11 February 2017

Spirit 212 Bangkitkan Potensi Ummat Secara Politik dan Ekonomi

aksi damai 212
Gambar: unjkita.com
Aksi-aksi damai yang dilakukan ummat Islam banyak menarik perhatian khalayak. Aksi dengan massa yang jumlahnya luar biasa, tentu terlalu naif jika ada yang mengatakan bahwa massa sebanyak itu digerakan dan didanai hanya oleh tokoh politik. Jika memang demikian, saya menantang tokoh politik lainnya khususnya yang sedang berkuasa untuk menggerakan massa sebesar itu juga, apakah mampu? Jika tidak, berarti tuduhan anda kosong belaka karena memang anda tidak tahu apa-apa.

Saya sendiri jujur mengatakan bahwa tidak satupun dari aksi-aksi itu saya hadir, namun demikian saya termasuk yang menilai positif aksi-aksi damai tersebut. Jumlah massa yang banyak dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia, mereka bergerak serentak menuju satu titik di republik ini, mulai dari orang biasa sampai sosialita dan artis pun ikut turun meramaikan aksi tersebut. Logistik dengan sekala besar dikeluarkan, berapa ribu liter beras dimasak, berapa telur, daging, ayam, tempe, tahu dan lainnya dibuat untuk dibagikan. Tiket pesawat, tiket kereta, tiket bus, belum lagi carter bus parwisata bahkan sampai ada yang mencarter pesawat. Semua dilakukan demi siapa? Tokoh politik? Paslon Pilkada? Parpol atau ormas tertentu? Habib Rizieq? Ulama? Tidak, semuanya tidak! Mereka melakukan itu karena ada kesadaran iman mereka bahwa agama mereka dinistakan, mereka melakukannya karena Allah.


aksi damai 212
Gambar: Republika Online
Mereka dari berbagai macam ormas Islam, ormas nasionalis, parpol, tokoh masyarakat, artis, pengusaha, pejabat, dan juga ulama sebagai penyeru. Mereka ada yang dari Aceh, Batak, Lampung, Pulau Jawa, Kalimantan, Dayak sampai Papua bisa hadir di Jakarta. Hal yang tidak mungkin terjadi bahkan untuk pemilihan presiden sekalipun. Inilah potensi bangsa, khususnya potensi ummat Islam yang selama ini tidur. Mengapa bisa seperti ini? Tentu para ulama yang menyerukan aksi ini bukanlah main-main, bukan pamer massa, pamer kekuatan semata, tapi ada sesuatu yang benar-benar darurat yang mereka lihat dan pahami. Mereka hanya ingin menyelamatkan agama mereka yang telah sepakat dituangkan dan dijamin dalam Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Mereka ingin menyelamatkan bangsa, bukan menjual bangsa.

Saya yakin, yang hadir dalam aksi-aksi damai itu bagai fenomena gunung es, yang mendukungnya jauh lebih banyak lagi meskipun tidak bisa hadir semua di Jakarta. Jadi kalau ada yang mempertanyakan apakah yang melakukan aksi damai itu mewakili rakyat Indonesia atau bukan, sangat lucu sekali. Lalu kemana rakyat Indonesia jika mereka semua dinafikan sebagai rakyat? Coba tunjukan dimana rakyat Indonesia yang dikatakan silent majority?

Ulama-ulama yang memimpin mereka juga bukanlah ulama yang mencari dunia, karena kalau ulama pencari dunia, mudah saja, dekati saja penguasa, dukung penguasa, dan kalau perlu jilat sekalian, dijamin ulama itu bisa kaya raya.

aksi damai 212
Gambar: Okezone
Jujur, saya termasuk orang yang pernah under estimate terhadap MUI dan FPI, karena apa? Dulu saya anggap MUI adalah tukang stempel pemerintah. Kalau FPI, tentu saya tidak suka dengan cara-caranya, sepeti sok paling benar, tapi masih banyak yang merokok. Maaf, saya termasuk orang yang anti rokok. Tapi seiring jaman, MUI mulai berani memberikan fatwa-fatwa yang berdiri ditengah, tidak memihak pemerintah maupun ummat, namun bersdasarkan pertimbangan syari. Begitupun FPI, konsistensinya dibawah seruan Habib Rizieq meskipun sering dicaci maki namun tetap tak bergeming, bahkan saya terkejut ternyata FPI itu juga mengurusi masalah korupsi, komunisme, Pancasila dan NKRI, tidak sekedar tukang pukul. Apalagi setelah melihat kejadian di sebuah masjid di Kali Deres Jakarta, saya makin paham dengan cara kerja FPI. Tidak seperti yang diberitakan media mainstream, FPI hanya bisa melakukan kekerasan, tapi nyatanya FPI juga sibuk kalau ada bencana alam, banjir, bahkan ikut menanggulangi banjir Jakarta dengan reboisasi dikawasan puncak. Dan satu lagi, FPI gak korupsi kaya partai politik, bahkan yang teriak mau bubarkan FPI justru parpolnya paling korup dan banyak merugikan rakyat. Jadi alasan saya untuk tidak suka FPI kayanya perlu diluruskan, dan saya meminta maaf. Sekarang justru saya kagum dengan FPI dan Habib Rizieq.

aksi damai 212
Gambar: pojoksatu
Dari satu sisi, aksi-aksi damai tersebut menunjukan kekuatan dan kesolidan ummat Islam di Indonesia yang tentu membuat orang luar berpikir kalau mau menjajah Indonesia, karena ummat Islam yang militan adalah garda bangsa, jika jihad sudah berkumandang, Belanda dan Inggris pun dibuat kewalahan. Namun disisi lain, justru saya melihat ada kelemahan pada ummat Islam, bayangkan, hanya satu orang non muslim berulah, kita harus menggerakan ribuan bahkan jutaan ummat muslim dengan logistik yang besar untuk menuntut agar hukum bisa ditegakan dengan adil. Tentu ini adalah sebuah kelemahan ummat dilihat dari sisi lainnya.

