14 July 2015

Terimaksih Pak Walikota, izinkan saya sedikit bercerita.

Walikota Depok
Pada posting kali ini, saya akan mengucapkan terimakasih kepada Walikota Depok, Bapak Dr. Ir. H. Nurmahmudi Ismail, M.Sc karena telah mencairkan tunjangan guru wiyata bakti dan uang ketupat untuk tenaga kependidikan Kota Depok pada hari ini, H-2 sebelum hari Raya Idul Fitri.

Setidaknya bagi kami guru wiyata bakti (non PNS) Kota Depok, uang yang mungkin besarnya tidak seberapa (dibandingkan gaji ke-13, kesra dan uang ketupat rekan-rekan kami PNS) sangatlah berarti untuk merayakan lebaran. Mengingat penghasilan guru non PNS yang jauh dibawah UMP meskipun sudah berstatus sarjana S1, namun tanggung jawab dan beban pekerjaan yang sama dengan rekan-rekan kami yang PNS, tentu tambahan transport wiyata bakti ini adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu menjelang hari raya, dimana kami bisa menggunakannya untuk membayar zakat fitrah, membeli baju untuk anak istri, dan sekedar membuat hidangan sederhana saat lebaran nanti.


Memang keberadaan tenaga honorer di setiap lembaga pemerintahan kadang dijadikan "musuh" oleh para pejabat di atas sana. Kami ditakutkan akan menuntut diangkat menjadi PNS, menuntut tunjangan ini-itu dan hal lainnya yang tentu akan memberatkan negara. Padahal keberadaan kami saat ini justru membantu meringankan beban negara. Kami adalah pekerja-pekerja berpendidikan S1 yang bisa dibayar dibawah gaji SPG lulusan SMA. Kami menutup posisi-posisi kosong pada instansi pemerintah karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan tenaga PNS sedangkan tuntutan dari atas kepada sebuah instansi tidak mengenal kompromi.

Misalnya, ketika ada perubahan kurikulum di sekolah negeri, dimana dalam kurikulum harus diajarkan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Bahasa Inggris. Semua buku dan perangkat pembelajaran sudah di tender, dana bantuan sudah disiapkan, lalu apakah pemerintah juga menyiapkan tenaga guru PNS untuk mengajar TIK dan Bahsa Inggris? Tentu tidak ! Sehingga berbekal Manajemen Berbasis Sekolah, Kepala Sekolah mencari tenaga-tenaga guru non PNS yang bisa mengajarkan pelajaran tadi, agar kurikulum bisa dijalankan dengan maksimal. Dari situlah kami muncul sebagai tenaga honorer yang siap membantu menjalankan fungsi instansi-instansi dengan baik dan maksimal serta dengan upah yang jauh dari UMR. Ketika itu kamipun sering diberikan janji syurga; yang sabar bekerja dan terus bertahan,  suatu saat ada pengangkatan bisa ikut diangkat jadi PNS. Ketika dituntut guru harus S1, kami pun diminta kuliah, karena kami merasa wajib dan patuh mengikuti peraturan dari instansi dimana kami mengabdi. Kami mengatur besaran honor kami yang sedikit tadi untuk bisa berkuliah dan mendapatkan gelar S1.

Kemudian Bapak Walikota, saat ini dunia pendidikan sudah semakin berkembang seiring berkembangnya teknologi informasi. Semua serba online, lahirlah aplikasi-aplikasi semacam Dapodik, Padamu Negeri, Bos Online, Pendataan Peserta UN Online, PKG Online, Telekonferensi, SKP yang menggunakan komputerisasi, dan lainnya yang mungkin ada dikemudian hari. Lagi-lagi tuntutan ini harus dijalankan oleh tiap sekolah, karena banyak sanksinya. Tapi tahukah bapak apakah tenaga PNS untuk menjalankan aplikasi-aplikasi dan sistem komputerisasi sudah tersedia pada tingkat sekolah-sekolah? Lalu siapakah yang menjalankan itu semua? Apakah pernah ada formasi penerimaan CPNS khusus untuk menjalankan semua yang online-online tadi? Tidak! Tapi mengapa semuanya bisa berjalan? Kebanyakan kami tenaga honor merangkap menjadi tenaga yang disebut dengan Operator Dapodik Sekolah, dan banyak sekolah lainnya yang kemudian mengangkat lagi tenaga honor yang mampu mengoperasikan itu semua. Lagi-lagi kami bertambah jumlahnya. Jika dikatakan jumlah guru sudah mencukupi, disekolah kami masih kurang guru PNS, padahal sekolah kami berbatasan dengan ibu kota.

