenyataannya, TV aku ditarik oleh koperasi tersebut ! Minta Dimodalin Ketika sedang tidak bekerja dan hanya mengandalkan pensiunnya yang tidak jelas karena telah banyak potongannya. Bapak minta aku untuk memberinya modal usaha. Aku kebetulan ada teman yang bisa membantu memberikan jalan dengan membuka usaha konsinyasi sembako. Mulailah bapak berjualan sembako. Ketika modal sudah balik dan untung sudah diraih, timbul lagi penyakitnya. Sering ke Jawa, pura-pura ada order dari sana. Dan habislah semuanya. Aku yang harus mengganti semua itu. Padahal, selama ini aku tidak pernah minta dimodali sama orang tua. Kuliah aku sendiri, sampai gagal 2 kali karena kehabisan biaya. Dan orang tua mana mau tahu. Aku bekerja dengan modal sendiri sampai bisa beli sepeda dan bahkan motor aku beli sendiri dengan bersusah payah. Aku bukan anak yang selalu mengandalkan orang tua, sekarangpun aku kuliah dengan biaya sendiri yang awalnya dimodali oleh sahabat-sahabat ku. Dan aku sudah menggantinya semua, kecuali ada beberapa yang diikhlaskan. Aku Bagai Hidup Sendiri Ketika aku sakit, ada sahabatku yang selalu menjaga ku. Sahabat yang sekarang malah aku jauhi. Jam 1 pagi, dirumah sendiri, aku muntah-muntah. Aku sms beliau, dan beliau datang kerumahku dipagi yang gelap itu. Langsung membawaku ke klinik terdekat. Sahabat adalah naunganku, disaat keluarga ku tak bisa lagi menolongku. Keluar Dari Organisasi Ini adalah awal masa suramku, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan sahabat-sahabat terbaik ku. Aku tidak ingin menyusahkan mereka terus menerus. Aku juga tidak ingin mengotori jalan mereka. Aku merasa harus pergi, karena aku merasa berat menjadi orang baik yang setengah-setengah. Terlalu rumit bagi ku ketika itu. Aku kehabisan akal dan memutuskan untuk pergi. Mendeklarasikan Kepergianku Aku katakan ke orang tua kalau aku sudah nggak ngaji lagi. Biar aku bisa berbuat sesukaku tanpa harus menjaga image sebagai seorang aktivis dakwah. Ini kesalahan terbesar dalam hidup ku, yang selalu ku sesali namun tak bisa ku ulang kembali. Aku lepas semua murid-murid ku, dan aku mulai menjauh perlahan meskipun sedih rasanya. Berubah 180°
Kenekatan-kenekatan ku mulai tumbuh, aku berani membawa seorang gadis kerumah yang langsung kukenalkan kepada orang tuaku yang terkaget-kaget. Disinilah masalahku semakin banyak dan terus menumpuk. Tapi ada sedikit kepuasan bagi ku untuk membalaskan semuanya. Aku merasa bebas ! Ibadah Merosot Saat ini, ibadah yang aku lakukan hanya sholat & puasa saja, itu yang selalu ku pegang. Meski hidup bergelimang dosa, aku tidak akan pernah meninggalkan sholat. Aku merasakan perbedaan pada diriku saat ini dan saat masih bersama sahabat-sahabatku, jauh sekali perbedaannya. Tapi lama-kelamaan aku sudah menjadi terbiasa. Mungkin sekarang hatiku sudah buta dan hitam.... Ingin Menjadi Orang Baik Lagi, Nanti,,,, Aku hanya berpikir untuk segera menikah dan bertaubat. Tidak mungkin juga aku tinggalkan gadis yang telah menemani ku dalam pelarian ku ini. Aku akan bersamanya, membina rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Itu yang kuharapkan ! Aku ingin perlahan menjadi baik, seperti ketika perlahan aku menjadi buruk. Aku tetap meminta kepadaNya meskipun aku memintanya dari dalam lumpur yang penuh dosa. Aku tidak mau meminta kepada siapapun selain Dia, karena aku takut, keimanan ku yang hanya tinggal setipis kulit bawang melayang akibat kemusyrikan. Seburuk-buruknya aku, adalah hambaMu ya Allah, maka aku tetap akan meminta dari Mu.... Sampai Kapan Terus Begini Sampai detik ini, bapak masih belum beritikad baik. Masih belum berubah, selalu mau menang sendiri dan aku hanya bisa berdiam entah sampai kapan. Mungkin sampai keputusanNya datang,,, Aku mau minta maaf kepada semua orang yang telah mengenal dan menganggapku sebagai seorang yang baik dan lurus ! Masa-masa Sekolah Masa-masa sekolah adalah masa yang cukup gelap bagiku. Meskipun aku tidak pernah tinggal kelas dan selalu masuk sekolah negeri. Tapi