27 June 2015

Bolehkah Sedekah Karena Allah Lalu Meminta Balasan?

Islam mengajarkan keikhlasan dalam setiap beribadah, namun ikhlas dalam islam bukan berarti kita tidak mengharap balasan/pamrih atas perbuatan baik kita. Ikhlas dalam Islam adalah ketika kita melakukan segala kebaikan karena Allah dan hanya mengharap balasan terbaik dari Allah berupa keridhaan di dunia dan akhirat.

Berbeda dengan orang atheis, ikhlas bagi mereka adalah ketika mereka melakukan kebaikan, mereka tidak mengharapkan balasan/pujian dari manusia apalagi Allah. Karena mereka tidak mengenal Tuhan. Jadi kalau ada yang mengartikan ikhlas itu kita melakukan suatu ibadah/kebaikan dan tidak mengharapkan balasan apa-apa, maka ikhlasnya mirip dengan ikhlas orang atheis.
Allah berfirman dalam surat Al Fatihah ayat 5:

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."

Dalam ayat tersebut jelas sekali menerangkan bahwa kita menyembah (beribadah) diikuti dengan meminta pertolongan. Artinya ketika kita sudah menjalani ibadah kita dengan membesarkan Allah, maka sempurnakanlah dengan hanya meminta kepadaNya. Hal itu menunjukan bahwa kita mengakui kekuasaanNya, kebesaranNya, kekayaanNya, ke Maha PemurahanNya dan kasih sayangNya yang tidak terbatas, dan kita manusia adalah fakir dihadapanNya, oleh karena itu kita meminta/mengemis kepada Raja Alam Semesta yang Maha Segalanya. Meminta juga dapat diartikan sebagai bentuk penghambaan kita kepada Allah.

Ada seorang ustadz kondang di Indonesia yang selalu mengajarkan dan mengajak orang untuk bersedekah, namun setelah itu kok hitung-hitungan dengan balasan sedekah? Apakah boleh? Tentu kita harus melihat konteks dakwah dari ustadz itu, siapa objek dakwahnya dan apa tujuan dakwahnya. Ustadz tersebut adalah ustadz Yusuf Mansyur, atau banyak yang menyebutnya sebagai ustadz sedekah.

Ramai sekali orang baik di dunia nyata maupun dunia maya yang membicarakan cara ustadz ini berdakwah, banyak yang mendukungnya, namun tidak kalah banyak pula yang menjadi haters-nya.Tetapi sebenarnya, apa yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansyur tidak lain dan tidak bukan hanyalah janji Allah dalam surat Al Baqarah ayat 261:

“Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.”

Dalam surat itu balasan orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah adalah 1 biji benih x 7 tangkai x 100 biji = 700 balasan.

Dalam surat Al Anam ayat 160: "Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Itulah yang menjadi dasar ustadz Yusuf Mansyur dalam menyampaikan dakwahnya, mengajak orang memperbanyak sedekah bahkan ketika lagi dalam kesulitan. Ustadz Yusuf Mansyur selalu menekankan balasan dari perbuatan baik (termasuk sedekah tentunya) adalah minimal 10 kali lipat dan bisa sampai 700 kali lipat, sebenarnya itu bukan kata Yusuf Mansyur, tapi Allah sendiri yang mengatakannya dalam Al Quran, apakah perkataan Allah mungkin dusta? Mustahil.

Banyak yang mengkritik Yusuf Mansyur sebagai orang yang perhitungan dalam beramal, amalnya digembar-gemborkan, meskipun kalau saya tanya orang itu, kapan Yusuf Mansyur menyebutkan besaran sedekahnya? Mereka tidak bisa jawab. Paling para haters ini kemudian berkilah: Itu di TV sering lihat testimoni orang mensedekahkan jam rolex, mensedekahkan uang jutaan rupiah, yang diekspos oleh Yusuf Mansyur, bukankah itu riya dan tidak ikhlas?

Bukankah dalam Surat Ad Dhuhaa ayat 11 Allah berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan“.  

