03 August 2015

Menjawab Kebodohan Nuril Arifin Tentang Ikhwanul Muslimin

Cukup lama beredar video dimana Gus Nuril diusir dari atas panggung saat ceramah. Setelah saya lihat, memang ceramahnya kosong tak berilmu, memfitnah dan memecah belah ummat. Dan yang pasti merusak citra NU itu sendiri, karena memiliki kyai yang tidak paham ke-Bhinekaan dan tentunya sejarah Islam. Namun ada tulisan yang menurut saya menyejukan, yang saya ambil dari link berikut: http://www.nugarislurus.com/2015/03/menjawab-kebodohan-nuril-arifin-tentang-ikhwanul-muslimin.html. Menurut saya tulisan ini harus sebar luaskan sebagai bentuk menyampaikan kebenaran kepada ummat. Tapi sebelumnya saksikan dulu video "pengusiran Gus Nuril"


Berikut tulisan lengkapnya yang ditulis oleh kalangan NU sendiri.

Kami akan menjawab kebodohan Nuril Arifin yang seenaknya saja mencaci maki harokah kaum muslimin. Nuril yang pemahaman keislamannya terlihat masih minim tapi sok tahu ini rupanya ingin membenturkan NU Dan Ikhwanul Muslimin. Bahkan Nuril pun membubuhi kedustaan dan menuding Ikhwan mengkafirkan kaum muslimin yang berbeda pemahaman dengan mereka. Hadza Buhtanul ‘Adzim

Apa Itu Ikhwanul Muslimin ?!

Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood atau IM) merupakan sebuah kelompok dalam Islam yang didirikan oleh Syaikh Hassan Al Banna di Mesir, tepatnya di Ismailiyah pada 1928 M dua tahun setelahnya lahirnya NU yaitu pada 31 Januari 1926 M. Syaikh Al Hassan Al Banna mendirikan IM bersama beberapa tokoh lainnya seperti Hafidz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi.

Menurut Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Said Abdurrahim dalam salah satu kitabnya bahkan menilai Syaikh Hasan al- Banna termasuk salah satu mujaddid abad 14 H. KH.Said Abdurrahim adalah pengasuh PP MUS Sarang Rembang Jateng (menantu KH Mas Subadar). Di pesantren yang beliau asuh juga kitab Al- Islam karya Said Hawwa diajarkan. Said hawwa adalah salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin.

Di Indonesia sendiri, IM baru datang sekitar tahun 1930. Dalam proses kemerdekaan Indonesia, IM memiliki peran dalam mendesak negara Mesir untuk mengakui secara de facto kemerdekaan RI walaupun Mesir pada saat itu belum sepenuhnya Merdeka. Akhirnya Vatikan pun mengakui kemerdekaan Indonesia.

IM berkembang di Indonesia, khususnya terkait dengan Masyumi. Masyumi sendiri didirikan 1943 sebagai pengganti MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) karena saat itu Jepang memerlukan suatu badan untuk menggalang dukungan masyarakat Indonesia melalui lembaga agama Islam. Pencetus MIAI adalah KH Hasyim Asy’ari sehingga menarik hati kalangan modernis seperti KH Mas Mansur dari Muhammadiyah dan Wondoamiseno dari Syarekat Islam.

Pada zaman Jepang, Masyumi adalah federasi dari empat organisasi Islam yang diijinkan pada masa itu, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Selanjutnya, Masyumi menjelma menjadi partai dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi massa Islam yang sangat berperan dalam pembentukan Masyumi. Pendiri NU, KH Hasyim Asy’arie adalah pimpinan tertinggi Masyumi saat itu. Demikian juga dengan putra KH Hasyim Asy’ari yaitu Wahid Hasyim menjadi tokoh penting di Masyumi. Akan tetapi April 1952, NU keluar dari Masyumi.

Adapun kalau dilihat dari pemikiran pendiri IM dan pada sebagian pengikut Ikhwanul Muslimin, justru memiliki kesamaan dengan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam pemikiran bidang aqidah, bermadzhab dan tradisi-tradisi tertentu. Sehingga tidak salah bila dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin dan pengikut IM yang asli adalah NU.