Bapak Walikota, saya sendiri tenaga honorer yang diangkat kepala sekolah. Saya diangkat sebagai guru TIK, seiring perkembangan saya pun merangkap menjadi Operator Dapodik Sekolah, lalu ditambah lagi Tata Usaha. Saya mengurusi data mulai dari guru, siswa, Dapodik, PKG, SKP, BOS, Kesra, inventaris sekolah, dll. Semua harus dilakukan dengan baik dan tanpa kesalahan, karena ini menyangkut berjalan atau tidaknya sistem disekolah saya. Kepercayaan yang diberikan Kepala Sekolah dan rekan-rekan kerja kepada saya selalu saya usahakan dengan hasil yang terbaik, meskipun harus berlembur-lembur ria dan bergadang tanpa ada uang lembur. Karena sedikit saja salah, bisa saja sertifikasi guru gagal cair, BOS tertunda, data tidak valid, dan lainnya. Bahkan saking dibutuhkannya, hampir-hampir saya tidak boleh sakit, karena kalau saya sakit sehari dua hari saja, bisa terbengkalai berbagai pekerjaan dan bisa bikin pening Kepala Sekolah. Ini sedikit menggambarkan betapa vitalnya posisi saya yang hanya sebagai tenaga honorer. Ditambah lagi sikap kebanyakan rekan guru PNS yang skeptis dan apatis terhadap TIK membuat semua diserahkan ke Operator Dapodik Sekolah. Meskipun saya cuma tenaga honor, saya yang pegang semua password PTK dan sekolah serta semua softcopy dokumen lho :) (Maksudnya apa coba?)

Ini hanya sekedar cerita saja, mungkin juga tidak akan terbaca oleh Bapak Walikota. Atau mungkin malah dibaca oleh pejabat-pejabat lainnya yang berwenang. Maksud saya, saya ingin tidak ada pejabat-pejabat diatas sana yang mengatakan kepada tenaga honor di instansi manapun dengan perkataan yang menyinggung perasaan kami. Seperti, "Anda jangan menuntut diangkat menjadi PNS!" Karena kami sudah sadar memang sangat mustahil mengangkat tenaga honor jadi PNS, biayanya jauh lebih mahal. Lebih baik dibiarkan terus honor dengan upah murah namun manfaatnya banyak bagi pemerintah. Kami sudah tahu itu, meminjam quote dari Squidward Tentacle tokoh animasi film Sponge Bos Square Pant: "Tak ada yang memperdulikan nasib buruh (pekerja) selama mereka mendapatkan kepuasan secara instan.”

Kemudian perkataan "Jika sudah ada tenaga PNS untuk mengisi suatu posisi dalam instansi, maka tenaga honor harus diberhentikan!" Apa bedanya dengan tenaga kontrak yang tidak mendapat jaminan dapat terus bekerja dan mudah untuk diberhentikan seenaknya? Kita semua "memusuhi" sistem tenaga kontrak, kita semua "memusuhi" perusahaan yang menggaji dengan upah murah. Tapi didepan mata kita, instansi pemerintah (baca negara) masih mengupah tenaga non PNS nya dengan upah jauh lebih murah dari buruh, bahkan tidak ada aturan yang jelasnya dan juga mudah memutus kerja kepada tenaga honornya tanpa melihat berapa lama dia mengabdi dan apa saja yang sudah dia perbuat untuk instansinya, lagi-lagi aturan pesangonnya juga tidak jelas, hanya sekedar ucapan terimakasih saja. Dilihat dari sisi kemanusiaannya, tenaga honor juga punya keluarga yang harus dinafkahi, dan selama ini  sudah banyak waktu terbuang baginya karena terus mengabdi pada pemerintah. Ketika usianya tidak muda lagi untuk bersaing dalam dunia kerja kemudian malah diberhentikan, apakah manusiawi?

Solusi yang terbaik bagaimana? Entah dengan yang lain, kalau saya pribadi cukup pemerintah memberikan jaminan bekerja bagi tenaga honorer sampai usia pensiun dan tidak akan diberhentikan (kecuali melanggar peraturan atau terkena pidana). Kemudian untuk honornya diperbaiki lagi, setidaknya mengikuti UMP. Meskipun tidak ada pensiun dan tunjangan lainnya seperti halnya PNS, saya rasa tenaga honor bisa menerima win-win solusi ini. Toh pensiun bisa disiapkan sendiri lewat DPLK swasta, dan jaminan bekerja yang pasti membuat tenaga honor lebih maksimal dalam bekerja serta bisa mempersiapkan masa depannya.
---
Wah jadi panjang tulisannya, memang kalau sudah menulis bikin lupa waktu, apalagi tulisan ini setengahnya unek-unek saya juga. Tuh Pak Walikota sampai ketiduran bacanya :) Sekali lagi, terimakasih Pak Walikota, Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin!

Tulisan ini saya dedikasikan untuk tenaga honorer yang berkerja pada instansi-instansi pemerintah, khususnya tenaga guru yang telah mengabdi cukup lama namun memiliki nasib yang kurang beruntung.



(Depok-Menjelang Sahur)

Baca Juga Dong...

No comments:

Post a Comment

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)