"Tahadduts bin ni’mah merupakan istilah yang sudah lazim dipakai untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas anugerah itu ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menceritakan dan menyebut-nyebut kenikmatan pada ayat di atas, pertama kali memang ditujukan khusus untuk Rasulullah saw. Namun, perintah dalam ayat ini tetap berlaku umum berdasarkan kaedah “amrun lir Rasul Amrun li Ummatihi” (perintah yang ditujukan kepada Rasulullah, juga perintah yang berlaku untuk umatnya secara prioritas)." (Kutipan dari Dakwatuna)

Ibnu Katsir mengemukakan dalam kitab tafsirnya, berdasarkan korelasi ayat per ayat dalam surah Ad-Dhuha, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, siarkanlah segala jenis kenikmatan tersebut dengan memujinya, mensyukurinya, menyebutnya, dan menceritakannya sebagai bentuk i’tiraf (pengakuan) atas seluruh nikmat tersebut.” (Kutipan dari Dakwatuna)

Para ulama tafsir sepakat bahwa pembicaraan ayat ini dalam konteks mensyukuri nikmat yang lebih tinggi dalam bentuk sikap dan implementasinya. Az-Zamakhsyari, misalnya, memahami tahadduts bin ni’mah dalam arti mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah dan menyiarkannya. Lebih luas lagi Abu Su’ud menyebutkan, tahadduts bin ni’mah berarti mensyukuri nikmat, menyebarkannya, menampakkan nikmat, dan memberitahukannya kepada orang lain. (Kutipan dari Dakwatuna)

Itulah yang dilakukan orang-orang yang menjadi testimoni Yusuf Mansyur, dimana mereka menceritakan saat mereka dalam keadaan sudah payah (karena kemiskinan, hutang dan lainnya), kemudian mereka bersedekah dan meminta pertolongan Allah, lalu Allah berikan pertolongan berupa kecukupan di dunia dan terbebas dari masalahnya. Ini tentu nikmat yang besar dari Allah, sudah seharusnya diceritakan, disiarkan, disebarkan kepada orang banyak sebagai bentuk i'tiraf (pengakuan) bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah. Lalu apa yang salah?

Objek dakwah Yusuf Mansyur juga banyak dari kalangan pengusaha dan pegawai, dimana tipikal orang-orang tersebut adalah selalu perhitungan dalam pemasukan dan pengeluaran uangnya, selalu menghitung apa yang saya dapat jika saya melakukan ini atau itu?

Oleh karena itu, Yusuf Mansyur selalu mengkampanyekan apa yang disebut matematika sedekah, sesuai ayat diatas dimana kita melihat balasan terkecil dari berbuat baik/sedekah adalah 10 kali lipat. Diuraikannya matematika sedekah tersebut, misal:

100.000 disedekahkan 10.000 sisa 90.000 dibalas Allah (10.000 x 10 kali lipat = 100.000) = 190.000
atau kalau dibuat simpelnya:
10 - 1 = 19
10 - 2 = 28
10 - 3 = 37 dst...dst...
Apakah benar demikian? Kembali ke janji Allah dalam Al Anam ayat 160.

Tapi kalau habis sedekah, lalu kita meminta lagi kepada Allah kan kesannya tidak ikhlas?
Apakah kamu sholat? Setelah sholat apa yang kamu lakukan? Berdoa/meminta, berarti sholat kamu tidak ikhlas. Apakah kamu berpuasa? Setelah berpuasa, saat berbuka kamu meminta? berarti puasa kamu tidak ikhlas. Apakah kamu pergi haji? Sesampainya ditanah suci, ribuan permintaan kamu panjatkan kepada Allah, berarti ibahdah haji kamu tidak ikhlas. Begitu cara pikirnya?

Mengapa setelah sholat boleh meminta, setelah berpuasa boleh meminta, setelah pergi haji boleh meminta, lalu mengapa setelah sedekah tidak boleh meminta? Tidak adilkan.

Apakah kita merasa sudah kaya, sehingga kita tidak mau meminta lagi kepada Allah saat sebagian kekayaan kita belanjakan dijalan Allah? Maka mintalah, karena Allah paling suka dimintai oleh hambanya. Semakin sering meminta, semakin Allah suka.

Ini mungkin bisa dijadikan dasar untuk anda:
”Sesungguhnya orang-orang yang sombong terhadap menyembah-Ku, mereka nanti akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan terhina” (Q.S. Al Mukmin: 60).

Rasulullah saw. bersabda, ”Barang siapa yang tidak meminta kepada-Nya, Allah Swt. akan marah kepadanya” (H.R. Tirmidzi).

Hai manusia, kamulah orang-orang yang butuh kepada Allah Swt. dan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji” (Q.S. Fathir: 15).

Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil agar hanya meminta dan memohon kepada Allah, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”]

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]

Bagaimana kalau kita sedekah lalu kita minta kekayaan?
Silahkan saja, minta syurga saja boleh, minta ampunan dan rahmat Allah saja boleh, padahal itu semua harganya jauh melebihi kekayaan dunia. Dan memang sedekah adalah salah satu cara yang dijanjikan Allah untuk kita keluar dari kesulitan dunia, termasuk himpitan ekonomi karena kemiskinan.

Sedekah yang paling besar balasannya. 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Maka beliau menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
“Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin, dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu menunda sedekah, hingga nyawamu sampai di tenggorokan, barulah kamu berkata, “Ini untuk si fulan dan ini untuk fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si fulan.” (HR. Al-Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1713)

Saat kita takut miskin, maka sedekahlah, dan mohon kepada Allah terlindung dari kemiskinan dan sifat pelit. Saat kita lagi merintis usaha/bisnis, memulai karir didunia kerja, dan terbersit dalam angan-angan kita ingin menjadi orang yang sukses dan kaya, maka sedekahlah dan memohon kepada Allah agar jalan menuju kaya adalah melalui jalan yang baik dan setelah kaya menjadi orang yang dermawan serta kekayaannya digunakan untuk jalan Allah.

Lalu apakah boleh kita bersedekah misalnya 10.000, kemudian berharap Allah membalasnya 10 kali lipat dari uang kita?

Mungkin 2 kisah ini bisa menjawabnya:

Suatu hari Ali ra. Pergi ke pasar dengan uang yang pas-pasan yang hanya cukup untuk beli satu potong roti,namun di tengah jalan beliau di hadang oleh seorang pengemis yang sudah tiga hari belum makan sembari berkata:

“Hai Ali berilah aku sedekah karena sudah tiga hari aku belum makan”

Maka Ali dengan yakinnya langsung memberikan rotinya kepada si pengemis itu. Dan pulanglah Ali ke rumahnya dengan tangan hampa.

Tapi tunggu dulu Anda pasti heran, tanpa sepengetahuan Ali, Allah menunaikan janjiNya dengan menggerakkan orang untuk mengirim roti yang banyak kepada Nabi saw. Yang sedang berada di masjid kemudian Nabi suruh orang untuk mengirimkan roti sejumlah 10 roti kepada Ali.

Sesampainya orang yang disuruh nabi itu kerumah Ali, dan menyampaikan roti dari nabi, maka segera Ali menghitung berapa roti yang didapat setelah dia sedekah satu roti, ternyata hanya 9 roti.

“Kemana yang satunya? tanya Ali kepada orang yang di suruh nabi itu.

Maka dengan terheran-heran orang itu bertanya kepada Ali dari mana dia tahu kalau roti yang harus dia terima adalah 10 roti. Maka Ali menjelaskan bahwa dia baru saja sedekah 1 roti dan janji Allah siapa yang bersedekah 1 bakal di kembalikan 10x lipat. (Kutipan dari arifismantopenuhberkah.wordpress.com)

Kisah lainnya:

Seorang sufi bernama Imam Hasan Al Bashri amat meyakini janji Allah ini. Alkisah, beliau suatu hari kedatangan enam orang tamu. Sebagai seorang muslim, memuliakan tamu adalah halyang diperintahkan agama. Imam menerima tamu dengan wajah sumringah. Semua tamu yang hadir ia persilahkan masuk dan duduk di kursi yang tersedia di ruang depan rumah. Usai semua tamu masuk ke dalam rumah, Imam Hasan pergike dapur. Saat itu, hanya ia dan seorang budaknya yang ada di rumah.Imam Hasan bertanya kepada budaknya,”Makanan apa yang ada di rumah ini hingga bisa dihidangkan untuk tamu-tamuku?” Sang budak, membuka lemari makanan dan tiada yang ia temui selain sepotong roti saja. Ia sampaikan kepada Imam Hasan hal tersebut.

Sedikit berkerut kulit dahi Imam terlihat, pertanda beliau berpikir serius bagaimana cara menghidangkan sepotong roti itu untuk enam orang tamunya. Sejurus kemudian, Imam berkata setelah mengambil sikap, “Sudah begini saja…, bawalah roti itu dan cari orang yang dapat menerimanya sebagai sedekah! Namun jangan lupa hidangkan pula minuman untuk para tamuku!”

