18 June 2016

Mau Dapat Uang Kaget, Langgar Perda Aja Kaya Bu Saeni !

artikel
Bangsa ini memang bangsa yang dermawan, bayangkan saja, seorang pengusaha warteg yang kena razia Satpol PP langsung disumbang netizen 170 juta. Awalnya ibu Saeni, demikian namanya, membuka usahanya disiang hari, dimana ummat Islam sedang menjalankan ibadah shaum Ramadhan. Karena ada perda yang melarang, maka Satpol PP menegakan peraturan dan langung merazia warteg milik ibu Saeni ini.

Tindakan Satpol PP yang tanpa kompromi langsung membungkus dan menyita semua makanan di warteg bu Saeni serta ekspos media yang begitu kuat akhirnya menggerakan hati netizen untuk kemudian mengumpulkan uang demi mengganti kerugian bu Saeni. Sekarang timbulah pro dan kontra terhadap kejadian ini, dan tentu melibatkan dua "ormas siluman" yang seolah tidak berwujud tapi selalu berkubu-kubuan di internet, yaitu Panasbung dan Panastak. Kedua "ormas" ini menurut saya adalah terbesar di republik maupun di dunia maya.

Apalagi setelah ada investigasi bahwa bu Saeni itu bukan orang tidak mampu, melainkan orang kaya pengusaha warteg, sayang toh sumbangan sebesar itu diberikan kepadanya, apalagi bu Saeni akhirnya mengakui dia yang bersalah dan tidak bisa membaca perda yang memang sudah lama ditempelkan di tempat-tempat umum. Bu Saeni meminta maaf juga di acara Hitam Putih, videonya ada di Youtube, tapi sayang sudah dicekal TransCorp karena ada hak ciptanya.

Eksesnya menjadi panjang, perda-perda dievalusi lagi, yang dianggap perda intoleran katanya akan dihapus. Jadi timbul pertanyaan, sebenarnya perda intoleran itu apa sih? Selama ini bangsa Indonesia selalu saling menghormati, saat muslim berpuasa, warung-warung tutup atau setidaknya memasang tirai sebagai bentuk toleransi. Saat Nyepi semua ummat beragama meskipun bukan penganut Hindu mengurangi aktivitas di Bali, dan di Papua pun setiap hari Minggu orang dilarang berjualan untuk menghormati orang Kristen yang sedang beribadah, Ini kan bentuk toleransi kepada orang yang sedang menjalankan ibadah agamanya.

Tapi sepertinya ada pihak-pihak yang mencoba mengganggu toleransi yang sudah berjalan baik ini dan bahkan telah di-perda-kan. Logikanya ingin dibalik, orang yang beribadah disuruh menghormati orang yang tidak beribadah. Orang yang berpuasa disuruh menghormati orang yang tidak berpuasa, masa iya begitu? Memangnya anda mau, ketika ada keluarga anda meninggal, lalu tetangga malah dangdutan dan anda disuruh menghormati orang yang sedang tidak berduka?

Jadi inget, ada sebuah rumah makan padang di Depok, didindingnya terdapat tulisan "Tidak Melayani Makan Ditempat Saat Waktu Puasa." Kebetulan saat itu saya sedang membeli lauk untuk berbuka ditempat itu. Tiba-tida datanglah seorang rada slengean, pakai tato dan langsung duduk di meja makan dan memesan makanan untuk dimakan disitu. Karyawan dan pemilik rumah makan itu tegas menolak, tidak boleh makan disini sebelum maghrib, kalau mau bungkus. Orang itu sepertinya sewot dan langsung pergi, dan pemilik warung makan kemudian berkata "Enak aja orang lagi puasa disuruh melayani orang yang gak puasa!"

Disini apakah pemilik rumah makan intoleran? Tentu tidak, kan pemilik rumah makan sudah menawarkan kalau mau makan dibungkus aja, jangan makan disini kecuali kalau sudah maghrib. Untungnya ini gak sampai diliput media macam Kompas, kalau sampai diliput bisa dapat sumbangan lagi tuh pria bertato dari "manusia-manusia dermawan."

Kedepannya semoga masalah-masalah seperti ini tidak terjadi lagi. Untuk aparat Satpol PP, tegakanlah aturan daerah, namun hendaknya lebih manusiawi dalam menindak. Saya juga sangat sedih ketika Satpol PP mengejar-ngejar pedagang yang jualan di jalur hijau, kemudian dagangannya dirampas, ditumpahkan, dan diangkut dengan paksa meskipun pedagang itu menjerit-jerit. Tapi bagaimana lagi, melanggar perda ya harus ditindak, bukan malah disumbang, dan memang "manusia-manusia dermawan" itu tidak terdengar suaranya ketika melihat aksi Satpol PP DKI Jakarta, yang ada malah mereka ikut menyalahkan bahkan mencaci maki para pedagang tersebut. Perlakuan yang berbeda karena tujuan mereka berbeda.

Andai ada orang merokok di busway kemudian ditegur oleh security busway dan sampai diturunkan, tentu "manusia-manusia dermawan" ini akan menyalahkan si perokok. Tapi jika si perokok yang sama kemudian merokok dilingkungan masjid, lalu ditegur pengurus masjid, bisa-bisa pengurus masjid kena tuduhan intoleran ala panastak. Wassalam!

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)