|
Ketika saya sedang mengajar les di sebuah keluarga di komplek Pupuk Kujang, Beji Timur, pada saat itu, kedua orang tua murid-murid saya pulang dari kantornya. Bapaknya yang insinyur jebolan UI kemudian berkata kepada saya, "Hati-hati kakbayu, jadi guru jangan sampai jitak murid. Karena nanti ada murid yang mengadu ke orang tuanya yang enggak-enggak. Kalau sudah begitu, maka akan sulit untuk diangkat menjadi guru."
Tapi, anaknya yang adalah murid saya justru berkata membela saya, "Nggak Pah, kakbayu nggak pernah begitu, paling-paling dikelas cuma bilang jangan berisik, dan bercanda-canda dengan murid-murid !" Syukur deh, ada anak kecil yang bisa bilang begitu tentang saya. Memang, selama saya mengajar, tidak pernah saya melakukan kekerasan, saya paling sering ketika ada anak yang nakal, ya saya ajak ngobrol, sambil dipeluk dan di usap-usap. Dengan begitu, dia juga malu dilihatin teman-temannya. Lagian saya mengajarnya di SD, yang murid-muridnya masih kecil dan masih bisa diajak bicara dengan kasih sayang. Saya memang menghindari untuk mengajar di tingkat sekolah yang lebih tinggi, semisal SMP atau SMA, kecuali hanya untuk mengajar privat. Karena, peluang untuk terjadi kekerasan di sekolah yang lebih tinggi juga lebih besar. Memang, dijaman sekarang ini menjadi guru cukup sulit juga. Kita dititipi anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga. Ada keluarga yang lembut,penuh cinta kasih dalam mendidik anak, tapi ada juga keluarga yang keras bahkan sangat keras dalam mendidik anak Ketika anak yang di didik keras kemudian masuk ke dunia sekolah. Dimana disana aturan harus ditegakan dengan bahasa kasih sayang, di karenakan sekarang ini perlindungan terhadap hak asasi anak semakin gencar disuarakan oleh penggiat HAM. Yang ada justru dilema bagi para pendidik. Orang tua yang biasa menerapkan kekerasan terhadap anak, misalnya dengan menampar, memukul atau berbicara dengan kasar. Maka anak-anak mereka yang di titipkan kesekolahpun hanya bisa mengerti jika diajak bicara dengan bahasa kekerasan. Ketika ada konflik dengan guru, dan guru melakukan sedikit kekerasan, misalnya dengan menjewer. Anak tersebut kemudian mengadukan ke orang tuanya. Orang tua si anak yang biasanya juga melakukan kekerasan, tiba-tiba saja menjadi pahlawan kesiangan bagi anaknya. Dengan seolah membela hak anaknya, kemudian melaporkan guru tersebut ke pihak berwajib. Padahal, kekerasa guru tadi tidaklah sebanding dengan kekerasan orang tuanya dirumah. Ini merupakan dilema bagi pendidik dalam mendidik murid-muridnya. Jika tidak dikerasi, mereka menjadi berani dan cenderung melawan. Jika dikerasi, mereka mengadukan kepada orang tuanya dan guru yang menjadi korbannya. Oleh karena itu, disini saya ingin menghimbau kepada orang tua, bahwa karakter anak di sekolah ditentukan oleh 6 tahun pertama ia di didik oleh orang tuanya dalam keluarga. Jika anda mendidik mereka dengan kekerasan, maka sama saja anda menitipkan bom waktu bagi kami para pendidik. Karena anak anda dapat memicu terjadinya kekerasan, ketika guru sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berkomunikasi dengan bahasa kasih sayang dengannya, namun tidak berhasil dan justru seolah semakin menambah masalah. Yang akhirnya terjadilah kekerasan dalam dunia pendidikan, dan kalau sudah begini, yang dirugikan adalah pendidik, karena karir mengajarnya bisa berkahir. So, buat rekan-rekan se profesi, jika menemukan anak didik yang tidak bisa diajak berbicara dengan bahasa kasih sayang, maka kembalikan saja kepada orang tuanya untuk di didik lagi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan karena melakukan kekerasan dalam dunia pendidikan. Untuk masyarakat umum, anak-anak sekolah jaman sekarang sudah sangat berbeda dengan anak-anak sekolah zaman dulu. Mereka sudah berani melakukan tindak kriminal terhadap guru atau staf sekolah. Saya sering mendengar keluhan dari seorang teman yang menjadi staf TU di sebuah SMP. Dia sering di kerjai murid dengan cara mengempeskan ban motornya. Coba anda bayangkan, bagaimana perasaan kesal yang dirasakannya?
|