| Pengalaman kurang menyenangkan dengan Unindra |
|
| Ditulis Oleh Bayu Saputra | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Senin, 24 Agustus 2009 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Saya sangat membanggakan almamater saya tersebut. Setiap teman yang ingin kuliah atau meneruskan kuliah, saya rekomendasikan ke kampus ini. Namun kemarin, tepatnya hari Minggu tanggal 23 Agustus 2009, hari kedua bulan Ramadhan. Kejadian yang cukup membuat "dongkol" menimpa saya, diawali dengan teman satu angkatan saya mengirimkan pesan singkat kepada saya. Katanya kartu ujian (UAP) saya tidak ada. Menanggapi pesan singkat tersebut, saya kemudian langsung menuju pelayanan kemahasiswaan Unindra. Saya masih berpikir positf terhadap Unindra. Saya pikir, mungkin kartu UAP saya terselip, atau tidak tercetak, karena Unindra mahasiswanya berjumlah ribuan. Mengingat saya sudah melunasi SPP sampai dengan Oktober 2009, uang PPL, uang UAP, Registrasi semester depan, semuanya sudah saya penuhi kewajibannya bahkan kelebihan Rp. 50.000 (saking semangatnya saya membayar sampai lebih), saya langsung menuju bagian kemahasiswaan, dimana biasanya saya mengambil kartu ujian. Ketika sampai di pelayanan kemahasiswaan, tepatnya di loket FT-MIPA, disinilah awal kekecewaan saya. Ketika saya menyodorkan bukti bayar UAP saya yang berupa slip transfer dari Bank Mandiri kepada petugas TU Unindra (keduanya wanita) di loket tersebut, dia mengatakan bahwa kartu ujian saya masih di blokir oleh bagian keuangan. Mengingat kejadian seperti ini pernah saya alami sebelumnya, namun ketika itu bagian loket yang melayani saya (keduanya laki-laki) cukup perhatian dan tanggap, mereka langsung menghubungi bagian keuangan via telepon, dan pada saat itu juga kartu ujian saya bisa langsung di print out. Berbeda dengan kejadian-kejadian sebelumnya, kedua karyawan TU Unindra ini memaksa saya untuk ke bagian keuangan yang mana pada saat itu antriannya cukup panjang. Saya berusaha menjelaskan, bahwa saya tidak ada tunggakan apapun, dan saya meminta supaya kedua petugas tersebut menelepon bagian keuangan seperti yang dilakukan petugas sebelum-sebelumnya. Namun mereka tetap memaksa saya menemui bagian keuangan. Saya kecewa, tapi tetap saya mengikuti perintah keduanya. Akrhinya setelah dibagian keuangan, saya mendapatkan nomor antrian 889, sedangkan pada saat itu antrian yang sedang dilayani baru mencapai 450an. Lama saya menungu, sampai akhirnya saya putuskan untuk pulang dan kembali lagi saja pada esok harinya, Senin 24 Agustus 2009. Pada hari Senin 24 Agustus 2009, saya kembali ke Unindra pada pukul 14.30 langsung menuju ke bagian keuangan. Dapat nomor antrian 207, dan nomor antrian yang sedang dilayani 178. Saya menunggu, cukup lama juga, karena satu mahasiswa dilayani rata-rata 5-10 menit lamanya bahkan lebih. Tiba pada saatnya nomor antrian saya dipanggil, dan saya langsung menuju loket bagian keuangan. Saya katakan bahwa kartu UAP saya kok tidak ada, sudah saya minta dibagian kemahasiswaan, namun mereka mengatakan di blokir oleh bagian keuangan. Saya serahkan semua berkas pembayaran kepada petugas bagian keuangan. Yang membuat saya tambah kecewa, mereka mengatakan bahwa tidak ada masalah dan mereka tidak memblokir kartu ujian saya. Malahan saya jadi tambah kecewa lagi dengan petugas perempuan di Loket Kemahasiswaan tadi, karena petugas keuangan mengatakan harusnya saya meminta tolong bagian kemahasiswaan untuk menelepon ke sini (bagian keuangan). Saya jelaskan, sudah berkali-kali saya meminta agar bagian kemahasiswaan menelepon, bahkan setengah memohon saya ketika itu. Tapi yang ada saya malah dicuekin, mereka diam saja dan sibuk dengan komputernya. Saya sangat kecewa sekali dengan pelayanan seperti ini. Karena saya sudah memenuhi semua kewajiban pembayaran, namun saya seolah diperlakukan seperti mahasiswa yang telat membayar. Harus mengantri lama dan sampai akhirnya harus balik lagi di keesokan harinya, padahal saat itu sedang puasa. Coba seandainya petugas perempuan di loket kemahasiswaan FT-MIPA mau mendengarkan saran saya untuk menelepon kebagian keuangan (karena kejadian seperi ini sudah pernah saya alami). Apa susahnya sih menelepon? Dari pada seperti ini, anda merugikan saya, dirugikan secara waktu, tenaga, pikiran dan hak saya sebagai mahasiswa yang memenuhi kewajiban tepat pada waktunya. Dengan tulisan ini, saya mengharapkan kepada pimpinan Unindra untuk lebih memperhatikan cara karyawannya bekerja. Ingat, Unindra bisa besar karena mahasiswa, maka perlakukan mahasiswa dengan baik dan lebih toleran. Dengarkan keluhan mahasiswa, jangan merasa benar sendiri. Karena ketika kami lalai memenuhi kewajiban kami, Unindra meminta kami membuat surat pernyataan yang ditandatangain Wakil Rektor. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi dimasa yang akan datang. Update :26-07-2011 Kejadian lagi tadi, saat mau ambil kartu UPM, di blokir
sama keuangan. Lalu saya disuruh ke bagian keuangan. Setelah saya
tunjukan bukti pembayaran, pegawai bagian keuangan palnga-plongo mirip
kaya Tukul saat bawain kuis di acara Bukan Empat Mata. Lalu bilang, gak
ada masalah. Saya sempat sewot dan kembali ke loket pengambilan kartu.
Baru kartu bisa dicetak. Masalah sepele tapi bikin bete
kakbayu.web.id
3.21 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

Ini adalah pengalaman saya yang kurang menyenangkan dengan pelayanan akademik Unindra. 
















