Salah satu yang membuat saya bersyukur adalah kalau mendengar berita ada metromini dibakar masa , sebabnya apa? Oke saya ceritakan
Pulang kerja dari Sudirman sudah jam setengah sepuluh malam, naik metromini Pasar Minggu-Tanah Abang menuju Pasar Minggu. Metromini berjalan malas-malasan, lantaran penumpangnya pada ngantuk, eh tinggal sedikit maksudnya dan memang pada mengantuk.
Memasuki Pancoran, nih metromini rupanya menunjukan gelagat mau "mogok" sepertinya ada yang ditunggu, apalagi kalau bukan metromini temannya sendiri yang satu jurusan.
Tiba-tiba ada metromini jurusan yang sama lewat, dengan sigap supir dan kenek metromini yang saya naikin memberikan isyarat mau mengoper (memindahkan) penumpangnya. Metromini tersebut berhenti kurang lebih 10 meter didepan metromini saya.
Kenek pun berteriak "oper..oper...!" Penumpang dengan malas-malasan sambil menggerutu marah, namun tetap saja menuruti kata kenek itu. Begitu semua turun dan berjalan menuju metromini yang berhenti didepan tadi sambil setengah bermimpi, lelah setelah bekerja seharian. Tiba-tiba metromini yang saya tadi naikin langsung tancap gas.
Melihat itu, metromini yang tadinya akan mengambil penumpang operan langsung cepat-cepat lari, keneknya langsung meloncat dan supirnya tancap gas juga.
Terbengong-bengonglah kami semua, penumpang ditengah malam gerimis, ditinggal oleh 2 metromini, belum sampai tujuan dan uang ongkosnya tidak dikembalikan
Rupanya metromini tersebut ikut-ikutan lari karena metromini yang saya naikin tidak memberikan ongkos kepada keneknya dan malah kabur, rupanya dia gak mau rugi dan ikut kabur juga.
Semenjak saat itu, saya selalu berdoa supaya metromini banyak yang dibakar masa, dan sepertinya doa saya terkabul
Guru honor, dituduh menganiaya, langsung ditahan dan disidang. Cepat sekali kalau dibandingkan dengan para koruptor yang bisa melenggang kesana-kemari meskipun sudah jelas terindikasi terlibat korupsi.
Guru honor adalah guru yang dibayar oleh sekolah yang mengangkatnya, honornyapun sering jauh dibawah standar, padahal tanggung jawab dan kerjanya relatif sama dengan guru tetap atau PNS, bahkan kadang ada tugas lebih.
Seperti saya, guru honor di kota Depok dengan seabrek pekerjaan. Sebagai guru, sebagai bendahara sekolah, sebagai operator sekolah, bantu-bantu administrasi BOS, RAPBS RAKS, dll. Tidak jarang kerjaan-kerjaan itu harus dibawa kerumah untuk diselesaikan sampai begadang-begadang. Banyak guru honor seperti saya atau bahkan yang lebih berat kerjanya. Bersyukurnya, sudah 2 kepala sekolah yang saya alami, kedua-duanya cukup pengertian dan perhatian, belum lagi rekan-rekan sesama guru. You all my the best partner
Tapi dilain sekolah, ada juga guru honor yang sudah bekerja maksimal namun kurang diperhatikan atasannya, rekan-rekannya ataupun orang tua wali murid. Beban kerja dan kurangnya perhatian ini tentu dapat mengakumulasi kekecewaan dan berujung pada emosi yang labil, kesabaran dalam menghadapi anak didik yang semakin rendah dan lama-kelamaan berpengaruh kepada kinerjanya. Apalagi kalau melihat guru yang sudah diangkat menjadi PNS "bekerja seenaknya," mentang-mentang tidak akan mudah dipecat. Beda dengan guru honor, salah sedikit, bisa tidak "digunakan" lagi.
Kiranya, selain perhatian dan rasa kebersamaan antara rekan yang memang sangat dibutuhkan dalam menunjang kinerja guru honor (PNS juga demikian), kesejahteraaan yang lebih diperhatikan, juga perhatian dari Dinas yang menaunginya, kiranya harus cepat tanggap ketika ada masalah pada guru honor yang bekerja dibawahnya.
Contoh saya, ketika Dinas Pendidikan Kota Depk Jawa Barat salah menginput data tunjangan fungsional saya, yang mengakibatkan sampai saat tulisan ini diposting, belum menerima tunjangan fungsional 2010. Seharusnya Dinas Pendidikan bisa lebih bertanggung jawab untuk segera cepat menyelesaikannya. Saya sudah diminta 3 kali mengumpulkan data ulang, namun masih belum cair sampai saat ini (sudah setahun), tentu saja ini mempengaruhi kinerja saya, bekerja dengan rasa kecewa, tidak maksimal. Namun saya tetap tidak akan menganiaya muridlah la..la..la...
Apalagi kalau diingat-ingat ketika saya yang harus menginput data untuk Dinas Pendidikan, misalnya data BIOS nilai kelas 6, BIOS UASBN, NISN,pengajuan BOS, saya diminta teliti dan jika ditemukan ada masalah, segera saya ditelepon untuk memperbaikinya. Secara manusiawi, wajar saya kecewa, dan pasti jujur saya akui akan membuat kinerja saya menurun. Guru juga manusia
Semoga tulisan ini dibaca oleh seorang yang memiliki wewenang dan bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita, insan pendidikan semua.
