
Sebagai warga negara yang baik dan menghargai pemerintah <ce ile..!>, tentu saja ka berusaha untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk menggunakan gas dalam memasak sehari-hari. Tapi berhubung "pemerintahnya" tidak baik dan tidak begitu memikirkan rakyat, maka ka berinisiatif sendiri untuk melakukan konversi dari minyak tanah ke gas. Maklum, ka termasuk orang yang tidak mendapatkan jatah pembagian kompor "milenium" beserta tabung gas ukuran 3 kilogram.
Ya udah, bersama mamah, ka beli kompor gas aja yang 1 tungku plus regulator. Habis deh Rp. 150.000. Nah, tabungnya belum ada? Wah repot juga, tuh kompor gas di taruh di dapur, tapi pas masak tetap saja menggunakan minyak tanah. Jadi buat pajangan doank. Maklum, uang dah gak cukup buat beli tabung gas beserta isinya yang harganya Rp. 150.000 juga. Huw, konvensi yang melelahkan !
Ironis banget, di TV begitu gencar iklan yang menanyangkan ekonomisnya menggunakan gas dibandingkan minyak tanah. Digambarkan orang yang memakai gas, baik pedagang keliling, pemilik warung makan, wajahnya ceria-ceria. Seneng banget kayaknya ! Namanya juga iklan, nggak 100% bener. Kalau mau yang lebih bener lagi, ya lihat berita, dimana konvensi minyak ke gas cukup banyak memakan korban. Diantaranya adalah tabung yang meleduk karena kualitas bahannya kurang baik. Platnya tipis, begitu katanya.
Ka sendiri sampai sekarang ini juga belum punya tabung, tapi untungnya ada temen yang dia lebih beruntung dari ka karena dapat kompor jatah pembagian. Nah, tuh orang lagi butuh duit, akhirnya digadein dah tuh tabung 3 kg dari jatah pembagian.
Akhirnya, berhasil juga keluarga saya melakukan konvensi minyak ke gas secara mandiri dan dengan kesadaran sendiri. Bravo mamah !!!
