Sulitnya mencairkan tunjangan fungsional guru non PNS
Ditulis Oleh Kakbayu
Jumat, 09 Desember 2011
Mungkin, guru non PNS kota Depok yang paling sial adalah saya. Karena sudah 2 tahun namanya ada dalam daftar penerima tunjangan fungsional guru non PNS, tepatnya tahun 2010 dan 2011, namun kedua-duanya gagal untuk dicairkan (kecuali 2009 yang cair dengan tepat waktu).
Pada 2010, kesalahan terjadi di Dinas Pendidikan kota Depok dalam merekap data saya. Nama bank saya ditulis BTN, padahal sewaktu saya ajukan, bukan BTN, tapi Muamalat. Gagal cair, sudah diurus 3 kali, sampai Desember 2011 belum cair juga. Kisah lengkapnya bisa dibaca disini
PNS atau Guru? Ini adalah pertanyaan yang agak sulit untuk saya jawab. Namun yang pasti, saya tetap ingin menjadi guru meskipun tidak harus diangkat menjadi PNS. Saya sudah mencintai pekerjaan ini, saya sudah siapkan semuanya untuk menjad guru yang lebih profesional, mulai dari buku-buku teoritis, filsafat dan praktis dari mata pelajaran yang saya ajarkan sampai menyiapkan dana pensiun sendiri agar sebagai pensiunan guru saya bisa hidup lebih baik secara mandiri. Meskipun saya tidak diangkat menjadi PNS, asal ada jaminan saya tetap mengajar sampai tua, saya mau-mau saja.
Atau jikapun suatu saat saya diberhentikan dari sekolah dimana saya sekarang mengajar, saya sudah siap untuk menjadi guru 100%, guru les privat untuk mata pelajaran matematika, fisika dan komputer. Saya beranggapan, PNS itu hanya ekses saja, jika memang Allah menganggap saya pantas menjadi PNS, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Jika memang Allah menginginkan saya tetap menjadi guru honorer agar kualitas mengajar saya tetap baik, saya pun siap dan dari jauh hari seperti saya sudah katakan, saya sudah menyiapkan investasi untuk masa pensiun saya dan semoga sesuai harapan. Saya inginnya sih mau pensiun sebagai guru, bukan sebagai PNS nya. Oh iya, mengapa saya katakan bahwa "Jika Allah menginginkan saya tetap menjadi guru honor agar kualitas mengajar saya tetap baik..." Karena yang saya lihat banyak orang yang justru setelah mereka diangkat menjadi PNS, mereka menjadi bekerja seenaknya, karena merasa aman dan tidak akan mudah diberhentikan dari pekerjaanya. Bahkan ada yang sudah PNS bersertifikasi pun kinerjanya malah lebih buruk. Jadi tidak jaminan sebenarnya itu semua.
Guru itu adanya dihati, dan ilmunya dikepala. Bukan di NIP maupun di pin Korpri yang selalu menempel pada bajunya.
Saya sudah menikmati mengajar ditempat saya sekarang. Malahan kadang saya suka berpikir, jika suatu saat nanti diangkat, saya akan dimutasi dan tidak mengajar di SDN Beji Timur 1 lagi. Ya, kalau melihat jurusan saya, bisa-bisa malah mengajar di SMP atau bahkan SMA. Padahal saya maunya tetap di SD ini sampai ya sekitar 20 tahun lagi ;). Saya tetap mau menjadi guru TIK dan mengajar privat matematika SMP/SMA seperti sekarang ini. Ini sepertinya sudah cuku membuat saya berada di zona nyaman. Ya tapi, semua tidak ada yang abadi. Mungkin suati saat saya harus keluar dari zona nyaman ini, dan mudah-mudahan masuk di zona nyaman lainnya juga.
Jadi intinya bagi saya status guru lebih penting dibandingkan PNS, dan jikapun saya berhasil jadi PNS, saya berharap tetap menjadi guru. Saya sangat mencintai buku-buku, papan tulis, spidol, derit pintu kelas, teriakan anak-anak ketika saya katakan hari ini ulangan, belajar dan mengajar ! Semoga yang terbaik yang di berikanNya !
Sebagai guru les matematika yang telah beroperasi selama lebih dari 5 tahun, saya sering menemukan kesulitan anak dalam memahami soal-soal cerita.
Sebenarnya sih lebih banyak dikarenakan mereka malas saja untuk membaca, apalagi sampai menelaah dan memahami maksud soal tersebut. Ada juga yang membaca soal tidak tuntas dan langsung mengambil keputusan untuk menjawab, jadi salah presepsi. Dan yang paling parah ada yang sudah membaca berulang-ulang, tapi gak paham-paham maksud soal tersebut.
Saya pernah bertanya kepada mereka, apa yang membuat mereka "takut" dengan soal cerita? Jawabnya: Malas menulis dan malas membaca soalnya. Ya kalau sudah malas, mau apa lagi?
Malas menulis dan malas membaca yang terjadi pada anak-anak sekarang mungkin disebabkan banyaknya kemudahan yang mereka dapatkan sekarang dalam belajar. Materi pelajaran, tinggal lihat dibuku, foto copy atau di copy-paste aja pakai flashdisk terus buka di laptop. Jadi mengurangi menulis. Memang bagus sih, modern dan praktis, tapi perlu diingat, belajar hanya dengan membaca lebih mudah lupa, kita tetap harus menyalin (menulis), lalu mempraktekannya. Meskipun punya buku paket, saya rasa tetap murid harus menulis, khususnya pelajaran matematika.
Hari ini kita merayakan hari pahlawan. Tanpa tahu apa sih sebenarnya pahlawan itu? Kenapa orang dapat dianggap pahlawan?
