Sorry kalau judulnya terlalu vulgar, mau cerita tentang penyakit nih, yang gak mau ketularan silahkan meninggalkan halaman ini. Tapi sebelumnya kunjungi 4-5 halaman dulu ya...
Radang, itu nama penyakit yang sering menyerang saya. Radang Tenggorokan, itu nama lengkapnya. Setelah dulu amandel saya dioperasi, maka sudah tidak ada pertahanan lapis kedua lagi ditenggorokan. Jadi rentan banget kena radang. Kita sudah tahu bahwa amandel merupakan bagian dari pertahanan tubuh juga, jadi kalau sudah di operasi/diangkat, maka berkurang satu komponen pertahanan tubuh ini. Nah ini yang menyebabkan saya mudah sekali terkena radang.
Kalau sudah terkena radang, gak bisa dikasih obat biasa. Harus dikasih antibiotik Amoxycilin dan Dexthametason, baru dalam tempo kurang dari 3 hari insya Allah sembuh. Kalau seandainya cuma dikasih obat hisap, gak bakalan sembuh deh. Maka itu saya selalu sedia Amoxycilin dan Dexthametason dirumah. Tentunya harus hati-hati juga minumnya. Amoxycilin karena merupakan antibiotik, harus dihabiskan 1 papan meskipun sudah merasa sembuh.
Biasanya gejala radang tenggorokan saya sering diawali dengan pilek yang berat. Minum obat flu dari warung sudah gak mempan, sudah tahu deh apa yang harus saya lakukan. Satu hari setelah gejala, mulai terasa gak enak di tenggorokan. Kalau sudah gini, langsung minum antibiotik dan anti radang secepatnya kalau tidak mau drop.
Penyakit satu lagi yang sering menyerang saya adalah sakit kepala. Sampai-sampai dulu ada temen kuliah yang bilang saya kena kaker otak. Aduh, jangan sampe deh... Nah kalau kena sakit kepala, saya harus minum obat sakit kepala yang mengandung Parasetamol, Propifenazon dan kafein. Kalau Parasetamol doang, gak akan mempan. Biasanya saya gunakan Bodrex Migra atau Saridon, baru nyaman dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Hari ini, 1 Juni, adalah hari lahir dasar negara kita yaitu Pancasila. Romantisme bangsa kita terhadap Pancasila kembali muncul lagi. Mulai dari kepala negara, mahasiswa dan pelajar, memperingatinya sesuai dengan cara yang mereka pahami. Bagi presiden SBY dan mantan presiden Magawati Sukarno Putri, perayaan Pancasila tidak harus ada saling bertegur sapa diantara mereka berdua. Padahal waktu disekolah pernah diajarkan bahwa bertegur sapa dan menghormati sesama adalah pengamalan pancasila sila sekian butir sekian.
Mahasiswa "Pancasilais" merayakannya dengan mengusung NKRI harga mati dan harus berakhir bentrok dengan aparat yang juga "Pancasilais" dan mengusung NKRI harga mati. Para pelajar pun berpawai dengan meneriakan Pancasila, dan seolah mereka siap untuk berpusing-pusing jika akhirnya pelajaran Pancasila kembali wajib diajarkan disekolah, seperti dulu yang pernah saya alami, wajib menghapal butir-butir Pancasila.
Pancasila yang terdiri dari 5 sila, jika disarikan maka akan terdapat 5 macam karakter bangsa Indonesia, yaitu:
1. Bertuhan
2. Baradab
3. Bersatu
4. Bermusyawarah
5. Berkeadilan
Karakter ini merupakan bentuk sebab-akibat, dimana kalau diuraikan menjadi seperti dibawah ini:
Jika bangsa Indonesia bertuhan, maka bangsa Indonesia menjadi beradab. Jika bangsa Indonesia beradab, maka bangsa Indonesia menjadi bersatu. Jika bangsa Indonesia bersatu, maka segala permasalahan bangsa bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Jika bangsa Indonesia sudah mengedepankan musyawarah, maka Indonesia akan berkeadilan.
Karakter pertama (bertuhan) merupakan karakter dasar / pondasi. Sedangkan karakter-karakter pada sila selanjutnya merupakan tujuan dari karakter sebelumnya, dan merupakan pondasi untuk karakter selanjutnya, dan tujuan tertinggi terdapat pada karakter ke-5, yaitu menuju Indonesia berkeadilan.
Namun mengapa penerapan Pancasila dinilai gagal oleh banyak kalangan? Jawabannya cukup jelas, karena dalam ber Pancasila kita sering gagal menerapkan sila pertama. Kalau mau jujur, banyak orang Indonesia yang dengan terang-terangan tidak menjalankan ajaran agamanya. Dan itu bukan merupakan pelanggaran hukum dinegara ini. Jadi sila pertama yang merupakan pondasi dasar untuk menuju sila-sila selanjutnya sudah gagal ! Jadi jangan banyak bermimpi dengan Pancasila bangsa ini bisa maju kalau sila pertama belum dijalankan. Bagaimana cara menerapkan sila pertama? Pikirkan sendirilah, saya bukan orang pandai untuk urusan itu.
Wacana yang menginginkan Pancasila wajib diajarkan disekolah, menurut saya juga tidaklah terlalu efektif dan malahan akan menambah beban belajar anak didik kita yang memang sudah berat. Kecuali kalau Pancasila hanya diajarkan seperti halnya pelajaran Bimbingan Konseling, yang hanya dipelajari namun tidak diujikan, mungkin masih bisa lah. Namun jika sampai diujikan seperti dulu waktu saya sekolah, dimana para siswa diharuskan menghapal sila-sila Pancasila beserta butir-butir tiap silanya, pasal-pasal UUD 1945, GBHN, sangat berat dan sangat menguras waktu. Bagaimana menghadapi UN nanti? Dan ternyata tidak efektif untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Pancasilais.Lihat sekarang !