NU sebagai penganut madzhab aqidah Asy’ariyah dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat memiliki dua sikap yaitu manhaj tafwidh (menyerahkan ta’wilnya (makna yang lain tersebut) kepada Allah) dan takwil (memberi ta’wil berdasarkan ilmu bahasa Arab) sebagaimana dilakukan oleh salaf maupun khalaf. Ternyata paham Syaikh Hasan Al Banna pun sama, sebagaimana tertuang dalam kitab Risalah al-‘Aqaid . Bahkan Said Hawa, tokoh besar Ikhwanul Muslimin, dalam Jaulat fil Fiiqhain : al-Kabir wa al-Akbar , menyatakan bahwa para imam umat Islam sejak dahulu didalam fiqh dan aqidah adalah para imam mereka dalam tasawuf. Umat Islam sudah menyerahkan urusan pembahasan detial aqidahnya pada Abul Hasan al-As’ari dan Abu Manhsur al-Maturudi. Ini pernyatan yang sangat “NU”

Telah ditegaskan oleh seorang tokoh besar Ikhwanul Muslimin periode pertama yakni Sa’id Hawa dalam kitabnya Jaulat fil Fiiqhain : al-Kabir wa al-Akbar sebagai berikut :
ﺇﻥّ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺧﻼﻝ ﺍﻟﻌﺼﻮﺭ ﺃﺋﻤﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻹﻋﺘﻘﺎﺩ ﻭﺃﺋﻤﺘﻬﻢ ﻓﻲ
ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺃﺋﻤﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻭﺍﻟﺴﻠﻮﻙ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰّ ﻭﺟﻞّ ﻓﺄﺋﻤﺘﻬﻢ
ﻓﻲ ﺍﻹﻋﺘﻘﺎﺩ ﻛﺄﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ ﻭﺃﺑﻲ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﻤﺎﺗﺮﻳﺪﻱ

“Sesungguhnya kaum Muslimin sejak masa- masa yang lalu para imam mereka di dalam akidah dan fiqih adalah para imam mereka di dalam tasawwuf dan suluk kepada Allah Ta’ala. Maka para imam mereka di dalam akidah seperti Abil Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturudi “
 Dia juga mengatakan :
ﻭﺳﻠﻤﺖ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﻗﻀﺎﻳﺎ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﻹﺛﻨﻴﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ
ﻭﺃﺑﻲ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﻤﺎﺗﺮﻳﺪﻱ

“Umat Islam ini telah menyerahkan urusan akidahnya pada dua tokoh yaitu Abul Hasan al- As’ari dan Abu Manhsur al-Maturudi “

Bahkan Hassan Al Banna pernah menyatakan mujassimah dan musyabbihah bukan bagian dari Islam.
Beliau mengatakan :
ﻭﻧﺤﻦ ﻧﻌﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺭﺃﻱ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻋﻠﻢ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻲ ﺍﺳﻠﻢ ﻭﺃﻭﻟﻰ ﺑﺎﻻﺗﺒﺎﻉ

“Kami bekeyakinan bahwa pendapat salaf yaitu mendiamkan dan menyerahkan pengetahuan makna-mana ayat (mutasyabihat) ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti “.

Di akhir pembahasan, beliau menyimpulkan :
ﻭﺧﻼﺻﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺒﺤﺚ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﻗﺪ ﺍﺗﻔﻘﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ
ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﺘﻌﺎﺭﻑ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ،ﻭﻫﻮ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻤﻠﺔ
ﻭﺍﺗﻔﻘﺎ ﻛﺬﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻥ ﻛﻞ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﻳﺼﻄﺪﻡ ﺑﺎﻷﺻﻮﻝ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻏﻴﺮ
ﺟﺎﺋﺰ،ﻓﺎﻧﺤﺼﺮ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻰ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﺍﻻﻟﻔﺎﻅ ﺑﻤﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﻓﻰ ﺍﻟﺸﺮﻉ
ﻭﻫﻮ ﻫﻴﻦ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻯ

“Kesimpulan pembahasan ini adalah sesungguhnya ulama salaf dan kholaf sepakat bahwa yang dimaksudkan (dalam ayat shifat atau mutaysabihat) adalah bukanlah makna zahir yang dipahami antara manusia, ini disebut dengan takwil jumlah (takwil secara umum). Mereka juga sepakat bahwa setiap takwil yang bercanggah dengan asal-asal syare’at tidaklah boleh, maka perbedaan yang terjadi di dalam lafaz-lafaz itu berputar hanya pada sesuatu yang dibolehkan syare’at saja, dan ini adalah ringan sebagaimana engkau lihat.

