PNS atau Guru? Ini adalah pertanyaan yang agak sulit untuk saya jawab. Namun yang pasti, saya tetap ingin menjadi guru meskipun tidak harus diangkat menjadi PNS. Saya sudah mencintai pekerjaan ini, saya sudah siapkan semuanya untuk menjad guru yang lebih profesional, mulai dari buku-buku teoritis, filsafat dan praktis dari mata pelajaran yang saya ajarkan sampai menyiapkan dana pensiun sendiri agar sebagai pensiunan guru saya bisa hidup lebih baik secara mandiri. Meskipun saya tidak diangkat menjadi PNS, asal ada jaminan saya tetap mengajar sampai tua, saya mau-mau saja.
Atau jikapun suatu saat saya diberhentikan dari sekolah dimana saya sekarang mengajar, saya sudah siap untuk menjadi guru 100%, guru les privat untuk mata pelajaran matematika, fisika dan komputer. Saya beranggapan, PNS itu hanya ekses saja, jika memang Allah menganggap saya pantas menjadi PNS, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Jika memang Allah menginginkan saya tetap menjadi guru honorer agar kualitas mengajar saya tetap baik, saya pun siap dan dari jauh hari seperti saya sudah katakan, saya sudah menyiapkan investasi untuk masa pensiun saya dan semoga sesuai harapan. Saya inginnya sih mau pensiun sebagai guru, bukan sebagai PNS nya. Oh iya, mengapa saya katakan bahwa "Jika Allah menginginkan saya tetap menjadi guru honor agar kualitas mengajar saya tetap baik..." Karena yang saya lihat banyak orang yang justru setelah mereka diangkat menjadi PNS, mereka menjadi bekerja seenaknya, karena merasa aman dan tidak akan mudah diberhentikan dari pekerjaanya. Bahkan ada yang sudah PNS bersertifikasi pun kinerjanya malah lebih buruk. Jadi tidak jaminan sebenarnya itu semua.
Guru itu adanya dihati, dan ilmunya dikepala. Bukan di NIP maupun di pin Korpri yang selalu menempel pada bajunya.
Saya sudah menikmati mengajar ditempat saya sekarang. Malahan kadang saya suka berpikir, jika suatu saat nanti diangkat, saya akan dimutasi dan tidak mengajar di SDN Beji Timur 1 lagi. Ya, kalau melihat jurusan saya, bisa-bisa malah mengajar di SMP atau bahkan SMA. Padahal saya maunya tetap di SD ini sampai ya sekitar 20 tahun lagi ;). Saya tetap mau menjadi guru TIK dan mengajar privat matematika SMP/SMA seperti sekarang ini. Ini sepertinya sudah cuku membuat saya berada di zona nyaman. Ya tapi, semua tidak ada yang abadi. Mungkin suati saat saya harus keluar dari zona nyaman ini, dan mudah-mudahan masuk di zona nyaman lainnya juga.
Jadi intinya bagi saya status guru lebih penting dibandingkan PNS, dan jikapun saya berhasil jadi PNS, saya berharap tetap menjadi guru. Saya sangat mencintai buku-buku, papan tulis, spidol, derit pintu kelas, teriakan anak-anak ketika saya katakan hari ini ulangan, belajar dan mengajar ! Semoga yang terbaik yang di berikanNya !
Anda guru? Jika iya, coba lihat berapa judul buku koleksi ada? Jika anda guru yang sudah sarjana, coba lihat berapa judul buku yang sudah anda miliki yang sesuai dengan background pendidikan kesarjanaan anda?
Ketika saya berkunjung ke rumah teman yang istrinya seorang perawat, banyak sekali buku-buku keperawatan yang tertata rapi di lemari bukunya. Apalagi kalau seorang dokter, mungkin akan lebih banyak lagi koleksi buku yang sesuai dengan latar profesi dan pendidikannya. Nah kalau guru?
Yang sudah-sudah sih ketika saya berkunjung ke rumah teman yang sama-sama guru, banyak yang tidak memiliki koleksi buku. Yang ada hanya tumpukan-tumpukan kertas sisa-sisa kerjaan sekolah atau buku-buku kuliahnya dulu yang jarang dibaca dan mungkin belum sempat diloakin . Atau mungkin hanyalah buku pelajaran sekolah yang diberikan penerbit untuk sampel pegangan guru. Dalam artian banyak guru yang tidak mengalokasikan pos anggaran dari gajinya untuk belanja buku. Ayo ngaku jujur saja .