Pancasila tidak memiliki tokoh, itu juga merupakan kendala. Sekarang coba saya tanya, siapakan di negeri Indonesia ini yang bisa dijadikan panutan atau tokoh yang Pancasilais? Agar generasi muda bisa menirunya. Ada yang bisa jawab?
Janganlah kita terjebak pada romantisme Pancasila, bermimpi muluk-muluk menjadi bangsa yang Pancasilais, karena itu hanya membingungkan dan merupakan mimpi yang panjang. Bukan saya anti Pancasila, namun saya menganggap Pancasila sebagai sebuah konsensus antara setiap perbedaan yang ada, baik agama, suku, ras dan golongan di Indonesia. Pancasila adalah sebuah deklarasi moral dan toleransi tertinggi bersama bangsa Indonesia. Dan yang paling penting Pancasila bukanlah asas tunggal.
Jujur deh, lebih suka belanja di pasar modern apa di pasar tradisional? Untuk orang Depok Jawa Barat, lebih suka belanja ke Carefour Express atau ke pasar Depok Jaya? Atau pasar Kemiri?
Bukan bermaksud sombong, tapi saya merasa lebih nyaman aja belanja di Carefour Express. Pertama, harga sudah pasti, tertera pada labelnya. Dan saya termasuk orang yang tidak pandai menawar. Sedangkan pada pasar tradisional, kita bisa "dimakan" penjual kalau kita gak ngerti harga dan gak pandai nawar. Misalnya aja beli buah, kalau di Carefour kita bisa lihat harganya, ditimbang langsung tercetak labelnya. Sedangkan dipasar tradisional, baru nanya udah "ditembak" dengan harga tinggi. Setelah beli, sampai rumah, baru ketahuan kalau saya dibohongin tuh sama yang jual, kata orang rumah yang ngerti.
Selain itu, agak ngeri juga belanja di pasar tradisional karena ada pedagang yang menjual dagangannya dengan mencampur zat berbahaya. Pewarna buatan yang bukan untuk makanan, pengawet semacam borax dan formalin. Sering lihat di acara Reportase Investigasi pada sebuah TV swasta, banyaknya pedagang-pedagang nakal. Ikan asin dengan pemutih, telur asin palsu, jajanan anak-anak. Dan hampir semuanya rata-rata dijajakan di pasar tradisional.
Sedangkan kalau ke Carefoure atau minimarket lainnya, tentu saja setiap produk yang masuk diuji dengan ketat. Kalau ada laporan konsumen, maka pemasok itu bisa di blacklist dan tidak dibolehkan lagi memasok produknya ke pasar modern ini.
Tentu saja sebagai manusia kan kita bisa memilih yang menurut kita terbaik. Jadi, bukan saya mempromosikan sebuah merk pasar modern, namun pada kenyataannya memang demikian adanya. Saya dan keluarga lebih nyaman saja berbelanja di pasar modern.
Nah, saya mendengar berita di TV, bahwa pemerintah DKI menutup minimarket karena dekat dengan pasar tradisional. Seharusnya, selain menutup hendaknya pemerintah juga membina para pedagang di pasar tradisional, agar jujur dalam berdagang, jangan mau cari untung besar dengan mencampur produknya menggunakan zat-zat berbahaya yang harganya murah untuk membuat produknya awet, lebih menarik. Mana mau sih kita diracunin? Kebersihan juga perlu diperhatikan, jangan sampai bau pasar seperti Bantar Gebang. Kejujuran pedagang dalam menimbang dagangannya juga sangat merugikan konsumen, karena sering ditemui timbangan yang tidak terstandar di pasar tradisional. Selain itu bagaimana nasib karyawan minimarket yang ditutup itu? Mereka juga orang kecil. Biarkanlah semua berjalan dengan hukum pasar, rezeki sudah ada yang mengatur. Lagian tidak semua yang ada di pasar tradisional ada di minimarket / pasar modern, begitu juga sebaliknya. Saling melengkapilah. Karena jujur saja, pemerintah belum bisa membina dan mengembangkan pasar tradisional secara maksimal.
Kesan pertama ketika memasuki pasar tradisional adalah kumuh, bau, becek dan kadang tidak aman karena ada premannya. Saya pernah di pasar tradisional Tanah Abang dipalak preman, sampai bajaj saya diuber-uber dan tertangkap karena terjebak macet. Tidak aman !
E-LifePush Email vs Pull EmailMinggu, 03 Oktober 2010 | KakbayuSaat ini, email sudah menjadi suatu kebutuhan dalam berkomunikasi. Surat elektronik (surel) yang... -
Belajar Jadi KayaMembeli Reksadana OnlineMinggu, 13 Februari 2011 | kakbayuBaru mencoba membeli reksadana via internet, melalui danareksaonline.com . Ternyata cukup mudah dan... -
Bintang PrestasiAyu Denysa SiraitKamis, 11 Agustus 2011 | KakbayuAyu Denysa SiraitNISN : 9985054172Prestasi :> Nilai 100 pada Mid... -
E-LifeAlexa Rating WebSabtu, 03 April 2010 | kakbayuBanyak para blogger yang menulis tentang Alexa Rank. Baik menjelaskan
sejarahnya, tips & trik... -
Bintang PrestasiDyah Ayu PurwatiSabtu, 23 Juli 2011 | KakbayuDyah Ayu PurwatiNISN : -Prestasi :> Terpilih untuk demo... -