Syaikh Hasan Al Banna pun bertasawuf serta mendapatkan ijazah Thariqat Khashafiyyah . Hal ini disebutkan dalam kitab Mudzakkaraat ad- Dakwah wa ad-Da’iyah . Sadi Hawa, dalam Tarbiyatuna ar-Ruuhiyyah , kembali memberikan pengakuan bahwa dalam menerapkan dakwah Ikhwanul Muslimin, ia ingin agar umat Islam tahu bahwa dakwah Shufiyyah adalah dakwah Hasan Al Banna.
ﻓﻜﻨﺖ ﻣﻮﺍﻇﺒﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻀﺮﺓ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ
ﻭﺳﺄﻟﺖ ﻋﻦ ﻣﻘﺪِّﻡ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ ﻓﻌﺮﻓﺖ ﺃﻧﻪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺘﻘﻲ
ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺑﺴﻴﻮﻧﻲ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﺘﺎﺟﺮ، ﻓﺮﺟﻮﺗﻪ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﻟﻲ ﺑﺄﺧﺬ ﺍﻟﻌﻬﺪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻔﻌﻞ، ﻭﻭﻋﺪﻧﻲ ﺑﺄﻧﻪ ﺳﻴﻘﺪﻣﻨﻲ ﻟﻠﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﻋﻨﺪ
ﺣﻀﻮﺭﻩ، ﻭﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻗﺪ ﺑﺎﻳﻌﺖ ﺃﺣﺪﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ
ﺑﻴﻌﺔ ﺭﺳﻤﻴﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﻨﺖ ﻣﺤﺒﺎ ﻭﻓﻖ ﺍﺻﻄﻼﺣﻬﻢ. ﻭﺣﻀﺮ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ
ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ – ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ – ﺇﻟﻰ ﺩﻣﻨﻬﻮﺭ ﻭﺃﺧﻄﺮﻧﻲ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ ﺑﺬﻟﻚ
ﻓﻜﻨﺖ ﺷﺪﻳﺪ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨﺒﺄ ..… ﺣﻴﺚ ﺗﻠﻘﻴﺖ ﺍﻟﺤﺼﺎﻓﻴﺔ
ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻴﺔ ﻋﻨﻪ ﻭﺃﺩﺑﻨﻲ ﺑﺄﺩﻭﺍﺭﻫﺎ ﻭﻭﻇﺎﺋﻔﻬﺎ


“Aku selalu rajin dan rutin menghadiri majlis tersebut di masjid Taubah setiap malam, dan aku menanyakan kepada muqaddim (pemuka) tersebut, maka aku tahu bahwa beliau adalah seorang laki-laki shalih yang telah berjumpa syaikh..maka aku mengharap untuk mengidzinkan aku mendapat perjanjian bersamanya, dan beliau menjanjikanku untuk menemukanku kepada syaikh Abdul Wahhab jika sudah datang, padahal aku sejak dulu hingga masa kini belum pernah berbaiat dalam satu thariqah dengan seorang pun dengan baiat yang resmi, aku dulu hanyalah seorang yang mencintai mereka. Kemudian hadirlah sayyid Abdul Wahhab ke 

Damanhur, lalu aku diajak berjumpa dengannya. Aku sangat senang sekali dengan kabar baik ini, karena aku mendapatkan langsung baiat thariqah Khashafiyyah asy-Syadziliyyah darinya, lalu beliau mengajarkan dan mendidik aku serta memberikan tugas-tugasnya “

Seperti juga NU dan Aswaja pada umumnya, Hasan Al Banna pun merayakan Maulid Nabi dan mengingatkan bahwa tradisi Maulid Nabi adalah tradisi mereka. Sebagaimana dituturkan dalam kitab Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad- Da’iyah . Sungguh sangat “NU” sekali. Dalam Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah karya Hasan Al Banna pula, ia mengatakan bahwa bagi setiap muslim yang belum mencapai derajat pengkaji dalam dalil-dalil hukum furu’, diperintahkan untuk mengikuti salah satu Imam dalam agama. Lagi-lagi, tidak ada bedanya dengan NU.
 

