09 October 2015

Mendidik ialah Memimpin Anak

mendidik
Mengapa mendidik itu dikatakan memimpin perkembangan anak dan bukan membentuk anak? Memang, kata “memimpin” di sini tepat. Anak bukanlah seumpama segumpal tanah liat yang dapat diremas-remas dan dibentuk dijadikan sesuatu menurut kehendak si pendidik. Jika sekiranya betul demikian, sudah tentu kita dapat mengharapkan bahwa nanti manusia itu akan menjadi baik semua. Sebab menurut kenyataanya hampir semua manusia diusahakan dididik, baik oleh guru maupun orang tuanya.

Pendidikan disebut pimpinan karena dengan perkataan ini tersimpul arti bahwa si anak aktif sendiri, memperkembangkan diri, tumbuh sendiri; tetapi dalam keaktifannya dia harus dibantu, dipimpin. Dalam hal ini ada dua pendirian yang bertentangan:

Teori Tabularasa (John Locke dan Francis Bacon)

Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi (a sheet white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Disini kekuatan ada pada pendidik.

Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empiresme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk dari alat indera. Kaum behavioris juga berpendapat senada dengan teori tabularasa, tidak mengakui adanya pembawaan dari keturunan. Aliran ini sering disebut juga aliran  optimisme.

Teori Nativisme (Schopenhauer)

Nativus (latin) berarti karena kelahiran. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa. Aliran pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimisme

Teori Konvergensi

Kedua teori tersebut ternyata berat sebelah. Kedua-duanya ada benar dan salahnya. Maka dari itu, untuk mengambil kebenaran dari keduanya, W. Stern ahli ilmu jiwa bangsa Jerman telah memadukan kedua teori itu menjadi satu teori yang disebut teori konvergensi. Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak-anak itu ditentukan atau dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan.
---
Diringkas dari buku Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Drs. M Ngalim Purwanto, MP
Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Bandung 2006 

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)