Maka pergilah sang budak untuk bersedekah, setelah ia menyuguhkan minuman kepada para tamu Imam Hasan terlebih dahulu. Maka para tamu pun hanya mendapatkan suguhan air putih dari rumah Imam Hasan. Imam Hasan merasa tidak enak hati kepada para tamunya. Tapi dia yakin, bahwa Allah SWT akan membalas amalnya minimal 10 kali lipat.

Biduk asa seolah menjumpai tambatannya. Saat Imam Hasan kedatangan seoran tamu lagi yang datang dengan membawa sebuah nampan. Imam Hasan bangkit dan bergegas menghampirinya. “Assalammualaikum, wahai Imam!” seru orang yang baru saja datang. “Wa’alaikum salam warahatullah…” Imam membalas. “Apa yang kau bawa?” Imam bertanya kepada orang tersebut. “Ini Imam, aku membawakan enam potong roti untuk engkau!” kata orang tersebut dengan senyum terkembang. “Mungkin ini bukan untukku!” Imam Hasan menukas. “Mengapa engkau berkata demikian?” sang tamu bertanya keheranan. “kalau benar ini untukku, pasti jumlahnya sepuluh!” Imam berkata yakin karena ia tahu bahwa Allah akan memberi 10 roti sebagai balasan dari sepotong roti yang telah ia sedekahkan.

Sang tamu merasa aneh. Ia coba untuk memanjangkan leher dan menyapukan pandangan ke dalam rumah Imam Hasan. Sesudah itu ia mengerti bahwa imam sedang kedatangan banyak tamu. Orang itu pun kembali ke rumah. Lalu ia tambahkan lagi empat potong roti sehingga menjadi sepuluh jumlahnya. Kemudian ia angkat nampan yang ia bawa, kemudian ia ayunkan langkah menuju rumah Imam Hasan Al Bashri. Sesampainya di rumah imam, sang tamu kembali mengucapkan salam lalu disambut dan dibalas oleh Imam Hasan. Beliau lalu membuka penutup nampan, kemudian berujar, “Nah…inilah yang dijanjikan Allah padaku!” (Kutipan dari Sedekahbuku.com)

Dari tulisan ini, kesimpulannya adalah apa yang disampaikan Yusuf Mansyur hanyalah pengejawantahan dari ajaran islam tentang bersedekah dan berdoa/meminta kepada Allah. Kalau anda merasa terusik dengan dakwah beliau, hanya ada 2 kemungkianan. Pertama anda adalah seorang "ahli sedekah tingkat makrifat", jadi tidak perlu lagi mendengar dakwah yang demikian. Kedua, anda adalah orang yang kikir, jadi merasa terusik ketika ada seorang ustadz mengkampanyekan gerakan sedekah.

Saran saya, teruslah belajar bersedekah, mungkin diawal-awal sedekah kita masih berat dan penuh hitung-hitungan, tapi yang namanya ibadah ya harus dipaksakan. Dari awalnya terpaksa karena kewajiban sampai akhirnya menjadi kebutuhan dimana kita akan melakukannya dengan hati yang ikhlas dan tujuannya hanya kepada ridho Allah SWT semata.

Terlepas dari pro dan kontra, saya jadi teringat perkataan Yusuf Qharadhawy:
"Mereka hanya mencari kesalahan orang yang bekerja, karena mereka tidak bekerja maka mereka tidak pernah salah"

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)

Wallahu'alam bi showab

Baca Juga Dong...

14 comments:

  1. Anonymous10/3/16 22:40

    ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]

    Berkenaan surat diatas, saya pernah mendengar seorang kyai dan seniman berkata: Ya Allah jika aku beribadah karena ingin masuk syurga Mu, maka tutuplah syurga untuk ku. Dan jika aku beribadah karena takut neraka Mu, maka masukannlah aku ke dalam neraka"

    apakah itu yang dimaksud menyombongkan diri dari menyembah Allah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous31/3/16 12:39

      Semua yang beliau katakan adalah sebuah rasa cinta kepada Allah, karena dari setiap ibadahnya hanya ridho Allah yang diharapkan dan bukan kenikmatan lainnya. Jadi beliau juga termasuk sudah berdo'a kepada Allah. karena apa yang beliau inginkan hanyalah ridho Allah semata. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh beliau yang sudah sangat cinta kepada Allah. Tidak seperti kita yang masih memikirkan masalah duniawi.

      Sedangkan untuk dakwah ustadz Yusuf Mansur lebih difokuskan untuk orang-orang seperti kita yang kebanyakan masih belajar mencintai Allah dan RasulNya.