Dalam kitab Mudzakkaraat ad-Dakwah wa ad-Da’iyah :
ﻭﺃﺫﻛﺮ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺗﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺨﺮﺝ ﻓﻲ ﺫﻛﺮﻯ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﻟﻤﻮﻛﺐ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﻀﺮﺓ ، ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻝ
ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ ﻣﻨﻪ ﻣﻦ ﻣﻨﺰﻝ ﺃﺣﺪ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ
 

“Aku ingatkan bahwa di antara tradisi kami adalah kami melaksanakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di Maukib setelah hadrah setiap malam mulai tanggal satu hingga tanggal dua belas Rabi’ul Awwal di salah satu rumah anggota kami.

Bukan cuma ahli shufi dan memperingati maulid nabi, Syaikh Hasan Al Banna bersama IM juga berjihad melawan Israel karena pembelaan IM terhadap Palestina hingga Syaikh Yasin pun mendirikan HAMAS sebagai harokah perlawanan di Gaza hingga hari ini yang merupakan cabang IM. Ini mungkin yang harus di contoh NU.
 

Pandangan Syaikh al-Qardhawi tentang manhaj Ikhwanul Muslimin :
Dalam Majalah “ al-Mujtama “ bilangan : 1370 yang keluar pada tanggal 25 Jumadil Akhir 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1999 M, yang bertepatan acara berlalunya masa 70 tahun Ikhwanul Muslimin dalam berdakwah, tarbiyah dan berjihad, disebutkan pada judul “Keutamaan Dakwah Ikhwanul Muslimin “. Syaikh al-Qardhawi mengeluarkan pandangannya terhadap dakwah Ikhwanul Muslimin dengan dua poin penting, salah satu pointnya adalah tentang keterkaitan Ikhwanul
 

Muslimin dengan Asy’ariyyah. Syaikh al- Qardhawi mengatakan :
ﻭﺍﺗﻬﺎﻡ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻷﺷﺎﻋﺮﺓ ، ﻻ ﻳﻨﺘﻘﺺ ﻣﻦ ﻗﺪﺭﻫﻢ ،
ﻓﺎﻷﻣﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﻌﻈﻤﻬﺎ ﺃﺷﺎﻋﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﺎﺗﺮﻳﺪﻳﺔ ، ﻓﺎﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ
ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺃﺷﺎﻋﺮﺓ ، ﻭﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻣﺎ ﺗﺮﻳﺪﻳﺔ
ﻭﺍﻟﺠﺎﻣﻌﺎﺕ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﺃﺷﻌﺮﻳﺔ ﺃﻭ ﻣﺎﺗﺮﻳﺪﻳﺔ ،
ﺍﻷﺯﻫﺮ ﻓﻲ ﻣﺼﺮ ، ﻭﺍﻟﺰﻳﺘﻮﻧﺔ ﻓﻲ ﺗﻮﻧﺲ ، ﻭﺍﻟﻘﺮﻭﻳﻴﻦ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ، ﻭﺩﻳﻮﺑﻨﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻬﻨﺪ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﺍﺭﺱ ﻭﺍﻟﺠﺎﻣﻌﺎﺕ
ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ . ﻓﻠﻮ ﻗﻠﻨﺎ : ﺇﻥ ﺍﻷﺷﺎﻋﺮﺓ ﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ !! ﻟﺤﻜﻤﻨﺎ
ﺑﺎﻟﻀﻼﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﺔ ﻛﻠﻬﺎ ، ﺃﻭ ﺟﻠﻬﺎ ، ﻭﻭﻗﻌﻨﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﺗﻘﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺮﻕ
ﺍﻟﺘﻲ ﻧﺘﻬﻤﻬﺎ ﺑﺎﻻﻧﺤﺮﺍﻑ
 

