|
Tadi baru aja liat di TV, ada pembagian zakat, kalau tidak salah di Pasuruan. Seorang dermawan membagikan zakat yang besarnya Rp. 30.000 per orang kepada para fakir miskin. Yang datang sampai ribuan orang dan kebanyakan ibu-ibu yang sudah tua alias semi nenek-nenek.
Memang bagus sih apa yang dilakukan orang dermawan itu, siapa yang bisa menyalahkan orang yang mau berzakat sih? Namun yang sangat disayangkan sampai ada jatuh korban tewas hanya demi uang Rp. 30.000. Ka sendiri melihat tayangan itu, bagaimana diantara kaki-kaki lusuh dan keriput itu, tersembul tangan dan kepala seorang ibu yang jatuh. Tangannya menggapai-gapai minta pertolongan, tapi ibu-ibu yang lainnya yang tepat berdiri diatasnya tetap tak bergeming. Terus memegang pagar agar tidak terdesak oleh yang lainnya. Lama-lama ya tewas juga tuh orang karena terinjak-injak. Yang tewas kalau tidak salah puluhan orang, belum lagi yang luka-luka. Zakat memang suatu hal yang wajib dilaksanakan bagi ummat islam yang memiliki kemampuan harta untuk berzakat. Tapi seharusnya seorang yang berzakat itu jangan minta didatangi oleh orang yang akan menerima zakat. Zakat yang bagus tuh kalau seorang pemberi zakat yang mendatangi orang yang akan diberikan zakat. Kejadian seperti ini kan tidak terjadi sekali di negeri kita. Terus berulang, dan berulang tanpa ada penyelesaian. Ka jadi miris juga melihatnya. Sekarang ini, sepertinya banyak dermawan "bodoh" yang ingin berbuat baik tapi kurang persiapan. Sudah tahu kondisi bangsa ini sedang carut-marut, banyak orang yang fakir & miskin. Seharusnya berfikir sedikitlah..., kalau mau membagi-bagikan zakat, lihat baik buruknya dulu. Membagi-bagikan zakat dengan jumlah besar kok di rumahnya sendiri, malah bikin repot, bikin jatuh korban, bikin urusan dengan penegak hukum. Harusnnya bisa lebih bijak lagi, misalnya menyalurkan melalui amil zakat porfesional yang akan mendistribusikan zakat secara lebih luas dan merata. Atau kalau memang mau sedikit repot, datangilah panti-panti asuhan anak yatim, atau tempat-tempat sejenisnya. Jangan malah mengundang orang banyak kerumah. Dengan pengamanan yang tidak memadai, justru yang terjadi malahan mudharat. Selain itu, jadi malu juga kan sama orang-orang non muslim. Kata mereka mungkin "Liat tuh, orang-orang islam, demi uang yang tidak seberapa aja sampai mati-matian !" Jadi ingat ketika seorang pakar yang juga trainer marketing, Tung Desem Waringin akan menyebar uang + undangan seminar senilai Rp. 100.000.000 dar pesawat. Ketika itu heboh dibeberapa media, bahkan di Radio Elshinta sampai ada dialog interaktif yang menampilkan pembicara Imam Prasojo Vs anak buahnya Tung Desem. Mereka membahas tentang apa yang akan dilakukan Mas Tung. Mas Imam Prasojo merasa apa yang dilakukan Mas Tung itu melecehkan rakyat Indonesia, karena mau bagi-bagi uang kok pake disebar lewat pesawat. Sedangkan anak buahnya Mas Tung membela diri dengan mengatakan hal itu sebagai strategi pemasaran. Nyatanya begitu Mas Tung menyebar uang, tidak ada korban jiwa tuh, Setidaknya Mas Tung telah merealisasikan impian anak-anak kita dulu. Ketika kecil kita kan selalu diajarin kalau ada kapal (pesawat) lewat maka teriak "Kapal minta duit !". Nah kapal yang disewa Mas Tung akhirnya menyebarkan duit. Intinya, kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia sedang kelaparan rakyatnya. Apapun yang sifatnya bagi-bagi pasti akan diserbu rakyat dengan antusias. Tidak perduli dengan sesamanya, saling dorong, saling sikut, saling desak, sampai akhirnya jatuh korban jiwa. Nggak tega deh kalau ngeliat kayak begituan. Muka-muka orang susah yang di eksploitir untuk kepentingan dan kepopuleran seseorang. Kita liat para politikus juga demikian, datang ke sekumpulan orang susah, kemudian berbagi dengan mereka. Menggendong anak-anak diantara mereka. Tertawa-tawa, bahkan sampai nyuapin makanan segala. ENEK kalau ngeliat para politikus macam begitu. Menjelang pemilu, semua turun kebawah. Selesai pemilu, jangan harap rakyat bisa menyentuh mereka ! Kok jadi keluar pembicaraan?! Biarin deh, biez pusink mikirin bangsa ini.
|