      Delete
    2. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)

      Islam itu ummat pertengahan, tidak seperti rahib yang meninggalkann dunia, tidak pula seperti kaum materialis yang memuja-muja dunia, dunia dicari untuk akhirat, akhirat dicari dengan dunia.

      Delete
  2. artikelnya bener - bener bagus gan, terkadang saya merasa miris melihat keadaan perekonomian keluarga saya dan saya sering merasa bahwa saya sedikit sulit mendapatkan rezeki. dan setelah membaca artikel agan saya merasa semangat saya terpacu kembali untuk berusaha, berdo'a dan tetap berprasangka baik kepada ALLAH S.W.T.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih gan, sholat, shaum, pergi haji, berbuat baik dengan sesama, termasuk sedekah adalah ibadah yang bisa mendekatkan hamba dengan Allah SWT. Sayang kan disaat dekat kita malah diam aja, tidak meminta kepadaNya, padahal Allah SWT selalu menunggu-nunggu apa yang akan dimohonkan hamba kepadaNya. Setiap permintaan insyaAllah akan dikabulkan dalam bentuk:
      1. Saat itu juga dikabulkan secepatnya
      2. Ditunda sampai waktunya tepat
      3. Diganti dengan yang senilai
      4. Di"tabung" sebagai balasan baik di akhirat

      Delete
  3. Very Helpful, Beberapa Hari Khawatir Akan Hal Ini, Nice Article (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik sedekah karena berharap Allah akan memberikan balasan daripada membayar mahar kepada orang yang mengaku bisa menggandakan uang dengan bantuan jin, bukankah begitu? :)

      Delete
  4. sebenarnya kami sudah enjoy dengan seruan yg dibawa Ustazd YM, namun kami menemui ganjalan yang juga menggunakan ayat Alqur'an, yaitu (Qs Hud ayat 15-16) dan (Qs Syuraa ayat 20), bisakah kami diberi pencerahan agar kami dapat menghalau kegelisahan kami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya kamu bisa cek tafsir surat tersebut di sini:

      http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-hud-ayat-15-16.html

      Konteksnya berbeda, pada ayat tersebut adalah ditujukan kepada orang yang dalam beribadah hanya mengejar dunia semata dan turunnya ayat ini adalah untuk orang Nasrani dan Yahudi, tapi ada pendapat turunnya ayat ini untuk orang-orang yang riya dalam beribadah.

      Contoh seorang rajin sholat, rajin shaum, naik haji, rajin melakukan kebaikan, rajin sedekah, tapi dengan tujuan memperoleh pujian dan derajat yang lebih tinggi dimata manusia saja. Dengan rajinnya dia ibadah kemudian masyarakat "mengangkatnya" menjadi ustadz atau kyai dilingkungannya, dan memang itu tujuan dari orang tersebut. Dengan jadi ustadz atau kyai kemudian jadi dipercaya masyarakat, memiliki kedudukan yang tinggi dan dengan kedudukan itu dia kemudian bisa memperoleh harta dan dunia. Tentu orang seperti ini yang dikatakan akan merugi karena orang tersebut hanya akan mendapatkan apa yang ditujunya, pujian dan jabatan (duniawi)). Ini contoh simpel aja :)

      Sedangkan konteks tulisan saya adalah memohon pertolongan Allah SWT dengan bertawasul menggunakan kebaikan/ibadah, dalam hal ini khususnya kebaikan sedekah. Tapi sebenarnya tidak hanya sedekah saja, bisa saja ketika kita sedang menghadapi kesulitan hidup, kemudian kita mengambil air wudhu lalu sholat sunnah dan setelah itu memohon bantuan kepada Allah sebanyak-banyaknya agar Allah menolong kita.

      Contoh 1: Ada seorang yang memiliki uang tinggal 10 ribu, beras dirumah habis, anak istri belum makan. Uang 10 ribu itu tentu memiliki nilai sangat berarti. Kemudian orang itu malah memberikan uang 10 ribu tadi kepada pengemis, sambil kemudian berdoa "Ya Allah aku sedekahkan uang 10 ribu kepada pengemis karena mengharap keredhaan dan pertolongan Mu, ya Allah bantulah hamba, berilah rizky untuk hamba dan keluarga hamba yang berkan dan mencukupi!" Tentu kita tidak boleh melarang orang berdoa demikian, karena saat itu yang dia butuhkan makanan untuk dia dan keluarganya.

