 Saat saya menulis posting ini, sudah pukul 00.14, hari Senin. Artinya besok sudah mulai cuap-cuap lagi di depan bocah-bocah yang penuh tingkah selama seminggu. Kalau gak fit, dijamin kena radang tenggorokan.
Ada rasa jenuh juga setelah mengajar selama 6 tahun, jujur aja pengennya dagang gitu. Ya tapi masih terus mensyukuri nikmat diberi pekerjaan yang terpuji sebagai guru.
Oh iya, beberapa hari yang lalu ada kejadian, dimana saya sedikit melakukan "kekerasan" terhadap murid. Anak-anak yang ribut di kelas sebenarnya masih bisa saya tolerir, namun sebagian anak-anak meminta saya untuk marah. "Kakak mah payah, jadi guru gak pernah marah". Begitu kata beberapa anak ketika diluar jam belajar. "Memang harus marah dulu ya supaya guru dihormati? Ada gak cara lain supaya kalian hormat sama guru meskipun guru itu gak bisa marah?" Mereka sepertinya sepakat berkata "Tidak!, Guru harus bisa marah kak, kalau enggak, gak bakal dihormati!"
Siapa yang meracuni pikiran mereka, kok bisa-bisanya berpikir begitu? Negosiasi panjang tak membuahkan hasil kayaknya nih. Daripada berlarut-larut dan bikin suasana belajar menjadi tidak tenang dikarenakan sebagian mereka berisik dan mengganggu yang lainnya, sebagai guru pengganti, tentunya mereka tidak akan lebih menghiraukan saya ketika saya ajak berbicara, masih ada aja beberapa anak asyik dibelakang.
Terpaksa, tinggalkan dulu metode barat, pakai metode China. Malamnya, saya sampai gak bisa tidur, bagaimana besok dikelas, tuntutan sebagian murid khususnya yang wanita meminta saya untuk marah, menggebrak meja atau papan tulis seperti yang mereka "contohkan" kepada saya. Bukan tipe saya kalau begitu.
Akhirnya ketemu ide yang tidak terlalu baik juga sih. Begini step-stepnya:
1. Menyiapkan LKS komputer, ukurannya tipis dan isinya kertas buram.
2. Masuk kelas dengan wajah ramah.
3. Bertanya, mau belajar tertib atau tidak?
4. Memberikan pujian kepada anak yang tertib.
Dasar anak-anak, mereka tidak curiga ketika masuk jam matematika, saya membawa LKS komputer, ya iyalah... Lalu saya memulai kelas. Membahas soal, menerangkan, menghampiri meja mereka satu-persatu untuk membantu kesulitan mereka. Tapi, dikala saya sedang sibuk mendatangi meja yang satu, beberapa anak yang lain masih juga berisik, bercanda, melempar kertas, dan lainnya.
Beberapa siswa mencoba mengingatkan yang lainnya, tapi justru malah menambah kegaduhan.
Saya berjalan menju depan papan tulis, menerangkan salah satu pertanyaan murid. Saya mencoba bertahan untuk tidak marah, tapi suasana kelas semakin gaduh. Saya berbalik, saya lihat salah seorang murid laki-laki sedang menggoda murid perempuan yang duduknya berbeda meja. Saya lihatin, tapi malah menjadi-jadi. Mereka memang pernah mengatakan bahwa pelajaran yang saya ajar dianggap untuk santai, padahal saya mengajar matematika. Mereka juga tahu, saya guru yang gak bisa marah menurut mereka, padahal memang saya tidak mau marah aja. Ini dunia pendidikan, bukan jalanan.
Saya berjalan ke meja, saya ambil LKS komputer yang tipis, lalu saya pukulkan ke murid yang sudah keterlaluan tadi. Serentak suasana kelas menjadi hening, dalam hati saya malah mau tertawa.
Saya lanjutkan mengajar, sampai selesai dan tidak ada gangguan lagi. Setelah itu, ada seorang murid yang memberikan beng-beng. Ada murid lain juga yang mendekati saya, sambil malu-malu berkata dengan senyumnya"Saya baru lihat kakak marah!"
"Tolong jangan seperti ini lagi ya, kakak gak mau marah lagi!"
Mereka tetap hangat terhadap saya seperti biasanya, tetap SMS2an, bercanda. Namun ketika belajar, suasana sudah lebih aman terkendali.
Siapa yang harus disalahkan dengan perilaku anak seperti itu? Harus dimarahi dulu baru kooperatif. Sepertinya mereka sudah biasa dimarahi sebelum-sebelumnya. Padahal, saya sebagai guru sudah berusaha bernegosiasi, pendekatan satu persatu, memberikan perhatian. Sepertinya bahasa kebaikan lebih sulit diterapkan.
Anak-anak yang tertib dan rapi sepertinya hanya ada di sinetron aja, karena mereka "dipaksa" untuk shooting. Kalau disekolah, dipaksa guru. Dirumah, dipaksa orang tua. Ketika ketemu guru yang gak mau memaksa, hanya mengajak, memotivasi. Mereka kebal. Kalau dalam ilmu manajemen mereka maunya di comanding bukan di motivating. Memang, ketika anak sudah biasa dimarahi, dibentak, dipukul ketika mereka kecil oleh orang tuanya. Maka ketika disekolah, mereka lebih sulit untuk diarahkan dengan lembut, ya harus dengan marah, bentak dan pukul juga.
Tapi adakalanya orang tua protes anaknya dipukul guru, padahal banyak orang tua yang mendidik anak dengan main bentakan dan main tangan. Sehingga anak sulit dikendalikan lagi dengan kata-kata halus. Ketika guru yang juga manusia "kelepasan", jadi urusan yang berwajib deh.
Oke, kepada seluruh pelajar, hargai gurumu apalagi yang gak pernah marah. Kepada guru, Islam mengajarkan boleh memukul, namun jangan membuat bekas luka atau cedera, atau juga jangan melecehkan anak. Gunakan sikap sportif dalam menghukum, jangan ada dendam.
|