Jika merunut Al Quran: “Wahai Nabi (Muhammad) Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: 65)

Maka artinya 1 orang mukmin bisa menandingi 10 orang. Tapi sekarang ribuan dikerahkan hanya untuk menuntut keadilan hukum dari "ulah" satu orang non muslim. Artinya ada yang "salah" terhadap ummat secara makro.

Saya jadi ingat ketika masa sekolah dulu, saya pernah berdiskusi dengan seorang guru tentang apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi ummat di Indonesia, haruskah politik dulu atau ekonomi dulu? Kalau ada yang menjawab iman dulu, sepakat, iman dan sabar. Tapi aktualisasinya, apakah ummat harus menguasai politik atau ekonomi? Kesimpulannya, ummat harus menguasai keduanya! Tidak bisa tidak, politik digunakan untuk merebut kekuasaan secara konstitusional sesuai kesepakatan bangsa Indonesia, sedangkan ekonomi adalah bergaining bagi ummat Islam.

Kita bisa lihat, Israel menguasai ekonomi, sehingga bisa menguasai politik di negara adidaya bahkan dunia sekalipun. Begitupun di Indonesia, konon ada sekelompok orang dengan modal besar yang membiayai politik di Indonesia. Mereka mengusai media, menguasai hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, mereka menguasai pasar-pasar dimana ummat menjadi konsumennya dan keuntungan masuk kekantong mereka. Disinilah kesadaran ummat diperlukan, dan saya sangat menyambut ketika ada ide koperasi syariah 212 dengan menggunakan spirit 212.

Sebagaimana tadi saya tulis, logistik yang besar untuk menggerakan ummat dapat memutar roda ekonomi. Ini adalah potensi ekonomi yang besar, hanya butuh disatukan dengan wadah resmi yang sesuai syariah dan hukum Indonesia, maka benar jika dipilihlah badan usaha koperasi. Mengapa koperasi, karena dalam koperasi kepemilikan adalah milik bersama (jamaah), mengutamakan musyawarah sesuai nilai Islam serta sila ke-4 Pancasila. Ini menurut saya penting dan kalau bisa harus segera beroperasi.

Ada yang mengatakan perjuangan belum selesai, jangan dulu mengambil keuntungan dari ummat dengan membentuk koperasi. Menurut saya, bukan saatnya kita berdebat terlalu panjang. Semua harus dilakukan bersamaan, baik politik maupun ekonomi, ummat Islam harus kuat. Ummat Islam harus bisa "membeli" kembali Indonesia, ummat Islam harus bisa memutar uangnya untuk memberikan keuntungan kepada ummat Islam itu sendiri. Dan jika koperasi ini bisa besar, ummat bahkan bisa menjadi pemodal bagi negaranya sendiri, dan keuntungan akan kembali kepada ummat, bukan kepada segelintir orang yang tidak peduli kepada ummat.

Dengan begitu, dimasa nanti, ummat bisa kembali melakukan aksi-aksi damai, dalam bentuk dizikir dan doa bersama disertai pertemuan akbar anggota koperasi syariah 212. Logistiknya kita beli dari pasar-pasar ummat, tiketnya kita beli dari gerai-gerai retail ummat, perputaran uangnya dalam bank syariah milik ummat, dan yang meliput stasiun televisi milik ummat. Apakah itu bisa terwujud? Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh (jihad) bukanlah hal yang mustahil. Apalagi saya melihat para pengurusnya adalah orang-orang yang memang ahli dalam ekonomi syariah. Ummat harus menyambut ini, jangan sampai layu sebelum berkembang. Karena spirit 212 bisa dilestarikan dalam wadah ini. Kesadaran akan pentingnya ummat yang kuat tidak hanya politik, namun ekonomi. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi.

Artikel Terkait:

2 comments:

  1. saya kagum dan salut dengan ghirah saudara2 muslim dari yang memang peserta aksi, dari para voluteer yang menyumbangkan makanan minuman hingga tim pembersih sampahnya, semua bergerak bersama tidak ada niatan merusak tetapi demi berdirinya kebenaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata masih banyak orang baik di republik ini, yang mereka menyumbangkan harta, tenaga, waktu dan keringat untuk menjaga NKRI tanpa pamrih. Apa untungnya coba menyumbang aksi seperti itu? Secara duniawi tidak ada, makanya orang-orang materialis gak percaya kalau aksi itu adalah aksi ummat untuk ummat. Mereka yang orientasinya dunia gak akan bisa berpikir bagaimana cara menggerakan ummat sebesar itu tanpa uang.

      Delete

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik. (Isi komentar diluar tanggung jawab kami).