“Persangkaan Ikhwanul Muslimin yang mengaku sebagai Asy’ariyyah, tidaklah mengurangi kehormatan mereka, kerana umat Islam pada umumnya (majoritinya) adalah berakidah Asy’ariyyah dan Maturudiyyah. Malikiyyah dan Syafi’iyyah adalah Asy’ariyyah, Hanafiyyah adalah Maturudiyyah. Semua fakultas Agama di seluruh Negeri adalah Ast’ariyyah dan Maturudiyyah, al-Azhar di Mesir, Zaitunah di Tunis, Qarwiyyin di Maroko, Daiduban di Hindi dan selainnya dari sekolah-sekolah dan Fakultas Agama. Seandainya kami katakan “ As’ariyyah bukanlah Ahlus sunnah, maka sama saja kami menghukumi sesat terhadap seluruh umat ini atau secara umumnya, maka kami akan jatuh pada perpecahan yang kami anggap sebagai penyimpangan"

Ini juga merupakan pengakuan syaikh al-Qardhawi bahwa mayoritas umat Muslim di seluruh belahan dunia ini adalah berakidahkan Asy’ariyyah dan Maturudiyyah, Alhamdulillah ini sebuah pengakuan yang jujur. 


Kemudian al-Qardhawi melanjutkan :
ﻭﻣﻦ ﺫﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﺣﻤﻞ ﻟﻮﺍﺀ ﺍﻟﺪﻓﺎﻉ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻣﻘﺎﻭﻣﺔ ﺧﺼﻮﻣﻬﺎ
ﻃﻮﺍﻝ ﺍﻟﻌﺼﻮﺭ ﺍﻟﻤﺎﺿﻴﺔ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺸﺎﻋﺮﺓ ﻭﺍﻟﻤﺎﺗﺮﻳﺪﻳﺔ؟؟؟ ﻭﻛﻞ ﻋﻠﻤﺎﺋﻨﺎ
ﻭﺃﺋﻤﺘﻨﺎ ﺍﻟﻜﺒﺎﺭ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ : ﺍﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ، ﺍﻹﺳﻔﺮﺍﻳﻴﻨﻲ ، ﺇﻣﺎﻡ
ﺍﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﺍﻟﺠﻮﻳﻨﻲ ، ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ، ﺍﻟﻔﺨﺮ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ ،
ﺍﻟﺒﻴﻀﺎﻭﻱ ، ﺍﻵﻣﺪﻱ ، ﺍﻟﺸﻬﺮﺳﺘﺎﻧﻲ ، ﺍﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ، ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﺴﻼﻡ ،
ﺍﺑﻦ ﺩﻗﻴﻖ ﺍﻟﻌﻴﺪ ، ﺍﺑﻦ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ، ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ ،
ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ، ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ، ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ، ( ﻭﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ) : ﺍﻟﻄﺮﻃﻮﺷﻲ ، ﻭﺍﻟﻤﺎﺯﺭﻱ ، ﻭﺍﻟﺒﺎﺟﻲ ، ﻭﺍﺑﻦ ﺭﺷﺪ
)) ﺍﻟﺠﺪ (( ، ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ [ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ] ، ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻴﺎﺽ ،
ﻭﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻲ ، ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﻓﻲ ، ﻭﺍﻟﺸﺎﻃﺒﻲ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ (ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ) :
ﺍﻟﻜﺮﺧﻲ ، ﻭﺍﻟﺠﺼﺎﺹ ، ﻭﺍﻟﺪﺑﻮﺳﻲ ، ﻭﺍﻟﺴﺮﺧﺴﻲ ، ﻭﺍﻟﺴﻤﺮﻗﻨﺪﻱ ،
ﻭﺍﻟﻜﺎﺳﺎﻧﻲ ، ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻬﻤﺎﻡ ، ﻭﺍﺑﻦ ﻧﺠﻴﻢ ، ﻭﺍﻟﺘﻔﺘﺎﺯﺍﻧﻲ ، ﻭﺍﻟﺒﺰﺩﻭﻱ ،
ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ .
ﻭﺍﻹﺧﻮﺓ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺬﻣﻮﻥ ﺍﻷﺷﺎﻋﺮﺓ ﺑﺈﻃﻼﻕ ﻣﺨﻄﺆﻭﻥ ﻣﺘﺠﺎﻭﺯﻭﻥ ،
ﻓﺎﻷﺷﺎﻋﺮﺓ ﻓﺌﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ، ﺍﺭﺗﻀﺘﻬﻢ ﺍﻷﻣﺔ ، ﻷﻧﻬﻢ
ﺍﺭﺗﻀﻮﺍ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺼﺪﺭﺍ ﻟﻬﻢ ، ﻭﻻ ﻳﻀﻴﺮﻫﻢ ﺃﻥ ﻳﺨﻄﺌﻮﺍ ﻓﻲ
ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ، ﺃﻭ ﻳﺨﺘﺎﺭﻭﺍ ﺍﻟﺮﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺟﻮﺡ ﺃﻭ ﺣﺘﻰ ﺍﻟﺨﻄﺄ ، ﻓﻬﻢ
ﺑﺸﺮ ﻣﺠﺘﻬﺪﻭﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺼﻮﻣﻴﻦ ، ﻭﻻ ﺗﻮﺟﺪ ﻓﺌﺔ ﺳﻠﻤﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻟﻞ
ﻭﺍﻟﺨﻄﺄ ﻓﻴﻤﺎ ﺍﺟﺘﻬﺪﺕ ﻓﻴﻪ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﺃﻡ ﻓﻲ
ﻣﺴﺎﺋﻞ ﺍﻷﺻﻮﻝ ، ﻭﻛﻞ ﻳﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﻛﻼﻣﻪ ﻭﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻤﻌﺼﻮﻡ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
 

