06 September 2015

Mengapa guru profesional kok banyak yang gaptek?

guru profesional dilarang gaptek
Sebenarnya saya merasa berat untuk menulis ini. Tapi saya harus menulisnya juga sebagai bentuk kebebasan memberikan pendapat. Yang pasti tulisan ini tidak ditujukan kepada seseorang atau lembaga tertentu dan sebagai kepedulian saya juga dalam dunia pendidikan.

Tahukah anda guru profesional? Apa yang anda bayangkan jika anda mendengar kata guru profesional? Tentu bayangan anda adalah guru yang memiliki kompetensi diatas rata-rata guru lain yang belum diberikan sertifikat profesional, atau boleh dibilang guru amatir.

Guru profesional adalah guru yang memiliki seribu satu cara untuk mendidik muridnya, banyak metode, banyak alat peraga, mampu menggunakan alat peraga baik yang konvensional maupun modern berbasis teknologi informasi. Mampu mengoperasikan alat teknologi informasi, seperti laptop, printer dan proyektor, dan internet.

Keseharian guru profesional adalah belajar, karena sebagai guru profesional kalau sudah berhenti belajar ya idealnya berhenti mengajar juga.  Guru profesional mampu membuat administrasi dengan menggunakan komputer, mencetak dan menyebar luaskan serta mengarsipkan dalam bentuk digital secara rapi. Disaat senggang, guru profesional mengakses internet lalu mencari informasi-informasi untuk menambah wawasannya.

Guru profesional harus juga mampu mengentri datanya sendiri pada aplikasi yang mengharuskan mereka menginput datanya, misal Padamu Negeri. Bisa mencetak label buku administrasi kelas, merekap nilai, sedikit paham statistik untuk pengolahan nilai, artinya guru profesional selain memiliki kompetensi lebih unggul dalam bidang pedagogik, juga dalam bidang Teknologi Informasi, karena ilmu pengetahuan adalah informasi maka kuasai teknologinya. Saya sering mengistilahkan "solusi IT untuk diri sendiri."

Guru profesional bukan guru yang selalu mengandalkan operator sekolah, karena beda jobdesk operator dengan jobdesk guru. Operator bertanggung jawab (meskipun operator belumlah diakui keberadaanya oleh pemerintah) terhadap Dapodik. Tapi sekarang karena banyak guru profesional gaptek, tugas operator merembet kemana-mana. Jadi tukang cetak RPP, bikin SPJ BOS (harusnya bendahara, operator hanya membantu di BOS online), mengisikan data Padamu Negeri padahal dijelaskan bahwa Padamu Negeri adalah tugas masing-masing PTK dengan level berbeda. Toh Penilaian Kinerja Guru juga operator yang menilainya bahkan di level pengawas juga. Idealnya kan tidak demikian jika guru mau sedikit belajar tentang IT.

Harus kita akui, menjadi guru dijaman sekarang ini tidak cukup hanya berdiri didepan kelas lalu membuka buku pelajaran. Tapi ada faktor pendukungnya, kemampuan IT, kemampuan menulis, kemampuan mencari informasi, aktif di forum-forum guru secara online untuk membahas problem-problem keseharian yang dihadapi disekolah, selain tentu kemampuan sosial untuk berinteraksi dengan murid. Guru profesional wajib bisa melakukan itu semua, sehingga orang bisa melihat profesi guru adalah profesi yang bisa disetarakan dengan pengacara, dokter, arsitek, dan lainnya.

Memang sulit merubah ini semua, butuh pergantian generasi secara alami. Guru profesional yang sudah tua pensiun, kemudian lahirlah guru-guru muda yang lebih melek teknologi. Mengapa harus melek teknologi khususnya teknologi informasi? Karena ini jaman informasi dan tugas guru adalah menyampaikan ilmu pengetahuan yang merupakan informasi. Siapa yang menguasai informasi dia yang bisa menjadi pemenang. Dalam segala hal sepertinya berlaku "hukum" ini. Bahkan di tukang ojek pun berlaku, GoJek yang lebih menguasai teknologi informasi lebih mudah mencari penumpang dibandingkan ojek konvensional yang cuma menunggu dipangkalan.

Guru bukanlah orang yang selalu lebih pintar dari murid, guru hanyalah orang yang hanya lebih dulu tahu informasi daripada muridnya. Artinya, jika suatu saat murid lebih memiliki kemampuan untuk mengakses informasi tak terbatas (internet), maka jika hanya sekedar pengetahuan, guru bisa ketinggalan dengan muridnya.

Saya berharap tulisan ini dibaca oleh setidaknya orang yang berwenang baik di Kemendikbud maupun Kemenpan. Bahwa selama ini pendataan online yang seharusnya dikerjakan guru banyak yang diambil alih operator sekolah. Guru diberikan akun, namun karena tidak IT minded, user dan password saja selalu lupa. Justru ini malah membuat kerjaan tambahan bagi operator sekolah, mereset password berkali-kali. Akhirnya bikin tabel password saja dan dengan "seenaknya" bisa masuk akun manapun.

Ada satu lagi pendataan penting yaitu ePUNS, dimana setiap PNS berkewajiban mengentrikan data mereka masing-masing secara mandiri karena menggunakan akun personal. Termasuk para guru PNS pun harus melakukannya. Apakah sanggup? Menghapal user dan password saja sering lupa, lalu bagaimana mengentri data? Sangat disayangkan sekali, seharusnya pemerintah berkewajiban mendidik para PNS khususnya guru ini untuk lebih melek IT, apalagi jika kurikulum 2013 yang katanya akan menjadi Kurikulum Nasional akan diaktifkan lagi, bisa-bisa kelaut guru yang gaptek.

Ada seorang pejabat dilingkungan pendidikan ketika menanggapi ePUPNS dan protes karena dikenakan biaya jasa entri data oleh TU. Padahal sudah dijelaskan untuk dikerjakan sendiri atau oleh keluarganya, kan ePUPNS gratis. Pejabat tersebut mengatakan, lalu kemana gaji TU selama ini jika untuk entri data harus bayar lagi? Sebagai orang kecil, TU yang rata-rata non PNS tentu diam saja, tapi mungkin hatinya ngedumel dan menjawab "Lalu kemana gaji PNS dan tunjangan-tunjangannya yang jumlahnya besar dan dibayarkan dari uang rakyat jika untuk menjalankan kewajiban melengkapi data pribadi untuk masa depan sendiri dan keluarganya saja masih harus menyuruh orang?"

Memang bisa dimaklumi keadaan seperti ini, karena kebanyakan PNS itu rekrutan tahun baheula, jaman mesin ketik masih segede-gede gaban. Tapi jawaban tadi dengan menanyakan gaji TU kemana, tentu jawaban yang keliru dan tidak memahami hakikat ePUPNS karena kurangnya sosialisasi. Lebih baik bicara, saya minta dibantu karena saya kesulitan untuk menggunakan komputer yang tombolnya banyak dan kecil-kecil, namun urusan jasa bisa dibicarakanlah, traktir makan juga oke :) Tentu ini lebih bijak. Perlu dipahami juga, ePUPNS itu data yang sangat penting, kalau suatu saat ada kesalahan lalu menuntut yang mengentri data, justru malah jadi bahan tertawaan, orang diberikan fasilitas ePUPNS agar data bisa diinput dan dipertanggung jawabkan sendiri, eh malah dikasih orang lain. Dibawa ke Mahkamah Agung pun gak akan menang :)

Terus masalah lain bisa terjadi, jika tiba-tiba TU yang mengentri data resign dan menghilang begitu saja, karena tenaga honor kan tidak diikat kontrak, lalu bagaimana nasib data tersebut? 

Sekali lagi, ePUPNS ini minim sosialisasi. Sosialisasi kebanyakan dilakukan di Youtube dan media online, tentu PNS guru yang gaptek tidak mampu menjangkaunya. Sangat disayangkan, sudah minim sosialisasi servernya pun sepertinya sekelas server revolusimental.go.id yang langsung down ketika diserbu user.

Baik netizen, sekian unek-unek saya malam ini. Tulisan ini tidak bertujuan mengdiskreditkan siapapun, atau ditujukan kepada seorang maupun lembaga secara eksplisit. Tulisan ini hanya gambaran yang saya baca di forum-forum pendidikan online dan saya temui dalam keseharian saya. Semoga pemerintah cermat melihatnya !

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)