Sudah lama gak posting dan menyapa anda semua, dan selama berlalu itu ada banyak kejadian yang kayaknya perlu dituliskan disini.
Pertama mengenai sewa hosting blog ini yang akan habis tanggal 24 September dan belum saya bayar. Kalau sampai telat, hilanglah blog ini dari peredaran di dunia maya :) <sekarang tapi udah !>
Kenapa sih kok gak pake yang gratisan kaya blogspot atau wordpress? Iya juga ya, tapi saya lebih suka pakai yang berbayar, lagian juga gak mahal-malah amat. Selain lebih custom, tentu saja ada support yang selalu bisa saya salahkan ketika web ini gak tampil .
Ngomongin masalah tawuran antara pelajar dan wartawan, emang susah ya yang namanya tawuran dipisahkan dari pelajar. Mulai dari SD, SMP, SMA bahkan sampai mahasiswa juga pada tawuran. Anak SD baru belajar tawuran, anak SMP mulai hobby tawuran, anak SMA jadi maniak tawuran. Nah kalau mahasiswa karena sudah lebih pinter mungkin tawuran merupakan ideologi bagi mereka.
Sepertinya memang sulit untuk memisahkan budaya tawuran dengan para pelajar kita. Kok cuma pelajar saja yang dibahas? Kan ada juga warga atau masyarakat adat yang memang mereka tidak terpelajar tawuran? Justru itu, kalau orang tidak terpelajar tawuran, masih wajar. Tapi kalau orang terpelajar tawuran, ini yang sangat tidak wajar. Perlu sanksi tegas bagi para pelajar yang tawuran, misalnya pecat dari sekolah. Kalau sekolahnya gak mampu, pecat tenaga pendidiknya, ganti dengan yang mampu tegas terhadap anak didik, toh ini semua demi kebaikan mereka juga.
Satu lagi mengenai maraknya kasus pemerkosaan diangkot, gubernur Jakarta mengatakan yang intinya "jangan pake rok mini kalau naik angkutan umum." Pernyataan yang lugas namun menurut saya tepat langsung disambut demo ibu-ibu dengan rok mini bahkan ada anak 8 tahun dipakaikan rok mini juga ikut berdemo bersama mama nya. Mau diapain tuh bu anaknya? Mau dikobanin ke pedofil? Ibu mah kemana-mana naik mobil pribadi, mau telanjang didalam mobil juga aman. Nah wanita-wanita lainnya bagaimana? Meskipun dia tidak memakai rok mini, tapi gara-gara penjahat horny lihat ibu demo, akhirnya yang kena yang berpakaian sopan juga. Begitu juga tayangan TV, bikin laki-laki "puyenk", anak tetangga mau ngaji pake jilbab yang malah jadi sasaran.
Untuk kali ini saya setuju dengan Bang Foke, pemimpin itu harus punya pemikiran simpel dan lugas, jangan normatif melulu seperti papa SBY. Capek kita dengerin pemimpin yang normatif. Harus to the point ! Kalau negara ini tidak bisa maksimal melindungi kita, maka kita yang harus bisa setidaknya mengurangi resiko terhadap diri kita. Coba bu Ratna Sarumpaet naik angkot jam 1 malam pake rok mini, dikawal polisi pula, salah-salah oknum polisinya yang malah memperkosa ibu. Ingatkan kasus pemerkosaan yang dilakukan oknum polisi terhadap gadis abg pacar pengedar narkoba yang katanya mau diantar pulang setelah pemeriksaan malah dibawa ke hotel.
Jadi bu Ratna, jangan memperkeruh keadaan. Wanita harus jaga dirinya sendiri, caranya berbusana yang tidak menggoda, minta diantar saudara laki-laki atau ortunya, nah dilain pihak pemerintah terus memperbaiki tingkat keamanan juga. Nah kan nanti ketemu ditengah bu. Sekali lagi biarpun katanya bang Foke ngomongnya sambil cengengesan, tapi apa yang dikatakannya benar, setidaknya menurut saya yang seorang guru.
Kalau anda tidak mau kemalingan, kunci pintu rapat-rapat, pasang alat keamanan dan selalu waspada. Jangan rumah diablakin, gak dikasih pintu pas kemalingan nyalahin polisi.
Sebagai orang tua, apalagi ibu-ibu harusnya lebih mawas diri, demo pake rok mini apakah pantas bersama anaknya lagi. Nanti ada pemerkosaan masal nyalahin pemerintah lagi... Capek dech !
WacanaPembatasan BBM BersubsidiSenin, 04 Oktober 2010 | KakbayuPemerintah kebakaran jenggot gara-gara cadangan BBM hanya tinggal 31%. Diprediksi jika tidak... -
ReaktifProvokator Merayakan HUT IsraelRabu, 18 Mei 2011 | kakbayuDisaat bangsa Indonesia sekarang ini rentan dengan perpecahan, masih ada saja orang yang coba-coba... -
Bintang PrestasiAnnissa SuciyantiSenin, 25 Juli 2011 | KakbayuAnnissa SuciyantiNISN : -Prestasi :> Terpilih untuk mewakili... -
I am Is BloggerJadi Blogger Sedari KecilJumat, 16 April 2010 | kakbayuSi Fartan mau ganti URL, gayanya dia ngerti URL. Okelah, yang penting
dia dan alis tebalnya sudah... -
WacanaPolisi Takut Melanggar HAM?!Senin, 29 November 1999 | KakbayuPolisi takut melanggar HAM? Bagus berarti sudah ada kemajuan, tapi jangan juga segitunya donk.... -