“Siapakah yang membawa panji pembelaan Ahlus sunnah dan tekun memerangi musuh Islam sepanjang masa yang lalu kalau bukan ulama dari Asy’ariyyah dan Maturudiyyah ???

Semua ulama besar dan para imam kita adalah dari kalangan mereka; al-Baqilani, al-Isfaraini, imamul Haramain al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, al-Fakhr ar-Razi, al-Baidhawi, al-Aimidi, asy-Syahrastani, al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiqil Id, Ibnu Sayyydinnas, al-Balqini, al-Iraqi, an-Nawawi, ar-Rafi’i, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan as-Suyuthi. Dari Maroko ada imam ath-Thurthusyi, al-Maziri, al-Baji, Ibnu Rusyd (datukku) dan Ibnul ‘Arabi al-Maliki, al-Qadhi Iyadh, al-Qurthubi, asy-Syathibi dan lainnya. Dari kalangan Hanafiiyyah ada imam al-Khurkhi, al-Jashshas, ad-Dabusi, as-Sarkhasi, as-Samarqandi, al-Kasani, Ibnul Himam, Ibnu Nujaim, at-Tiftizani, al-Bazdawi dan lainnya.


Saudara kita yang mencaci asy’ariyyah secara serampangan, maka mereka adalah salah dan ekstrem. Asy’riyyah adalah sebuah kelompok dari Ahlus sunnah al Jama’ah, yang telah diridhai umat, karena mereka menjunjung al-Quran dan Sunnah sebagai landasan, maka tidaklah membahayakan mereka sedikit kesalahan dalam beberapa masalah, atau mereka memilih pendapat yang lemah atau salah, maka mereka adalah manusia yang berijtihad lagi tidak ma’shum. Tidak akan ditemukan suatu umat yang selamat dari kesalahan ketika berijtihad. Sama ada dalam amsalah furu’ atau masalah usul. Semua pendapat bisa diterima dan bisa ditolak kecuali ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam“.

Demikianlah pandangan seorang cendikiawan muslim Prof. Dr Yusuf al-Qardhawi mengenai dakwah Ikhwanul Muslimin dan Asy’ariyyah.

Lalu tiba -tiba Nuril kiai gereja yang sok tahu mencaci maki IM dalam acara maulid Nabi ?! Menuduh IM dengan tujuan keji dan bangga menceritakan pembantaian IM di Mesir yang hari ini di kecam dunia Internasional ?! Kok ngaku NU Toleran dan Rahmatan lil ‘Alamiin ?! Bahkan sebelum di usir Nuril masih dengan gaya sok tahu menyebut Hizbut Tahrir adalah hasil kawin antara IM dan Wahabi ?!
Sungguh kebodohan bertubi -tubi yang akan kami kupas di tulisan berikutnya. Insya Allah.
Hasbunallah Wa Ni’mal Wakiil


Sumber: NU Garis Lurus (@NuGarisLurus)

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)