      Contoh 2: Ada juga orang yang memiliki hutang misalnya 10 juta, dia hanya punya uang 1 juta. Besok yang nagih hutang mau datang, sedangkan dia sudah usaha tapi gak dapat-dapat tambahan. Karena sudah "stuck" kemudian dia berikan uang 1 juta itu kepada yayasan yatim, lalu dia berdoa "Ya Allah, saat ini saya butuh uang 10 juta untuk melunasi hutang saya, oleh karena itu saya sedekahkan uang 1 juta dengan harapan Engkau menggantinya 10 kali lipat agar hamba bisa melunasi hutang hamba, kepada siapa lagi hamba harus memohon pertolongan melainkan kepadaMu ya Rabbi...". Berdoa seperti ini juga tidak bisa salahkan kan, meskipun Allah tahu semua hajat hambaNya walaupun hamba itu tidak men-zahir-kannya, tapi dalam berdoa harus tetap disebutkan apa yang kita inginkan, dan saat itu orang tadi memang membutuhkan uang untuk melunasi hutangnya.

      Dua contoh diatas adalah sedekah kemudian meminta hal yang bersifat dunia (makanan dan uang) karena memang hajatnya itu, jangan kita larang. Kalau berdoa seperti itu (minta dunia) dilarang dan hanya boleh minta untuk akhirat, lalu urusan dunia mau minta ke siapa?

      Mungkin karena banyak yang mengajarkan, orang kalau sedekah gak boleh meminta balasan lagi, ikhlas dan lupakan saja, akhirnya banyak orang sedekah, tapi giliran minta kekayaan malah minta ke makam keramat.

      Delete
  5. sangat mencerahkan..
    terima kasih admin kakbayu..
    semoga menjadi amal ibadah.

    ReplyDelete
  6. Anonymous27/7/16 09:08

    “Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin, dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu menunda sedekah, hingga nyawamu sampai di tenggorokan, barulah kamu berkata, “Ini untuk si fulan dan ini untuk fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si fulan.” (HR. Al-Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1713)

    hadits ini sangat menarik :)

    ReplyDelete
  7. Anonymous16/9/16 17:39

    klw kta lg susah lalu kita sedekah dengan menghrpkan agar kesusahan kita dihilangkan sm allah,ap boleh gan seandainya boleh,apakah kita hanya dapat dunia saja krna kita berbuat baik hanya megharapkan dunia,ap btul it gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita yang lebih mengetahui hajat kita dibanding orang lain. Orang lain mungkin mengatakan tidak boleh, tapi memang orang itu tahu apa hajat yang sangat kita butuhkan saat ini?

      Ketika kita lagi susah, memintalah bantuan hanya kepada Allah, lalu perkuat dengan sedekah. Sedekah yang kita keluarkan bisa memudahkan urusan orang lain yang kita berikan sedekah itu, dan janji Allah kepada orang yang memudahkan urusan saudaranya adalah sebagaimana hadits berikut:

      Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

      Berikanlah sedekah kepada fakir miskin atau anak yatim. Dengan begitu berarti kita telah memudahkan urusan mereka. Lalu berdoa misalnya seperti dalam kisah 3 pemuda yang terjebak didalam gua, tentu dengan narasi sesuai dengan hajat yang kita inginkan. Misalnya:

      "Ya Allah, sesungguhnya hamba telah bersedekah karena taat kepada Mu, jikalau hamba mengerjakan yang demikian itu dengan niat benar-benar mengharap ridho Mu, maka bantulah hamba keluar dari kesusahan hidup ini. Aamiin !"

      Dalam islam disyariatkan (dianjurkan) berdoa dengan menyebutkan amalan sholih, dan sedekah adalah salah satu amalan sholih.

      Lalu apakah jika begini kita hanya akan mendapatkan dunia saja? Insya Allah tidak hanya dunia saja, karena dengan meminta kepada Allah saja sudah mendapatkan pahala, menjadikan Allah sebagai tempat bergantung sudah berpahala karena menjalankan tauhid.

      Daripada datang ke paranormal minta pesugihan dengan mahar yang tentu tidak murah dan juga membuat kita musyrik, lebih baik sedekah dan meminta bantuan kepadaNya.

      Wallahu'alam bi showab.

      Delete
  8. Betul kakak bayu, daripada ke Dimas Kanjeng bayar mahar sampai milyaran malah tertipu, mending kepada Allah kita belanjakan harta kita biar berkah

    ReplyDelete

Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik :)