31 July 2016

Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung

ilustrasi
Peribahasa mengatakan “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung” yang mengartikan bahwa kita harus menghormati adat istiadat atau aturan ditempat dimana kita tinggal/berada. Bokap gue sangat menekankan ini kepada anak-anaknya, kebetulan bokap gue seorang Marinir TNI–AL yang tentu saja sering berpindah-pindah tempat tugas, termasuk dipedalaman hutan Kalimantan, dimana disitu terdapat suku Dayak. Disitulah meskipun seorang prajurit TNI, bokap selalu mengedepankan pepatah diatas agar selalu bisa diterima masyarakat setempat ketika bertugas.

Waktu Ramdhan kemarin, gue juga suka nonton acara Muslim Travelers di televisi kece Net-TV. Di acara tersebut menceritakan orang-orang muslim yang tinggal di negara dimana penduduknya mayoritas adalah non muslim. Mereka bisa berbaur, berinteraksi dengan baik dan menjadi penduduk minoritas yang bermanfaat bagi penduduk mayoritas disana. Mereka tidak berbuat ulah, tidak mengganggu ibadah di gereja, tidak pula merasa terganggu dengan hiruk pikuk perayaan hari-hari besar agama disana. Mereka mengedepankan toleransi kepada kaum mayoritas, dan sudah sewajarnya minoritas menghormati mayoritas dan mayoritas melindungi minoritas. Kalau menurut gue toleransi adalah menyadari adanya perbedaan dan menyikapinya dengan bijak bukan malah mencampur adukan perbedaan seperti yang gue lihat sekarang ini dengan dalih pluralisme, keberagaman, de-el-el.

Maka itu, ketika teroris mengacaukan semuanya, kemudian ada demo yang dilakukan penduduk mayoritas disana terhadap ummat muslim, sebagian dari mayoritas disana justru ikut menjaga agar tidak anarkis. Bahkan yang menarik, ketika massa sudah berdemontrasi anti islam dan sudah mendekat ke masjid disana, ummat muslim disana kemudian mengajak untuk masuk kedalam dan minum teh serta makan kue bersama. Sebuah persahabatan yang baik yang coba ditunjukan oleh ummat islam ketika menjadi kaum minoritas.

Bagaimana dengan di Indonesia?  Gue kok melihatnya sebaliknya. Mengapa minoritas di Indonesia terlalu menuntut? Padahal selama ini kelompok mayoritas tidak pernah “memerangi” mereka. Di Tanjung Balai Sumut, masalah adzan sampai marah-marah, padahal adzan itu bermanfaat sebagai petunjuk waktu bagi siapapun. Temen gue waktu SMA kebetulan non Islam, kalau lagi main bersama, denger adzan dia bilang “Gue pulang dulu ya, udah ashar, ntar gue kesorean lagi sampai rumah.” Artinya dia menjadikan adzan sebagai petunjuk waktu, pun kalau lagi tidur, ada adzan shubuh, berarti udah pagi, udah saatnya beraktifitas, kecuali lo bangun siang alias orang malas.

Terus kalau di masjid berisik suara sepeaker, hai bro ditempat gue suka ada dangdutan, mana ngadainnya kadang malam Senin, rame banget sampe budeg gue dengernya, tapi gue tetap berusaha toleran. Artinya begini, kita bisa toleran dengan ada dangdutan atau konser musik di sekitar tempat tinggal kita, lalu dengan adzan kita harus marah-marah sampai memaki muadzin?

Bagaimana dengan muslim di Bali? Mereka bisa toleran terhadap perayaan-perayaan ummat Hindu, mereka ikut berdiam atau setidaknya tidak membuat hingar bingar ketika Nyepi sedang berlangsung. Mereka juga harus menunda acara-acara, bisnis, bepergian ketika bandara pun ditutup. Apakah mereka marah-marah? Tidak bro, saling menghormati lebih indah. Dan betapa menyakitkannya bagi ummat Islam ketika seorang penjual nasi yang melanggar perda larangan untuk berjualan di bulan Ramadhan justru diberi donasi bahkan oleh presiden. Donasi untuk pelanggar peraturan daerah yang salah satu pemrakarsanya orang Cina non muslim. Apa seperti ini toleransi yang bisa menyatukan bangsa kita?

Kemudian di Papua ada perda larangan berjualan di hari Minggu untuk menghormati agama mayoritas Kristen disana. Dalam satu tahun berarti ada 52 hari, sedangkan Ramadhan aja cuma 30 hari dalam setahun. Bagaimana dengan ummat Islam disana? Tentu mengikuti aturan disana, menghormati demi persatuan bangsa.

Selama ini juga ummat Islam memahami, di Bali gubernur dan kepala pemerintahannya harus Hindu, karena mayoritas Hindu disana. Tidak pernah ada gesekan karena minoritas tahu diri.

Kita ini negara demokrasi, dalam negara demokrasi tentu suara terbanyak adalah yang lebih memiliki hak untuk mengatur negara ini. Okelah dalam demokrasi parlemen (pemilu / pilkada) bisa saja yang muncul menjadi pemimpin orang non Islam seperti misalnya di Jakarta.

Di Jakarta, penduduk mayoritas Islam, yang terpilih bapak Jokowi ketika itu pun seorang muslim dan wakilnya bapak Ahok seorang etnis Cina non Muslim. Itu secara demokrasi parlemen, secara non parlemen meskipun saat ini pak Ahok sedang berkuasa tapi tentu harus memerintah dengan proporsional, menghargai kelompok mayoritas yang secara non parlemen adalah tetap jumlah terbanyak yang tentu perhatian diberikan proporsinya sesuai. (Gue bingung istilahnya apa, tapi pasti lo paham yang gue maksud demokrasi parlemen dan non parlemen).

Belajarlah dari Sadiq Khan dan Saud Anwar, walikota London Inggris dan walikota South Windsor sebuah negara bagian Connecticut Amerika Serikat. Bahkan di South Windsor jumlah penduduk muslim hanya 100 orang dari 26.000 total penduduknya, sungguh sangat minoritas, tapi jika bisa memimpin dengan mengedepankan proporsionalisme dan profesionalisme serta memberikan perhatian kepada penduduk mayoritas disana tanpa melupakan minoritas, semuanya bisa baik-baik saja.

Pluralisme adalah sebuah kenisyacaan, namun memaksakan kehendak tentu itu yang tidak kita setujui, semua harus sesuai hukum. Contoh, itu tadi sudah tahu disitu daerah mayoritas muslim, tetapi minoritas memaksakan kehendak agar adzan jangan keras-keras. Padahal kalau lagi Imlek mereka bakar petasan memang bisa pelan-pelan?

Bisakah sekarang kita mulai saling menjaga toleransi? “Bagimu agama mu dan dan bagi ku agama ku,” silahkan jalankan agama, jauhi kedengkian, hormati adat istiadat dan aturan yang berlaku di daerah setempat. Saat gue ke Bali, gue pun menghormati budaya disana, saat ada orang naruh sesajen berupa bunga dan ada permennya, gue gak ambil permennya.

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)