Ini sangat disayangkan kalau sampai anda yang seorang guru tidak tertarik untuk mengoleksi buku-buku pengetahuan yang sesuai dengan latar pendidikan dan bidang studi yang anda ajarkan.
Membeli buku adalah sebuah investasi, itu pola pikir yang harus kita punya. Dengan buku, kita bisa lebih memprofesionalkan diri kita dimata orang lain. Ketika orang berkunjung kerumah kita, mereka melihat jajaran buku di rak buku kita, setidaknya sekilas mereka akan bisa menilai tingkat intelektualitas kita, dan ini penting bagi seorang guru atau pengajar.
Percuma saja menurut saya, kalau kita kuliah S2 namun koleksi buku kita hanya sekedarnya saja. Mending tidak kuliah namun rajin baca dan koleksi buku, wawasannya bisa mengalahkan yang S2. Ini berlaku buat para pemuja ilmu ya, bukan para pemuja ijazah. Jangan sampai kita jadi tong kosong nyaring bunyinya, sarjana tanpa buku tanpa ilmu.
Mulai saat ini, jadikan buku sebagai bagian dari sembako juga, maksudnya kita beli buku karena merasa butuh, bukan karena dipaksa oleh dosen misalnya. Karena intelektualitas seseorang bisa dinilai dari buku-buku yang dikoleksi dan dibacanya, ini penting bagi guru/pengajar khususnya dan para insan pendidikan umumnya.
Memang tidak ada yang gratis di dunia ini, termasuk diantaranya jika kita meminjamkan uang kepada bank alias menabung.
Kaget saya ketika menyetor uang ke rekening Shar-e Bank Muamalat saya sendiri di kantor pos. Yang sebelumnya gratis, kini kena biaya Rp. 9.900. Begitu juga ketika saya topup reksadana via bank Permata terkena biaya Rp. 2.000, padahal sebelumnya tidak. Belum lagi biaya bulanan sebesar Rp. 7.500, biaya cek saldo via telepon Rp. 3.000, biaya tarik ATM error Rp. 1.500. Error aja masih bayar, kalau yang gak error tentu saja bayar juga.
Memang produk tabungan yang semakin memudahkan justru semakin mahal biayanya. Namanya mungkin biaya "kemudahan". Jadi kalau saldo kita kecil, alih-alih dapat bagi hasil, yang ada malah lama-lama habis saldo kita.
Untuk itu, kitalah yang harus pandai-pandai. Caranya:
2. Tabunglah uang dirumah dulu, setelah besar baru setorkan ke bank, ini untuk mengefisiensi jika bank anda mengenakan biaya setoran.
3. Kalau tidak penting sekali, jangan buka rekening, karena tiap rekening ada biayanya.
4. Taruh di deposito lebih utama daripada rekening biasa.
5. Kurangi frekuensi penarikan dengan cara hitung lebih teliti kebutuhan apa saja yang anda ingin penuhi, kemudian tarik dari rekening untuk memenuhi semuanya. Jangan sampai 2-3 kali bolak-balik ke bank/ATM jika bank anda mengenakan biaya tarik tunai.
Ya, dijaman seperti ini, disaat semuanya tidak gratis, kitalah yang harus pandai-pandai mensiasatinya.
Surat TerbukaLayanan Esia memang aneh !Kamis, 11 Maret 2010 | kakbayuKemarin malam tepatnya tanggal 14 Maret 2010, saya salah mengirimkan SMS melalui operator Esia.... -
E-LifePush Email vs Pull EmailMinggu, 03 Oktober 2010 | KakbayuSaat ini, email sudah menjadi suatu kebutuhan dalam berkomunikasi. Surat elektronik (surel) yang... -
I am Is Ordinary ManMakin Canggih Makin MurahSelasa, 20 Juli 2010 | kakbayuDapat tugas dari bos untuk menambah "alutista" ruang komputer. Tepatnya
3 buah monitor CRT... -
I am Is BloggerHari yang melelahkanSabtu, 06 Maret 2010 | kakbayuBada rasanya capek semua, gimana enggak capek, habis muter-muter didalam hutan kota Universitas... -