tetap saja aku tidak mempunyai kenangan baik tentang sekolahku. Aku sering menunggak bayaran, sering menunggak membayar buku dan lain-lainnya. Sampai akhirnya aku dipanggil oleh guru kekantor, akusempat dituduh menggelapkan uang bayaran. Ketika itu aku sekolah di SMP 2 Depok. Aku jelaskan, bahwa memang aku belum diberi uang bayaran. tapi ada seorang guru yang mengatakan mana mungkin kamu orang gak mampu, bapak kamu aja pensiun dan kerja lagi, gajinya dobel. Akhirnya dipanggilah orang tuaku. Bapak yang egois tidak mau datang, akhirnya mama yang datang kesekolah dan menjelaskannya. Mengembalikan Buku Yang Sudah Diambil
Setiap awal tahun pelajaran, biasanya guru memberikan buku yang boleh kita ambil dulu, baru kemudian bayar. Bapak menyuruh aku untuk mengambl semua buku tersebut. Sampai akhirnya, teman-teman sudah pada lunas membayar, dan hanya tinggal aku sendiri yang belum membayar dengan jumlah yang cukup banyak. Setiap balajar selalu ditagih, dan setiap aku meminta ke bapak, justru aku yang dimarah-marahin. Sampai akhirnya bapak menyuruh mama mengembalikan semua buku kesekolah. Awalnya mama tidak mau, tapi bapak mengancam akan membakar semuanya. Ketika itu aku sedang disekolah, dan teman-teman ku melihat melihat ibu ku yang datang kesekolah dengan membawa semua buku-buku. Tentu saja ini membuat aku malu dan menjadi minder disekolah. Padahal aku tahu, dikantong bapak atau ditempat sampah, mama sering menemukan kartu porkas (SDSB) yang dipasang bapak. Untuk membayarkan buku tidak mau, tapi untuk membeli kupon judi dibela-belain.
Bapak Ku Paling Jago Mengancam Ketika mama meminta salah satu gaji, entah uang pensiun ataupun dari pekerjaan lainnya. Bapak selalu marah, selalu mengancam, kalau ada apa-apa tidak mau tanggung jawab. Ancaman itu yang selalu saya dengar, sering. Kalau nggak mau percaya sama bapak, bapak tidak mau tanggung jawab. Mama, aku dan adik-adik sudah percaya, tapi buktinya sampai sekarang, ketika aku membutuhkan biaya yang sebenarnya uangku sendiri, mana tanggung jawabnya? Tetap saja aku seperti ini terus ! Padahal aku sudah berkorban untuk keluargaku. Sedari kecil, aku sudah biasa untuk berhutang sana-sini untuk makan dirumah. Pernah juga, ketika uang kontrakan nunggak, aku yang disuruh cari uang. Aku pergi kerumah sahabatku yang di Lenteng Agung dengan bersepeda malam-malam. Karena jika belum ada uang, maka rumah harus dikosongkan esok harinya. Belum lagi untuk bayar listrik, sering aku mencari ke sahabat-sahabat ku. Padahal ketika itu aku masih SD sampai dengan SMA.
Kalau aku tidak mau, lagi-lagi ancaman yang keluar. Kalau gak mau ngutang, yaudah gak usah makan, biar pada tahu rasa ! Aku bisa maklum, kalau memang bapak enggak mampu beneran. Tapi ini, gaji dipegang sendiri, kalau susah anak-istri yang jadi sasaran. Sudah capek aku dengan keadaan ini. Bapak sering minjam uang diam-diam dan memalsukan tanda tangan mama. Sehingga pensiunnya habis setipa bulannya dengan potongan yang besar. Dan ini terjadi selama bertahun-tahun bahkan sampai sekarang. Entah buat apa uang yang dipinjamnya, kami gak pernah tahu Pernah ketika susah, aku sampai gak ketemu nasi berhari-hari. Cuma makan dengan mencari kangkung di sawah-sawah. Direbus dan dimakan pakai garam. Sebenarnya tidak pantas keluargku hidup seperti ini, mengingat bapak bukanlah seorang pengangguran. Tapi entah apa yang ada dipikirannya. Waktu Sunat Aku dan adik (almarhum) mengikuti sunat masal. Karena memang tidak mungkinlah bapak bisa membiayai sunatan di dokter khusus. Ketika sunat, teman-teman mengadakan selamatan dan dapat uang cukup banyak. Tapi aku tidak sama sekali, hanya memberi tahu saudara. Ketika aku dapat uang dari saudara dan tetangga, semuanya lagi-lagi dihabisin sama bapak. Aku dan adik tidak pernah dapat apa-apa, tidak ada cerita tentang uang sunat. Dengan alasan uangnya mau ditabung, akhirnya malah habis begitu saja. Sekarang aku suka berpikir, nyunatin aja bapak tidak mau tahu, apalagi nikahin anaknya.
(to be continued)
|