Pahlawan bukanlah sebuah ukuran pasti. Ketika seorang mendapatkan gelar pahlawan, bukan berarti seluruh manusia menganggapnya pahlawan. Coba saja tanya pada orang Belanda, siapa sih Sultan Agung? Pangeran Diponegoro? Teuku Umar? Cut Nyak Dien? Bagi orang Belanda mereka adalah pemberontak. Namun bagi bangsa Indonesia mereka adalah manusia-manusia yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara ini hingga pantas diberi gelar pahlawan nasional.
Seorang bapak yang mati dibakar masa karena tertangkap mencuri untuk memberi makan anak istrinya, adalah pahlawan bagi anak istrinya. Karena dia tewas demi mereka, meskipun caranya salah karena mencuri dalam himpitan ekonomi. Tapi bagi yang mengeroyoknya, dia tidak lebih dari maling.
Ketika terjadi perdebatan tentang pantaskah Soeharto diberi gelar pahlawan nasional, bagi orang-orang yang pernah merasakan nikmatnya hidup dari Soeharto, mungkin setuju jika beliau diberi gelar pahlawan. Namun bagi tapol/napol, sangat tidak adil jika sampai beliau diberi gelar pahlawan.
Jadi pahlawan adalah bagaimana cara kita memandang jasa seseorang terhadap kita, saya rasa begitu dan tidak lebih.
Guru honorer di Kota Depok Resah. Mereka mempertanyakan apakah uang
transpor sebesar Rp. 150.000 per bulan berasal dari APBD Kota Depok atau
bukan.
Ketua Asosiasi Guru Honorer Kota Depok, Mahmudin, di
ruang kerjanya hari rabu (31/3) mengatakan, pihaknya menginginkan
kepastian itu karena terkait dengan pembahasan revisi PP No. 48 Tahun
2009 tentang Guru Honorer. Salah satu pembahasannya adalah guru honorer
akan langsung diangkat menjadi PNS asalkan pemerintah kota menggaji guru
honorer dengan menggunakan dana dari APBD.
Sebelumnya, dalam
penjelasannya, Kepala Bagian Kepegawaian Pemkot Depok Agung Sugih
mengatakan bahwa uang honor transpor guru honorer di Kota Depok bukan
dari APBD. Dana APBD hanya digunakan untuk tenaga honoren Pemkot Depok
sebanyak 110 orang.
"Setahu saya pembayaran uang transpor itu
melalui SK Walikota, dan itu pasti pakai APBD, kami jadi bingung," ujar
Mahmudin.
Ketua Komisi A DPRD Depok juga mendesak pemkot segera
memberikan keterangan yang jelas apakah uang transpor tersebut dari APBD
atau bukan. Selain itu, pihaknya meminta untuk dilakukan verifikasi
data jumlah guru honorer Kota Depok.
"Kami nanti akan duduk
bersama untuk melakukan verifikasi data jumlah guru honorer," ujarnya.
Meski
begitu, kata dia, guru honorer tidak usah khawatir karena Kementrian
Pemberdayaan Aparatur Negara akan menerjunkan tim ke tingkat
kota/kabupaten untuk memverifikasi jumlah guru honorer serta kepastian
apakah honor mereka itu memakai dana APBD atau bukan.
Membaca headline koran monde hari ini (Kamis, 1 April 2010), saya merasa sedih sekali. Sama seperti judul postingan ini, Guru Honor Dipecat. Semudah itukah memecat guru di republik ini? Apakah tidak mempertimbangkan jasa mereka selama mengajar? Saya juga adalah guru honor di SDN Beji Timur 1 (NUPTK : 3533 7586 6020 0033). Atas pertimbangan kepala sekolah, saya diberikan kesempatan untuk mengajar pada bidang Teknologi Informasi & Komunikasi. Saya adalah guru pertama yang mengajar pada bidang ini di SDN Beji Timur 1 sejak 5 Maret 2005 sampai sekarang. Sekolah kami pun pernah mendapat juara 1 tingkat kecamatan pada bidang Teknologi Informasi & Komunikasi, sedang pada tingkat Kota kami di WO karena tidak mendapatkan informasi waktu lombanya.
Selain mengajar, guru-guru seperti saya ini sering membantu guru-guru lain agar melek Teknologi Informasi , membantu administrasi, menjadi operator sekolah pada website layanan Dapodik. Saya rasa masih sedikit apa yang sudah saya lakukan sebagai guru honor terhadap sekolah dimana saya ditempatkan dibanding dengan rekan-rekan saya yang lebih senior, yang kemudian dipecat. Mungkin pengunjung dapat membaca pada koran Monde tersebut.
ReaktifSolusi masalah penyaluran BBM subsidiSenin, 29 November 1999 | KakbayuPemerintah sepertinya bingung bagaimana caranya agar BBM bersubsidi (premium) tersalurkan ke... -
Orang biasaBerantem LagiJumat, 12 Februari 2010 | kakbayuAduh pusing banget, emak-bapak ku berantem lagi, Cuma gara-gara diriku minta nikah. Ampun deh !... -
Gue blogger jugaPeradaban Melek ITSenin, 29 Maret 2010 | kakbayuJaman sekarang, yang namanya IT sudah menjadi sebuah kebutuhan dalam
berbagai bidang profesi... -
Bintang PrestasiYuniar Devi PratiwiSabtu, 23 Juli 2011 | KakbayuYuniar Devi PratiwiNISN : 9975152560Prestasi :> Juara I Lomba Siswa... -
Orang biasaTahun Baru Nasib BaruJumat, 31 Desember 2010 | kakbayuHari terakhir di tahun 2010, banyak hal yang sudah berhasil saya gapai, banyak juga yang belum.... -